SUBYEK MAJAZI PENDIDIKAN DALAM AL QUR’AN
“NABI KHIDIR GURU NABI MUSA”
Qs. Al-Kahfi ayat 66
Dosen Pengampu : Muhammad Hufron, M.Si
Diajukan Dalam Rangka Penyelesaian Tugas Mata Kuliah Tafsir Tarbawi
Oleh:
Muliana Ulfa (2117272)
Kelas D
JURUSAN TARBIYAH/PAI
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)
PEKALONGAN
2018
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar belakang masalah ................................
B. Rumusan masalah
C. Tujuan penulisan makalah
BAB II PEMBAHASAN
Nabi Musa dan Nabi Khidir......................................................................................................
Dalil
Aplikasi dalam Kehidupan Sehari-hari
Aspek Tarbawi
BAB III PENUTUP
A. Simpulan .............
DAFTAR PUSTAKA
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah swt yang telah memberikan rahmat dan hidayahnya kepada kita semua, sehingga makalah ini dapat terseleslaikan dengan lancar. Shalawat serta salam senantiasa kita curahkan kepada nabi kita, baginda nabi agung Muhammad saw. semoga kita semua termasuk umat beliau yang akan mendapat syafa’atnya di yaumul akhir.
Tidak lupa, pemakalah juga menyampaikan rasa terima kasih sebesar-besarnya kepada kedua orang tua yang telah sepenuhnya memfasilitasi pembuatan makalah ini, kemudian bapak dosen yang telah memberikan bimbingan, serta tema-teman semua yang telah berpartisipasi memberi arahan dan masukan.
Disusunnya makalah ini guna memenuhi tugas Tafsir Tarbawi. Yang mana dalam penyusunan makalah ini tentu masih banyak kekurangan dan kesalahan dalam penulisan ataupun kata yang kurang sempurna. Oleh karena itu, saran dan kritik senantiasa kita harapkan. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca.
Pekalongan, 24 Oktober 2018
Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Islam adalah agama yang diajarkan oleh nabi Muhammad SAW, berpedoman pada kitab suci Al-Qur’an, yang diturunkan ke dunia yang merupakan wahyu Allah SWT. Manna’ Khalil al-Qattan mengatakan, bahwa Al-Qur’an adalah risalah Allah kepada manusia semuanya. Al-Qur’an sebagai petunjuk manusia dalam melakukan berbagai aktivitas, termasuk aktivitas proses belajar mengajar, di yakini mengandung petunjuk tentang cara mewujudkan kondisi belajar menangajar yang baik dan efektif.
Guru sebagai pendidik dan murid sebagai peserta didik merupakan komponen pendidikan yang sangat urgen, mengingat bahwa proses belajar mengajar akan terlaksana dengan adanya interaksi edukatif antara pendidik dan peserta didik.
Begitu pentingnya interaksi guru dan murid, Allah memberikan gambaran akan hal tersebut bukan dalam bentuk doktrin (Larangan dan perintah secara langsung), tetapi dalam bentuk kisah yang hidup. Hal ini yang melatar belakangi penulis menyusun makalah tentang: Pola Hubungan Guru dengan Murid dalam Perspektif al-Qur’an al-Kahfi ayat 66. Yang merupakan salah satu kisah yang menggambarkan akan interaksi antara guru sebagai pendidik dan murid sebagai peserta didik.
Rumusan Masalah
Bagaimana sejarah Nabi Musa dan Nabi Khidir bertemu?
Apa dalil yang menjelaskan Nabi Musa dan Nabi Khidir bertemu?
Bagaimana aplikasi pendidikan dalam kehidupan?
Bagaimana aspek tarbawi?
Tujuan
Mengetahui sejarah Nabi Musa dan Nabi Khidir bertemu.
Mengetahui dalil yang menjelaskan Nabi Musa dan Nabi Khidir bertemu.
Mengetahui aplikasi pendidikan dalam kehidupan.
Mengetahui aspek tarbawi.
BAB II
PEMBAHASAN
Nabi Musa dan Nabi Khidir
Dari Ubay bin Ka’ab, Rasulullah bersabda, “Pada suatu ketika Musa berbicara di hadapan Bani Israil, kemudian ada seseorang yang bertanya, ‘Siapakah orang yang paling pandai itu?’ Musa menjawab, ‘Aku.’ Dengan ucapan itu, Allah mencelanya, sebab Musa tidak mengembalikan pengetahuan suatu ilmu kepada Allah. Kemudian Allah mewahyukan kepada Musa, ‘Sesungguhnya Aku memiliki seorang hamba yang berada di pertemuan antara laut Persia dan Romawi, hamba-Ku itu lebih pandai daripada kamu!’ Musa bertanya, ‘Ya Rabbi, bagaimana caranya agar aku bisa bertemu dengannya?’ Maka dijawab, “Bawalah seekor ikan yang kamu masukkan ke dalam suatu tempat, di mana ikan itu menghilang maka di situlah hamba-Ku itu berada!’ Kemudian Musa pun pergi. Musa pergi bersama seorang pelayan bernama Yusya’ bin Nun. Keduanya membawa ikan tersebut di dalam suatu tempat hingga keduanya tiba di sebuah batu besar. Mereka membaringkan tubuhnya sejenak lalu tertidur. Tiba-tiba ikan tersebut menghilang dari tempat tersebut. Ikan itu melompat mengambil jalannya ke laut. Musa dan pelayannya merasa aneh sekali.
Lalu keduanya terus menyusuri dari siang hingga malam hari. Pada pagi harinya, Musa berkata kepada pelayannya, ‘Bawalah ke mari makanan kita. Sesungguhnya kita telah merasa letih karena perjalanan kita ini.’ (QS. Al-Kahfi: 62)
Musa berkata, ‘Itulah tempat yang kita cari,’ lalu keduanya kembali mengikuti jejak mereka semula.’ (QS. Al-Kahfi: 64). Setibanya mereka di batu tersebut, mereka mendapati seorang lelaki yang tertutup kain, lalu Musa memberi salam kepadanya. Khidir (orang itu) bertanya, ‘Berasal dari manakah salam yang engkau ucapkan tadi?’ Musa menjawab, ‘Aku adalah Musa.’ Khidir bertanya, ‘Musa yang dari Bani Israil?’ Musa menjawab, ‘Benar!’ ‘‘Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?’ Dia menjawab, ‘Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersamaku.’‘ (QS. Al-Kahfi: 66–67)
Khidir berkata, ‘Wahai Musa, aku ini mengetahui suatu ilmu dari Allah yang hanya Dia ajarkan kepadaku saja. Kamu tidak mengetahuinya. Sedangkan engkau juga mempunyai ilmu yang hanya diajarkan Allah kepadamu saja, yang aku tidak mengetahuinya.’
Musa berkata, ‘Insya Allah, kamu akan mendapati aku sebagai seorang yang sabar dan aku tidak akan menentangmu dalam suatu urusan pun.’ (QS. Al-Kahfi: 69) Kemudian, keduanya berjalan di tepi laut. Tiba-tiba lewat sebuah perahu. Mereka berbincang-bincang dengan para penumpang kapal tersebut agar berkenan membawa serta mereka. Akhirnya, mereka mengenali Khidhir, lalu penumpang kapal itu membawa keduanya tanpa diminta upah. Tiba-tiba, seekor burung hinggap di tepi perahu itu, ia mematuk (meminum) seteguk atau dua kali teguk air laut. Kemudian, Khidhir memberitahu Musa, ‘Wahai Musa, ilmuku dan ilmumu tidak sebanding dengan ilmu Allah, kecuali seperti paruh burung yang meminum air laut tadi!’ Khidhir lalu menuju salah satu papan perahu, kemudian Khidhir melubanginya. Melihat kejanggalan ini Musa bertanya, ‘Penumpang kapal ini telah bersedia membawa serta kita tanpa memungut upah, tetapi mengapa engkau sengaja melubangi kapal mereka? Apakah engkau lakukan itu dengan maksud menenggelamkan penumpangnya?’
Khidhir menjawab, ‘Bukankah aku telah berkata, ‘Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sabar bersamaku.’ Musa berkata, ‘Janganlah kamu menghukum aku karena kelupaanku.’’ (QS. Al-Kahfi: 72–73) Itulah sesuatu yang pertama kali dilupakan Musa, kemudian keduanya melanjutkan perjalanan. Keduanya bertemu dengan seorang anak laki-laki sedang bermain bersama kawan-kawannya. Tiba-tiba Khidhir menarik rambut anak itu dan membunuhnya.
Melihat kejadian aneh ini, Musa bertanya, ‘Mengapa kamu membunuh jiwa yang bersih, bukan karena dia membunuh orang lain? Sesungguhnya kamu telah melakukan sesuatu yang mungkar.’ (QS. Al-Kahfi: 74)
Khidhir menjawab, Bukankah sudah aku katakan kepadamu bahwa sesungguhnya kamu tidak akan dapat sabar bersamaku?’ (QS. Al-Kahfi: 75) Maka, keduanya berjalan. Hingga tatkala keduanya sampai kepada penduduk suatu negeri, mereka minta dijamu kepada penduduk negeri itu, tetapi penduduk negeri itu tidak mau menjamu mereka. Kemudian keduanya mendapatkan dalam negeri itu dinding rumah yang hampir roboh.
Khidhir berkata bahwa, melalui tangannya, dia menegakkan dinding itu. Musa berkata, ‘Jikalau kamu mau, niscaya kamu mengambil upah untuk itu.’ Khidhir berkata, ‘Inilah perpisahan antara aku dengan kamu.’‘ (QS. Al-Kahfi: 77–78). Semoga Allah menganugerahkan rahmat kepada Musa ‘alaihis salam. Tentu, kita sangat menginginkan sekiranya Musa dapat bersabar sehingga kita memperoleh cerita tentang urusan keduanya.” (HR. Al-Bukhari no. 122 dan Muslim no. 2380)
Dalil Qs Al-Kahfi ayat 66
قَالَ لَهُۥ مُوسَىٰ هَلْ أَتَّبِعُكَ عَلَىٰٓ أَن تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمْتَ رُشْدًا
Artinya: Musa berkata kepadanya, “Bolehkah aku mengikutimu agar engkau mengajarkan kepadaku (ilmu yang benar) yang telah diajarkan kepadamu (untuk menjadi) petunjuk?”
Tafsir Al-Azhar
Apabila jiwa seseorang telah dipersucikan (tazkiyah) dari pada pengaruh hawa-nafsu dan keinginan yang jahat, sampai bersih murni laksana kaca, maka timbullah nur dalam dirinya dan menerima dia akan nur dari luar; itulah yang disebut Nurun ‘ala nurin! Maka bertambah dekatlah jaraknya dengan Allah dan jadilah dia orang yang muqarrabin. Kalau telah sampai pada maqam yang demikian, mudahlah dia menerima langsung ilmu dari Ilahy. Baik berupa wahyu serupa yang diterima Nabi dan Rasul, atau berupa ilham yang tertinggi martabatnya, yang diterima oleh orang yang shalih.
Dan orang yang telah mencapai martabat yang demikian itu dapat segera dikenal oleh orang yang telah sama berpengalaman dengan dia, walaupun baru sekali bertemu. Sebab sinar dari Nur sama sumber asal tempat datangnya.
Oleh sebab itu baru saja melihat orang itu yang pertama kali, Musa telah tahu bahwa itulah orang yang disuruh Tuhan dia mencarinya. Tidaklah kita heran jika langsung sekali Musa menegornya dengan penuh hormat: ,,Berkata Musa kepadanya: ,,Bolehkah aku mengikuti engkau?” Dengan (syarat) engkau ajarkan kepadaku, dari yang telah diajarkan kepada engkau, sampai aku mengerti?”
Suatu pertanyaan yang disusun demikian rupa sehingga menunjukkan bahwa Musa setelah menyediakan diri menjadi murid dan mengakui dihadapan guru bahwa banyak hal yang dia belum mengerti. Kelebihan ilmu guru itu haraplah diterangkan kepadanya, sampai dia mengerti sebagai seorang murid yang setia.
Tafsir Al-Mishbah
Dalam pertemuan kedua tokoh itu Musa berkata kepadanya, yakni kepada hamba Allah yang memperoleh ilmu khusus itu, “Bolehkah aku mengikutimu secara bersungguh-sungguh supaya engkau mengajarkan kepadaku sebagian dari apa, yakni ilmu-ilmu yang telah diajarkan Allahkepadamu untuk menjadi petunjuk bagiku menuju kebenaran?”
Kata ( أتّبعك) attabi’uka asalnya adalah ( أتبعك) atba’uka dari kata (تبع)tabi’a, yakni mengukuti. Penambahan huruf (ت) ta’ pada kata attabi’ukamengandung makna kesungguhan dalam upaya mengkuti itu. Memang demikianlah seharusnya seorang pelajar, harus bertekad untuk bersungguh-sungguh mencurahkan perhatian, bahkan tenaganya, terhadap apa yang akan dipelajarinya.
Ucapan Nabi Musa as. ini sungguh sangat halus. Beliau tidak menuntut untuk diajar tetapi permintaannya diajukan dalam bentuk petanyaan, “Bolehkah aku mengikutmu?” Selanjutnya beliau menamai pengajaran yang diharapkan itu sebagai ikutan, yakni beliau menjadikan diri beliau sebagai pengikut dan pelajar. Beliau juga menggaris bawahi kegunaan pengajaran itu untuk dirinya secara pribadi, yakni untuk menjadi petunjuk baginya. Di sisi lain, beliau mengisyaratkan keluasan ilmu hampa yang saleh itu sehingga Nabi Musa as. hanya mengharap kiranya dia mengajarkan sebagian dari apa yang telah diajarkan kepadanya. Dalam konteks itu, Nabi Musa as. tidak menyatakan “apa yang engkau ketahuiwahai hamba Allah", karena beliau sepenuhnya sadar bahwa ilmu pastilah bersumber dari satu sumber, yakni dari Allah Yang Maha Mengetahui. Memang Nabi Musa as. dalam ucapannya itu tidak menyebut nama Allah sebagai sumber pengajaran, karena hal tersebut telah merupakan aksioma bagi manusia beriman. Di sisi lain, di sini kita menemukan hamba yang saleh itu juga penuh dengan tata krama.
Aplikasi dalam kehidupan
Mencari ilmu itu tidak ada batasannya semasih kita masih bisa bernafas di dunia ini, janganlah mudah merasa puas atas ilmu yang sudah kita dapatkan sehinga tidak mau lagi mencari ilmu, dan jangan pernah menyombongkan diri karena merasa paling banyak menguasai ilmu-ilmu, karena tak ada seorang pun di dunia ini yang mampu menguasai semua Ilmu.
Jangan merasa menjadi orang yang lebih mulia dari orang lain, karena adakalanya orang yang lebih mulia tidak mengetahui hal yang diketahui oleh orang yang tidak lebih mulia. Sebab kemuliaan itu adalah bagi yang dimuliakan Allah.
Dalam berguru atau menuntut ilmu kepada seseorang handaklah mengikuti segala perintahnya dan jangan membangkang serta bersabarlah atas apa yang dia lakukan kepada kita.
Aspek Tarbawi
Dari kisah Khidir ini kita dapat mengambil pelajaran penting. Di antaranya adalah Ilmu merupakan karunia Allah SWT, tidak ada seorang manusia pun yang boleh mengklaim bahwa dirinya lebih berilmu dibanding yang lainnya. Hal ini dikarenakan ada ilmu yang merupakan anugrah dari Allah SWT yang diberikan kepada seseorang tanpa harus mempelajarinya (Ilmu Ladunni, yaitu ilmu yang dikhususkan bagi hamba-hamba Allah yang shalih dan terpilih)
Hikmah yang kedua adalah kita perlu bersabar dan tidak terburu-buru untuk mendapatkan kebijaksanaan dari setiap peristiwa yang dialami. Hikmah ketiga adalah setiap murid harus memelihara adab dengan gurunya. Setiap murid harus bersedia mendengar penjelasan seorang guru dari awal hingga akhir sebelum nantinya dapat bertindak diluar perintah dari guru. Kisah Nabi Khidir ini juga menunjukan bahwa Islam memberikan kedudukan yang sangat istimewa kepada guru.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Surat Al-Kahfi ayat 66 ini menggambarkan bagaimana etika yang baik antara seorang pendidik dengan anak didiknya. Seorang pendidik harus memiliki kompetensi dan kepribadian yang luhur dalam proses pembelajaran, diantaranya adalah dengan memiliki sikap sabar dalam menghadapi perilaku peserta didiknya. Sedangkan seorang anak didik harus menghormati gurunya yaitu dengan berbicara yang lemah lembut, tidak memaksa, tidak banyak bicara, dan bersikap sabar serta bersungguh-sungguh ketika menuntut ilmu. Penafsiran Surat Al-Kahfi ayat 66 ini ialah mengenai subjek pendidikan. Subjek pendidikan adalah orang yang terlibat secara langsung dan kontinyu dalam proses pendidikan, atau singkatnya ialah pelaku pendidikan itu sendiri. Dalam hal ini mencakup seorang pendidik dan anak didiknya. Di dalam ayat ini diterangkan mengenai interaksi antara pendidik dan anak didiknya. Seorang pendidik hendaklah menuntun anak didiknya dan memberitahu kesulitan-kesulitan yang akan dihadapi dalam menuntut ilmu serta memberi teladan yang baik. Sebaliknya anak didik hendaklah menghormati seorang pendidiknya, karena peran seorang pendidik sangat besar terhadap anak didiknya. Seperti yang telah dicontohkan diatas ketika Nabi Musa ingin berguru dengan Al-Khidhir. Penghormatan yang dilakukan Nabi Musa sebagai murid ialah dengan berbicara lemah lembut, tidak memaksa, tidak banyak bicara, menganggap Khidir lebih tahu daripada dirinya dan bersikap sabar serta bersungguh- sungguh ketika menuntut ilmu. Seperti itulah hendaknya yang dilakukan anak didik terhadap pendidiknya.
DAFTAR PUSTAKA
Hamka, Tafsir Al-Azhar.1982. Surabaya: Yayasan Latimojong.
Muhammad bin Hamid Abdul Wahab, 61 Kisah Pengantar Tidur, Darul Haq, Cetakan VI, 2009
Quraish Shihab. 2002 Tafsir Al-Mishbah. Jakarta: Lentera Hati.
TT. 31 SUBYEK PENDIDIKAN “MAJAZI” Nabi sebagai Suri Teladan (QS. Al-Ahzaab, 33: 21)
SUBYEK PENDIDIKAN “MAJAZI”
Nabi sebagai Suri Teladan
(QS. Al-Ahzaab, 33: 21)
Disusun Guna Memenuhi Tugas Tafsir Tarbawi
Dosen Pengampu : Ghufron Dimyati M.S.I
Oleh:
Adi Pramono (2117260)
Kelas G
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI PEKALONGAN 2018
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, puji syukur ke hadirat Allah swt. Atas izin-Nya makalah yang berjudul “SUBYEK PENDIDIKAN “MAJAZI” Nabi sebagai Suri Teladan (QS. Al-Ahzaab, 33: 21)” ini dapat diselesaikan. Salawat dan salam semoga tercurah kepada baginda Nabi Muhammad saw,sahabatnya,keluarganya, dan umatnya hingga akhir zaman.
Makalah ini dibuat untuk memenuhi mata kuliah Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan. Kami sudah berusaha menyusun makalah ini selengkap mungkin. Kami mengucapkan terima kasih kepada Bapak Ghufron Dimyati M.S.I Yang telah memberikan tugas kepada kami. Kami juga menerima saran dan kritik dari pembaca guna penyempurnaan penulisan makalah mendatang.
Akhirnya, makalah ini diharapkan bisa bermanfaat dan membantu mahasiswa dalam menambah wawasan dan pengetahuan. Amin yaa rabbal ‘alamin.
Pekalongan, 26 Oktober 2018
Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Pendidikan merupakan salah satu elemen trpenying didalam Kehidupan, dimana dengan pendidikan seseorang dapat melihata dan memepelajari suatu kebenaran. Pendidikan tidak akan sukses melainkan harus disertai dengan pemberian contoh teladan yang baik dan nyata. Dalam pendidikan, sebuah keteladanan sangat berpengaruh besar dalam penanaman pendidikan karakter peserta didik yang berjangka panjang. Cara yang demikian telah diajarkan oleh Islam seperti yang dilakukan oleh suri Taukladan kita yakni Rasulullah saw.
Rasulullah SAW merupakan Rasul terakhir yang diutus oleh Allah swt untuk menyempurnakan akhlaq semua umat manusia. Ia mendapat bimbingan dan pengarahan langsung dari Allah melalui Firman-firmannya, tidak ada seorang pun yang lebih mengetahui dan memahami Islam selain Rasulullah Muhammad SAW. Rasulullah saw adalah Suri Tauladan sekaligus pembimbing bagi umat manusia.
Makalah ini akan sedikit mengupas, bagaimana perilaku-perilaku Nabi yang menjadi panutan serta contoh bagi umat manusia agar mencapai derajat orang-orang yang bertaqwa. Sebagaimana yang kita ketahui, di Era Milenial ini banyak sekali budaya-budaya luar yang merengsek masuk kedalam generasi-generasi muda Islam, mereka cenderung memilih budaya-budaya tersebut ketimbang budaya yang diajarkan Rasulullah saw.
Rumusan Masalah
Bagaimana Hakikat Suri Tauladan?
Apa Dalil Nabi Muhammad SAW sebagai Suri Teladan?
Apakah Pendidik merupakan Suri Teladan dan idola bagi peserta didik?
C. Tujuan
Adanya pembahasan mengenai subyek pendidikan “Majazi” yang lebih khususnya “Nabi Suri Teladan”, dalam Qs. Al-Ahzab ayat 21 ini karena didalamnya mengandung banyak nilai penting yang patut kita teladani, diantaranya:
Mahasiswa dapat mengetahui Hakikat Suri Tauladan
Mahasiswa dapat mengetahui dan memahami tafsir dari Qs. Al-Ahzab ayat 21
Mahasiswa dapat mengetahui Bagaimana Pendidik menjadi Suri Teladan dan idola bagi peserta didik
BAB II
PEMBAHASAN
Hakikat Suri Tauladan
Suri Tauladan menurut KBBI berarti Contoh yang baik, atau sesuatu yang pantas untuk ditiru, sesuatu yang patut untuk ditiru atau baik untuk dicontoh (tentang kelakuan, perbuatan, sifat, dan sebagainya. Contoh : Ketekunannya menjadi Teladan bagi teman-temannya
Risalah Islam datang untuk menyempurnakan akhlak yang mulia dan mengajak manusia untuk berlomba-lomba menuju kebajikan serta mewujudkan “yang terbaik” (al-lati hiya ahsan).
Dalam agama Islam, keteladanan akhlak berpusat pada Rasuluallah SAW. dalam setiap perkataan yang berkenaan dengan pembinaan akhlak mulia diikuti pula oleh perbuatan dan kepribadiannya. Beliau dikenal sebagai orang yang shidik (benar), amanah (terpercaya), tabligh (menyampaikan dakwah) , dan fatanah (cerdas).
Kaitannya dengan keteladanan Rasulullah, dalam hal akhlak Beliau menjadi cerminan yang sangat patut untuk ditiru. Dimana orang yang paling berat timbangan amal baiknya di akhirat adalah orang yang paling mulia akhlaknya. Dan orang yang paling sempurna imannya adalah orang yang paling baik akhlaknya. Orang-orang beriman, memuji sikap mereka yang meneladani Nabi Muhammad saw. dua syarat mutlak bagi yang meneladani Rasul saw. Adalah:
1. Keyakinan tentang keniscayaan kiamat sambil mengharap ganjaran-Nya yang tidak dapat diperoleh kecuali menyesuaikan diri dengan tuntunan Nabi-Nya
2. Banyak berdzikir dengan mengaitkan setiap aktivitas dengan Allah swt.
Sosok Nabi Muhammad saw. Dan kepribadian beliau merupakan teladan bagi umat Islam. Dalam soal agama, keteladanan itu merupakan kewajiban, selama tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa itu khusus buat beliau atau tidak wajib. Sedang dalam soal-soal keduaniaan, maka ia merupakan anjuran yang pelaksanaannya terpulang kepada para pakar dibidang masing-masing. Nabi saw. Bersabda: “apa yang kusampaikan menyangkut ajaran agama. Maka terimalah, sedang kamu lebih tahu persoalan keduniaan kamu”
Nabi Muhammad saw. Tercatat dalam tinta emas sejarah sebagai pembawa perubahan dunia yang paling spektakuler, sebagai suri tauladan umat manusia. hanya dalam waktu 23 tahun Nabi Muhammad telah berhasil mendekonstruksi seluruh kehidupan umat manusia yang sarat kezaliman dan kebiadaban, kemudian merekonstruksikanya menjadi sebuah kehidupan yang sarat nilai luhur. Semua kesuksesan Rasul banak ditopang oleh kearifan, keberanian, kesadaran dan keadilan yang didorong oleh semangat menegakkan akhlakul karimah. Sampai Nabi diberi gelar Al-Amin, yangberarti orang yang terpercaya. Gelar ini diberikan setelah melampaui ujian panjang dalam kehidupannya yang tidak pernah ada cacat kebohongan sama sekali, bahkan selau diwarnai kejujuran dan kesantunan.
Allah memberikan penjelasan seara transparan bahwa akhlak Rasulullah sangat layak untuk dijadikan standar modal bagi umatnya, sehingga layak untuk dijadikan idola yang diteladani sebagai uswatun hasanah. Hal ini mengisyaratkan bahwa tidak ada satu “sisi-gelap” pun yang ada pada diri Rasulullah, karena semua isi kehidupannya dapat ditiru dan diteladani. Selain itu juga mengisyaratkan bahwa Rasulullah sengaja diproyeksikan oleh Allah untuk menjadi “lokomotif” akhlak umat manusia secara universal.
Akhlak Rasulullah tercermin lewat semua tindakan, ketentuan,atau perkataannya senantiasa selaras dengan al-Qur’an dan benar-benar merupakan praktek riil dari kandungan al-Qur’an. Semua perintah dilaksanakan, semua larangan dijauhi, dan semua isi al-Qur’an didalamnya untuk dilaksanakannya dalam kehidupan sehari-sehari.
Tarsir Ayat
"Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah."
(QS. Al-Ahzab 33: Ayat 21)
Tafsir Al-Misbah
Surat Al-Ahzab ayat 21 satu ini mengarah kepada orang-orang beriman, memuji sikap mereka yang meneladani Nabi saw. Ayat diatas menyatakan: Sesungguhnya telah ada bagi kamu pada diri Rasulullah yakni Nabi Muhammad saw. suri tauladan yang baik bagi kamu yakni bagi orang yang senantiasa mengaharap rahmat kasih sayang Allah dan kebahagiaan hari kiamat, serta teladan bagi mereka yang berzikir mengingat kepada Allah dan menyebut-nyebut nama-Nya dengan banyak baik dalam suasana susah maupun senang.
Bisa juga ayat ini masih merupakan kecaman kepada orang-orang munafik yang mengaku memeluk Islam, tetapi tidak mencerminkan ajaran Islam. Kecaman itu dikesankan oleh kata laqad. Seakan-akan ayat itu menyatakan: “Kamu telah melakukan aneka kedurhakaan, padahal sesungguhnya ditengah kamu semua ada Nabi Muhammad yang mestinya kamu teladani”.
Kata ((أسوة uswah atau iswah berarti teladan. Pakar tafsir az-Zamakhsyari ketika menafsirkan ayat diatas, mengemukakan dua kemungkinan tentang maksud keteladanan yang terdapat pada diri Rasulullah. Pertama, dalam arti kepribadian beliau secara totalitasnya adalah teladan. Kedua, dalam arti terdapat dalam kepribadian beliau hal-hal yang patut diteladani. Pendapat pertama lebih kuat dan merupakan pilihan banyak ulama’.
‘Abbas Mahmud al-‘Aqqad dalam bukunya ‘Abqariyat Muhammad menjelaskan: Ada empat tipe manusia, yaitu Pemikir, Pekerja, Seniman, dan yang jiwanya larut dalam ibadah. Jarang ditemukan satu pribadi yang berkumpul dalam dirinya dan dalam tingkat yang tinggi dua dari keempat tipe tersebut, dan mustahil keempatnya berkumpul pada diri sesorang. Namun yang mempelajari pribadi Rasul akan menemukan bahwa keempatnya bergabung dalam peringkatnya yang tertinggi pada kepribadian beliau. Berkumpulnya keempat tipe dalam kepribadian Rasul ini, dimaksudkan agar seluruh manusia dapat meneladani sifat-sifat terpuji Rasul.
Tafsir Al-Qurthubi
Dalam ayat ini dibahas tiga masalah, yaitu:
Pertama, Firman Allah SWT, حَسَنَةٌ أُسْوَةٌ اللّٰهِ رَسُوْلِ فِيْ لَكُمْ كاَنَ لَقَدْ “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rassulullah itu suri teladan yang baik bagimu.” Ayat ini juga termasuk sindiran terhadap orang-orang yang absen dari peperangan. Maksudnya adalah, mengapa kalian tidak ikut berperang padahal kalian telah diberiakn contuh yang baik dari Nabi saw, dimana beliau telah berusaha dengan keras untuk memperjuangkan agama Allah dengan cara ikut berperang dalam perang khandak. Sedang menurut Aqabah bin Hassan Al Hijri teladan yang dimaksud pada ayat ini adalah kelaparan yang dirasakan oleh Nabi saw.
Kedua, Firman Allah حَسَنَةٌ أُسْوَةٌ “Suri teladan yang baik” adalah perbuatan Nabi saw dan teladan yang baik yang harus diikuti oleh seorang muslim pada setaip perbuatannya dan pada setiap keadaannya. Para ulama berlainan pendapat mengenai hukum meneladani Nabi Muhammad saw yang tertera pada ayat ini, apakah diwajibkan ataukan hanya disunnahkan saja ? Ada dua pendapat yang berkembang mengenai permasalahan ini, yaitu:
Perintah ini bersifat wajib, kecuali jika ada dalil lain yang mengatakan bahwa perintah ini hanya sunah.
Perintah ini hanya bersifat sunah saja, kecuali ada dalil lain yang menyebutkan bahwa perintah ini wajib.
Namun besar kemungkinan bahwa perintah pada ayat ini diwajibkan pada permasalahan keagamaan, sedangkan untuk masalah keduniaan perintah ini bersifat sunah saja.
Ketiga, firman Allah كَثِيْرًا اللّٰهَ وَذَكَرَ الْأَخِرَ وَالْيَوْمَ اللّهَ يَرْجُوْا كاَنَ لِمَنْ “(Yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) Hari Kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” Sa’id bin Jubair berkata, “Makna firman ini adalah, bagi siapa saja yang mengharapkan bertemu dengan membawa keimanan, meyakini hari kebangkitan dimana seluruh amal perbuatan manusia akan diberi ganjarannya.
Lalu para ulama berbeda pendapat mengenai orang0orang yang dimaksud dari firman ini. ada dua pendapat yang berkembang dikalangan mereka, yaitu:
Mereka yang dimaksud adalah orang-orang munafik, karena ayat ini terhubung dengan ayat-ayat sebelumnya yang berbicara tentang mereka.
Orang-orang yang dimaksud untuk mengambil teladan dari Nabi saw adalah orang-orang yang beriman, karena pada firman selanjutnya disebutkan, الْأَخِرَ وَالْيَوْمَ اللّهَ يَرْجُوْا كاَنَ لِمَنْ “(Yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) Hari Kiamat.”
Tafsir Al-Azhar
Sesudah Allah menrinci keadaan orang-orang munafik dan membeberkan kerendahan sifat pengecut mereka yang besar itu, lalu Dia mencela mereka dengan sangat. Celaan itu diungkapkan oleh Allah dengan cara memberikan penjelasan kepada mereka, bahwa telah ada di dalam diri Rasulullah pelajaran yang baik, senadainya mereka mau mengambil pelajaran, dan teladan yang baik seandainya mereka mau mencontohnya.
Firman Allah dalam surat al-Ahzab ayat 21 ini menunjukkan bahwa sesungguhnya norma-norma yang tinggi dan teladan yang baik itu telah dihadapan kalian, seandainya kalian menghendakinya. Yaitu hendaknya kalian mencontoh Rasulullah saw. Didalam amal perbuatannya, dan hendaknya kalian berjalan sesuai dengan petunjuknya, sendainya kalian benar-benar menghendaki pahala dari Allah serta takut akan azab-Nya di hari semua orang memikirkan dirinya sendiri dan pelindung serta penolong ditiadakan, kecuali amal shaleh yang telah dilakukan seseorang (pada hari kiamat). Dan adalah kalian orang-orang yang selalu ingat kepada Allah dengan ingatan yang banyak, maka sesungguhnya ingat kepada Allah itu seharusnya membimbing kamu untuk taat kepadanya dan mencontoh perbuatan-perbuatan Rasul-Nya.[9]
Pendidik merupakan Suri Teladan dan idola bagi peserta didik
Pada dasarnya perilaku yang dapat di tunjukan oleh peserta didik di pengaruhi oleh latar belakang pndidikan dan pengalaman yang dimiliki oleh seorang guru. Atau dengan kata lain guru mempunyai pengaruh terhadap perubahan peserta didik. Untuk itulah guru harus dapat menjadi contoh suri teladan bagi peserta didik, karena guru adalah refresentatif dari sekelompok orang pada suatu komunitas atau masyarakat yang diharapkan dapat menjadi teladan, yang dapat di gugu dan ditiru.
Keteladanan adalah making something as an example, providing a model yang artinya, menjadikan sesuatu sebagai teladan.
Teladan adalah segala sesuatu yang terkait dengan perkataan, perbuatan, sikap dan prilaku seorang yang dapat di tiru atau di teladani oleh pihak lain. Sedangkan guru atau pendidik adalah pemimpin sejati, pembimbing dan pengarah yang bijak sana, pencetak para tokoh dan pemimpin umat ( isa, 1994 ). Jadi keteladan guru yang baik adalah contoh yang baik dari guru baik yang berhubungan dengan sikap, prilaku, tutur kata, mental, maupun yang terkait dengan akhlak yang moral yang patut dijadikan contoh peserta didik.
Lebih jauh Abdullah Nashi Ulwan dalam Dwiastuti (2006) memberikan resep untuk membentuk keteladanan guru dan orang tua dalam membentuk kepribadian anak, keteladanan anak meliputi kejujuran, amanah, iffah ( menjaga diri dari perbuatan yang tidak diridhoi ), pemberian kasih sayang, perhatian, menyediakan sekolah yang cocok, dan memilihkan teman bagi anaknya.
Jadikan Nabi Muhammad sebagi sentral suri tauladan dalam segala hal terutama dalam soal agama dan berakhlak.
Seorang guru harus bisa menjadi suri tauladan bagi peserta didiknya dan bagi masyarakat sekitarnya.
Seorang guru harus memiliki karakter pemikir, pekerja, multitelent, dan taat beribadah.
Orang yang mengaharap rahmat dan kebaikan di hari kiamat sudah sepatutnya mengikuti suri tauladan Rasulullah dan banyak berdzikir kepada Allah.
Ciri-ciri guru yang baik :
Memahami dan menghormati anak didik
Menyesuaikan metode mengajar dengan bahan pelajaran
Menyesuaikan bahan pelajaran dengan kesiapan dan kesanggupan individu
Mengaktifkan siswa dalam konteks belajar
Memberi pengertian bukan hanya kata-kata belaka
BAB III
PENUTUP
Simpulan
Dalam agama Islam, keteladanan akhlak berpusat pada Rasuluallah SAW. dalam setiap perkataan yang berkenaan dengan pembinaan akhlak mulia diikuti pula oleh perbuatan dan kepribadiannya. Nabi Muhammad saw. Tercatat dalam tinta emas sejarah sebagai pembawa perubahan dunia yang paling spektakuler, sebagai suri tauladan umat manusia.
Orang-orang beriman, memuji sikap mereka yang meneladani Nabi Muhammad saw. dua syarat mutlak bagi yang meneladani Rasul saw. yaitu: Pertama, Keyakinan tentang keniscayaan kiamat sambil mengharap ganjaran-Nya yang tidak dapat diperoleh kecuali menyesuaikan diri dengan tuntunan Nabi-Nya. Kedua, Banyak berdzikir dengan mengaitkan setiap aktivitas dengan Allah swt.
Dari tiga tafsir (Al-Misbah, Al-Qurthubi, dan Al-Maraghi) berintikan mengenai perintah untuk menjadikan Nabi saw sebagai pusat rujukan utama dalam ke-suri-tauladan-an. Baik itu dari segi agama, akhlak, cara hidup, semangat, maupun kearifan Beliau. Selain itu juga agar kita banyak berdzikir kepada Allah SWT.
Seorang guru yang hakikatnya adalah sebagai Pendidik bagi Peserta didiknya haruslah bisa menjaga sikap, dan memberi contoh yang baik. Seorang Guru itu digugu dan ditiru, sudah sepantasnya seoranng guru menjadi tauladan yang baik bagi pesrta didiknya, jangan sampai seorang guru justru mengajarkan hal-hal yang tidak baik
DAFTAR PUSTAKA
Al-Harrani, Ibn Taimiiyyah dan Ibn Qayyim al-Jauziyah. 2002. Cantik Luar Dalam. Jakarta: Serambi.
HYPERLINK "https://kbbi.web.id/teladan" https://kbbi.web.id/teladan
HYPERLINK "https://unismapgsdh.wordpress.com/2015/04/23/guru-sebagai-teladan-bagi-siswa-lilis-nuraeni-411-821-091-30-183/" https://unismapgsdh.wordpress.com/2015/04/23/guru-sebagai-teladan-bagi-siswa-lilis-nuraeni-411-821-091-30-183/
Nata, Abuddin. 2011. Akhlak Tasawuf. Jakarta: Rajawali Pers.
Shihab, M. Quraish. 2012. Al-Lubab (Makna, Tujuan, dan Pelajaran dari Surah-Surah al-Qur’an). Tangerang: Lentera Hati.
Hidayat, Nur. 2013. Akhlak Tasawuf. Yogyakarta: Penerbit Ombak.
Shihab, M. Quraish. 2002. Tafsir Al-Misbah (Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’an). Jakarta: Lentera Hati.
Al Qurthubi, Syaikh Imam. 2009. Tafsir Al Qurthubi. Jakarta: Pustaka Azzam.
Al-Maraghi, Ahmad Mushthafa. 1992. Terjemah Tafsir Al-Maraghi 21. Semarang: PT. Karya Toha Putra Semarang.
Biografi Penulis
Nama : Adi Pramono
Nim : 2117260
TTL : Batang, 25 Maret 1998
Alamat : Dk. Donowodo, Ds. Candigugur RT12/RW05, Bawang, Batang
Riwayat Pendidikan :
1. SDN Candigugur
Nabi sebagai Suri Teladan
(QS. Al-Ahzaab, 33: 21)
Disusun Guna Memenuhi Tugas Tafsir Tarbawi
Dosen Pengampu : Ghufron Dimyati M.S.I
Oleh:
Adi Pramono (2117260)
Kelas G
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI PEKALONGAN 2018
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, puji syukur ke hadirat Allah swt. Atas izin-Nya makalah yang berjudul “SUBYEK PENDIDIKAN “MAJAZI” Nabi sebagai Suri Teladan (QS. Al-Ahzaab, 33: 21)” ini dapat diselesaikan. Salawat dan salam semoga tercurah kepada baginda Nabi Muhammad saw,sahabatnya,keluarganya, dan umatnya hingga akhir zaman.
Makalah ini dibuat untuk memenuhi mata kuliah Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan. Kami sudah berusaha menyusun makalah ini selengkap mungkin. Kami mengucapkan terima kasih kepada Bapak Ghufron Dimyati M.S.I Yang telah memberikan tugas kepada kami. Kami juga menerima saran dan kritik dari pembaca guna penyempurnaan penulisan makalah mendatang.
Akhirnya, makalah ini diharapkan bisa bermanfaat dan membantu mahasiswa dalam menambah wawasan dan pengetahuan. Amin yaa rabbal ‘alamin.
Pekalongan, 26 Oktober 2018
Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Pendidikan merupakan salah satu elemen trpenying didalam Kehidupan, dimana dengan pendidikan seseorang dapat melihata dan memepelajari suatu kebenaran. Pendidikan tidak akan sukses melainkan harus disertai dengan pemberian contoh teladan yang baik dan nyata. Dalam pendidikan, sebuah keteladanan sangat berpengaruh besar dalam penanaman pendidikan karakter peserta didik yang berjangka panjang. Cara yang demikian telah diajarkan oleh Islam seperti yang dilakukan oleh suri Taukladan kita yakni Rasulullah saw.
Rasulullah SAW merupakan Rasul terakhir yang diutus oleh Allah swt untuk menyempurnakan akhlaq semua umat manusia. Ia mendapat bimbingan dan pengarahan langsung dari Allah melalui Firman-firmannya, tidak ada seorang pun yang lebih mengetahui dan memahami Islam selain Rasulullah Muhammad SAW. Rasulullah saw adalah Suri Tauladan sekaligus pembimbing bagi umat manusia.
Makalah ini akan sedikit mengupas, bagaimana perilaku-perilaku Nabi yang menjadi panutan serta contoh bagi umat manusia agar mencapai derajat orang-orang yang bertaqwa. Sebagaimana yang kita ketahui, di Era Milenial ini banyak sekali budaya-budaya luar yang merengsek masuk kedalam generasi-generasi muda Islam, mereka cenderung memilih budaya-budaya tersebut ketimbang budaya yang diajarkan Rasulullah saw.
Rumusan Masalah
Bagaimana Hakikat Suri Tauladan?
Apa Dalil Nabi Muhammad SAW sebagai Suri Teladan?
Apakah Pendidik merupakan Suri Teladan dan idola bagi peserta didik?
C. Tujuan
Adanya pembahasan mengenai subyek pendidikan “Majazi” yang lebih khususnya “Nabi Suri Teladan”, dalam Qs. Al-Ahzab ayat 21 ini karena didalamnya mengandung banyak nilai penting yang patut kita teladani, diantaranya:
Mahasiswa dapat mengetahui Hakikat Suri Tauladan
Mahasiswa dapat mengetahui dan memahami tafsir dari Qs. Al-Ahzab ayat 21
Mahasiswa dapat mengetahui Bagaimana Pendidik menjadi Suri Teladan dan idola bagi peserta didik
BAB II
PEMBAHASAN
Hakikat Suri Tauladan
Suri Tauladan menurut KBBI berarti Contoh yang baik, atau sesuatu yang pantas untuk ditiru, sesuatu yang patut untuk ditiru atau baik untuk dicontoh (tentang kelakuan, perbuatan, sifat, dan sebagainya. Contoh : Ketekunannya menjadi Teladan bagi teman-temannya
Risalah Islam datang untuk menyempurnakan akhlak yang mulia dan mengajak manusia untuk berlomba-lomba menuju kebajikan serta mewujudkan “yang terbaik” (al-lati hiya ahsan).
Dalam agama Islam, keteladanan akhlak berpusat pada Rasuluallah SAW. dalam setiap perkataan yang berkenaan dengan pembinaan akhlak mulia diikuti pula oleh perbuatan dan kepribadiannya. Beliau dikenal sebagai orang yang shidik (benar), amanah (terpercaya), tabligh (menyampaikan dakwah) , dan fatanah (cerdas).
Kaitannya dengan keteladanan Rasulullah, dalam hal akhlak Beliau menjadi cerminan yang sangat patut untuk ditiru. Dimana orang yang paling berat timbangan amal baiknya di akhirat adalah orang yang paling mulia akhlaknya. Dan orang yang paling sempurna imannya adalah orang yang paling baik akhlaknya. Orang-orang beriman, memuji sikap mereka yang meneladani Nabi Muhammad saw. dua syarat mutlak bagi yang meneladani Rasul saw. Adalah:
1. Keyakinan tentang keniscayaan kiamat sambil mengharap ganjaran-Nya yang tidak dapat diperoleh kecuali menyesuaikan diri dengan tuntunan Nabi-Nya
2. Banyak berdzikir dengan mengaitkan setiap aktivitas dengan Allah swt.
Sosok Nabi Muhammad saw. Dan kepribadian beliau merupakan teladan bagi umat Islam. Dalam soal agama, keteladanan itu merupakan kewajiban, selama tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa itu khusus buat beliau atau tidak wajib. Sedang dalam soal-soal keduaniaan, maka ia merupakan anjuran yang pelaksanaannya terpulang kepada para pakar dibidang masing-masing. Nabi saw. Bersabda: “apa yang kusampaikan menyangkut ajaran agama. Maka terimalah, sedang kamu lebih tahu persoalan keduniaan kamu”
Nabi Muhammad saw. Tercatat dalam tinta emas sejarah sebagai pembawa perubahan dunia yang paling spektakuler, sebagai suri tauladan umat manusia. hanya dalam waktu 23 tahun Nabi Muhammad telah berhasil mendekonstruksi seluruh kehidupan umat manusia yang sarat kezaliman dan kebiadaban, kemudian merekonstruksikanya menjadi sebuah kehidupan yang sarat nilai luhur. Semua kesuksesan Rasul banak ditopang oleh kearifan, keberanian, kesadaran dan keadilan yang didorong oleh semangat menegakkan akhlakul karimah. Sampai Nabi diberi gelar Al-Amin, yangberarti orang yang terpercaya. Gelar ini diberikan setelah melampaui ujian panjang dalam kehidupannya yang tidak pernah ada cacat kebohongan sama sekali, bahkan selau diwarnai kejujuran dan kesantunan.
Allah memberikan penjelasan seara transparan bahwa akhlak Rasulullah sangat layak untuk dijadikan standar modal bagi umatnya, sehingga layak untuk dijadikan idola yang diteladani sebagai uswatun hasanah. Hal ini mengisyaratkan bahwa tidak ada satu “sisi-gelap” pun yang ada pada diri Rasulullah, karena semua isi kehidupannya dapat ditiru dan diteladani. Selain itu juga mengisyaratkan bahwa Rasulullah sengaja diproyeksikan oleh Allah untuk menjadi “lokomotif” akhlak umat manusia secara universal.
Akhlak Rasulullah tercermin lewat semua tindakan, ketentuan,atau perkataannya senantiasa selaras dengan al-Qur’an dan benar-benar merupakan praktek riil dari kandungan al-Qur’an. Semua perintah dilaksanakan, semua larangan dijauhi, dan semua isi al-Qur’an didalamnya untuk dilaksanakannya dalam kehidupan sehari-sehari.
Tarsir Ayat
"Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah."
(QS. Al-Ahzab 33: Ayat 21)
Tafsir Al-Misbah
Surat Al-Ahzab ayat 21 satu ini mengarah kepada orang-orang beriman, memuji sikap mereka yang meneladani Nabi saw. Ayat diatas menyatakan: Sesungguhnya telah ada bagi kamu pada diri Rasulullah yakni Nabi Muhammad saw. suri tauladan yang baik bagi kamu yakni bagi orang yang senantiasa mengaharap rahmat kasih sayang Allah dan kebahagiaan hari kiamat, serta teladan bagi mereka yang berzikir mengingat kepada Allah dan menyebut-nyebut nama-Nya dengan banyak baik dalam suasana susah maupun senang.
Bisa juga ayat ini masih merupakan kecaman kepada orang-orang munafik yang mengaku memeluk Islam, tetapi tidak mencerminkan ajaran Islam. Kecaman itu dikesankan oleh kata laqad. Seakan-akan ayat itu menyatakan: “Kamu telah melakukan aneka kedurhakaan, padahal sesungguhnya ditengah kamu semua ada Nabi Muhammad yang mestinya kamu teladani”.
Kata ((أسوة uswah atau iswah berarti teladan. Pakar tafsir az-Zamakhsyari ketika menafsirkan ayat diatas, mengemukakan dua kemungkinan tentang maksud keteladanan yang terdapat pada diri Rasulullah. Pertama, dalam arti kepribadian beliau secara totalitasnya adalah teladan. Kedua, dalam arti terdapat dalam kepribadian beliau hal-hal yang patut diteladani. Pendapat pertama lebih kuat dan merupakan pilihan banyak ulama’.
‘Abbas Mahmud al-‘Aqqad dalam bukunya ‘Abqariyat Muhammad menjelaskan: Ada empat tipe manusia, yaitu Pemikir, Pekerja, Seniman, dan yang jiwanya larut dalam ibadah. Jarang ditemukan satu pribadi yang berkumpul dalam dirinya dan dalam tingkat yang tinggi dua dari keempat tipe tersebut, dan mustahil keempatnya berkumpul pada diri sesorang. Namun yang mempelajari pribadi Rasul akan menemukan bahwa keempatnya bergabung dalam peringkatnya yang tertinggi pada kepribadian beliau. Berkumpulnya keempat tipe dalam kepribadian Rasul ini, dimaksudkan agar seluruh manusia dapat meneladani sifat-sifat terpuji Rasul.
Tafsir Al-Qurthubi
Dalam ayat ini dibahas tiga masalah, yaitu:
Pertama, Firman Allah SWT, حَسَنَةٌ أُسْوَةٌ اللّٰهِ رَسُوْلِ فِيْ لَكُمْ كاَنَ لَقَدْ “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rassulullah itu suri teladan yang baik bagimu.” Ayat ini juga termasuk sindiran terhadap orang-orang yang absen dari peperangan. Maksudnya adalah, mengapa kalian tidak ikut berperang padahal kalian telah diberiakn contuh yang baik dari Nabi saw, dimana beliau telah berusaha dengan keras untuk memperjuangkan agama Allah dengan cara ikut berperang dalam perang khandak. Sedang menurut Aqabah bin Hassan Al Hijri teladan yang dimaksud pada ayat ini adalah kelaparan yang dirasakan oleh Nabi saw.
Kedua, Firman Allah حَسَنَةٌ أُسْوَةٌ “Suri teladan yang baik” adalah perbuatan Nabi saw dan teladan yang baik yang harus diikuti oleh seorang muslim pada setaip perbuatannya dan pada setiap keadaannya. Para ulama berlainan pendapat mengenai hukum meneladani Nabi Muhammad saw yang tertera pada ayat ini, apakah diwajibkan ataukan hanya disunnahkan saja ? Ada dua pendapat yang berkembang mengenai permasalahan ini, yaitu:
Perintah ini bersifat wajib, kecuali jika ada dalil lain yang mengatakan bahwa perintah ini hanya sunah.
Perintah ini hanya bersifat sunah saja, kecuali ada dalil lain yang menyebutkan bahwa perintah ini wajib.
Namun besar kemungkinan bahwa perintah pada ayat ini diwajibkan pada permasalahan keagamaan, sedangkan untuk masalah keduniaan perintah ini bersifat sunah saja.
Ketiga, firman Allah كَثِيْرًا اللّٰهَ وَذَكَرَ الْأَخِرَ وَالْيَوْمَ اللّهَ يَرْجُوْا كاَنَ لِمَنْ “(Yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) Hari Kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” Sa’id bin Jubair berkata, “Makna firman ini adalah, bagi siapa saja yang mengharapkan bertemu dengan membawa keimanan, meyakini hari kebangkitan dimana seluruh amal perbuatan manusia akan diberi ganjarannya.
Lalu para ulama berbeda pendapat mengenai orang0orang yang dimaksud dari firman ini. ada dua pendapat yang berkembang dikalangan mereka, yaitu:
Mereka yang dimaksud adalah orang-orang munafik, karena ayat ini terhubung dengan ayat-ayat sebelumnya yang berbicara tentang mereka.
Orang-orang yang dimaksud untuk mengambil teladan dari Nabi saw adalah orang-orang yang beriman, karena pada firman selanjutnya disebutkan, الْأَخِرَ وَالْيَوْمَ اللّهَ يَرْجُوْا كاَنَ لِمَنْ “(Yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) Hari Kiamat.”
Tafsir Al-Azhar
Sesudah Allah menrinci keadaan orang-orang munafik dan membeberkan kerendahan sifat pengecut mereka yang besar itu, lalu Dia mencela mereka dengan sangat. Celaan itu diungkapkan oleh Allah dengan cara memberikan penjelasan kepada mereka, bahwa telah ada di dalam diri Rasulullah pelajaran yang baik, senadainya mereka mau mengambil pelajaran, dan teladan yang baik seandainya mereka mau mencontohnya.
Firman Allah dalam surat al-Ahzab ayat 21 ini menunjukkan bahwa sesungguhnya norma-norma yang tinggi dan teladan yang baik itu telah dihadapan kalian, seandainya kalian menghendakinya. Yaitu hendaknya kalian mencontoh Rasulullah saw. Didalam amal perbuatannya, dan hendaknya kalian berjalan sesuai dengan petunjuknya, sendainya kalian benar-benar menghendaki pahala dari Allah serta takut akan azab-Nya di hari semua orang memikirkan dirinya sendiri dan pelindung serta penolong ditiadakan, kecuali amal shaleh yang telah dilakukan seseorang (pada hari kiamat). Dan adalah kalian orang-orang yang selalu ingat kepada Allah dengan ingatan yang banyak, maka sesungguhnya ingat kepada Allah itu seharusnya membimbing kamu untuk taat kepadanya dan mencontoh perbuatan-perbuatan Rasul-Nya.[9]
Pendidik merupakan Suri Teladan dan idola bagi peserta didik
Pada dasarnya perilaku yang dapat di tunjukan oleh peserta didik di pengaruhi oleh latar belakang pndidikan dan pengalaman yang dimiliki oleh seorang guru. Atau dengan kata lain guru mempunyai pengaruh terhadap perubahan peserta didik. Untuk itulah guru harus dapat menjadi contoh suri teladan bagi peserta didik, karena guru adalah refresentatif dari sekelompok orang pada suatu komunitas atau masyarakat yang diharapkan dapat menjadi teladan, yang dapat di gugu dan ditiru.
Keteladanan adalah making something as an example, providing a model yang artinya, menjadikan sesuatu sebagai teladan.
Teladan adalah segala sesuatu yang terkait dengan perkataan, perbuatan, sikap dan prilaku seorang yang dapat di tiru atau di teladani oleh pihak lain. Sedangkan guru atau pendidik adalah pemimpin sejati, pembimbing dan pengarah yang bijak sana, pencetak para tokoh dan pemimpin umat ( isa, 1994 ). Jadi keteladan guru yang baik adalah contoh yang baik dari guru baik yang berhubungan dengan sikap, prilaku, tutur kata, mental, maupun yang terkait dengan akhlak yang moral yang patut dijadikan contoh peserta didik.
Lebih jauh Abdullah Nashi Ulwan dalam Dwiastuti (2006) memberikan resep untuk membentuk keteladanan guru dan orang tua dalam membentuk kepribadian anak, keteladanan anak meliputi kejujuran, amanah, iffah ( menjaga diri dari perbuatan yang tidak diridhoi ), pemberian kasih sayang, perhatian, menyediakan sekolah yang cocok, dan memilihkan teman bagi anaknya.
Jadikan Nabi Muhammad sebagi sentral suri tauladan dalam segala hal terutama dalam soal agama dan berakhlak.
Seorang guru harus bisa menjadi suri tauladan bagi peserta didiknya dan bagi masyarakat sekitarnya.
Seorang guru harus memiliki karakter pemikir, pekerja, multitelent, dan taat beribadah.
Orang yang mengaharap rahmat dan kebaikan di hari kiamat sudah sepatutnya mengikuti suri tauladan Rasulullah dan banyak berdzikir kepada Allah.
Ciri-ciri guru yang baik :
Memahami dan menghormati anak didik
Menyesuaikan metode mengajar dengan bahan pelajaran
Menyesuaikan bahan pelajaran dengan kesiapan dan kesanggupan individu
Mengaktifkan siswa dalam konteks belajar
Memberi pengertian bukan hanya kata-kata belaka
BAB III
PENUTUP
Simpulan
Dalam agama Islam, keteladanan akhlak berpusat pada Rasuluallah SAW. dalam setiap perkataan yang berkenaan dengan pembinaan akhlak mulia diikuti pula oleh perbuatan dan kepribadiannya. Nabi Muhammad saw. Tercatat dalam tinta emas sejarah sebagai pembawa perubahan dunia yang paling spektakuler, sebagai suri tauladan umat manusia.
Orang-orang beriman, memuji sikap mereka yang meneladani Nabi Muhammad saw. dua syarat mutlak bagi yang meneladani Rasul saw. yaitu: Pertama, Keyakinan tentang keniscayaan kiamat sambil mengharap ganjaran-Nya yang tidak dapat diperoleh kecuali menyesuaikan diri dengan tuntunan Nabi-Nya. Kedua, Banyak berdzikir dengan mengaitkan setiap aktivitas dengan Allah swt.
Dari tiga tafsir (Al-Misbah, Al-Qurthubi, dan Al-Maraghi) berintikan mengenai perintah untuk menjadikan Nabi saw sebagai pusat rujukan utama dalam ke-suri-tauladan-an. Baik itu dari segi agama, akhlak, cara hidup, semangat, maupun kearifan Beliau. Selain itu juga agar kita banyak berdzikir kepada Allah SWT.
Seorang guru yang hakikatnya adalah sebagai Pendidik bagi Peserta didiknya haruslah bisa menjaga sikap, dan memberi contoh yang baik. Seorang Guru itu digugu dan ditiru, sudah sepantasnya seoranng guru menjadi tauladan yang baik bagi pesrta didiknya, jangan sampai seorang guru justru mengajarkan hal-hal yang tidak baik
DAFTAR PUSTAKA
Al-Harrani, Ibn Taimiiyyah dan Ibn Qayyim al-Jauziyah. 2002. Cantik Luar Dalam. Jakarta: Serambi.
HYPERLINK "https://kbbi.web.id/teladan" https://kbbi.web.id/teladan
HYPERLINK "https://unismapgsdh.wordpress.com/2015/04/23/guru-sebagai-teladan-bagi-siswa-lilis-nuraeni-411-821-091-30-183/" https://unismapgsdh.wordpress.com/2015/04/23/guru-sebagai-teladan-bagi-siswa-lilis-nuraeni-411-821-091-30-183/
Nata, Abuddin. 2011. Akhlak Tasawuf. Jakarta: Rajawali Pers.
Shihab, M. Quraish. 2012. Al-Lubab (Makna, Tujuan, dan Pelajaran dari Surah-Surah al-Qur’an). Tangerang: Lentera Hati.
Hidayat, Nur. 2013. Akhlak Tasawuf. Yogyakarta: Penerbit Ombak.
Shihab, M. Quraish. 2002. Tafsir Al-Misbah (Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’an). Jakarta: Lentera Hati.
Al Qurthubi, Syaikh Imam. 2009. Tafsir Al Qurthubi. Jakarta: Pustaka Azzam.
Al-Maraghi, Ahmad Mushthafa. 1992. Terjemah Tafsir Al-Maraghi 21. Semarang: PT. Karya Toha Putra Semarang.
Biografi Penulis
Nama : Adi Pramono
Nim : 2117260
TTL : Batang, 25 Maret 1998
Alamat : Dk. Donowodo, Ds. Candigugur RT12/RW05, Bawang, Batang
Riwayat Pendidikan :
1. SDN Candigugur
TT. 30 SUBYEK PENDIDIKAN MAJAZI NABI RAHMATAN LIL ALAMIN QS.AL-ANBIYAA’21:107
SUBYEK PENDIDIKAN MAJAZI
NABI RAHMATAN LIL ALAMIN
QS.AL-ANBIYAA’21:107
Disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Tafsir Tarbawi
Dosen pengampu M. Hufron, M.S.I
Disusun oleh :
Festi Alfon Faninda 2117259
Kelas : D
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)
PEKALONGAN
2018
KATA PENGANTAR
Alhamdulilah ,puji syukur kehadirat Allah SWT karena atas nikmat, karunia, dan hidayah-Nya saya dapat menyelesaikan tugas mata kuliah Tafsir Tarbawi yang berjudul “Nabi Rahmatan Lil alamin” dengan sebaik mungkin , saya berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan serta pengetahuan kita mengenai “TafsirTarbawi”. Makalah ini kami buat berdasarkan reverensi yang kami temukan dari berbagai sumber yang ada.
Demikian sedikit pengantar dari saya, semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi yang membacanya.Terima kasih saya ucapkan kepada bapak Muhammad Hufron M SI selaku dosen pembimbing yang telah membimbing kami dalam pembuatan makalah ini, dan saya berharap adanya kritik, saran, dan usulan demi perbaikan makalah yang akan kami buat dilain kesempatan.
Wassalamu’alaikumWarahmatullahiWabarakatuh
Pekalongan,26 Oktober 2018
Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Nabi Muhammad saw adalah pembawa kedamaian ,kesejahteraan, dan pembawa berita gembira sekaligus untuk kemauan mayarakat. Islam agama yang sangat mengajurkan agar hidup penuh dengan kedamaian, oleh karena itu islam memberi ketentuan yang jelas sekiranya terjadi pertentangan antara individu, msyarakat atau dunia secara keseluruhan.
Rahmatan lil alamin itu rasa kasih sayang Allah SWT karunia dan nikmat yang diberikan kepada makhluknya diseluruh alam semesta. Islam mewujudkan sebuah kenikmatan yang berupa rasa kedamaian dan ketentraman bagi manusia dan juga meliputi dimensi kehidupan manusia.
Nabi Muhammad saw sebagai rahmatan lil alamin artinya beliau diutus sebagai rahmatan lil alamin artinya beliau diutus oleh Allah SWT untuk menyebarkan rahmat-Nya dengan cara memperbaiki akhlak. Pada saat itu masyarakat rusak moralnya hingga norma-norma kesusilaannya bahkan jauh menyimpang dari ajaran Allah.
RumusanMasalah
Bagaimana pengertian hakikat rahmat.
Jelaskan dalil Nabi Muhammad SAW sebagai Rahmatan lilAlamin.
Apa saja ayat al quran yang menjelaskan tentang pendidikan penuh kasih sayang.
Tujuan
Untuk mengetahui tentang pengertian hakikat rahmat
Untuk mengetahui tentang dalil Nabi Muhammad SAW sebagai Rahmatan lilAlamin.
Untuk mengetahui ayat al quran yang menjelaskan tentang pendidikan penuh kasih sayang.
BAB II
PEMBAHASAN
Hakikat rahmat
Menurut arti bahasa, bahwa rahmat itu berasal dan kata rahima yang berarti kasih sayang. Adapun yang dimaksud dengan istilah syar’iyyah ialah: kasih sayang (karunia) Allah yang dilimpahkan-Nya kepada semua makhluk-Nya. Rahmat adalah sistem ajaran yang membawa kebahagiaan bagi manusia dan juga mendapatkan rahmat yang lebih penting yaitu adanya kemerdekaan untuk berpikir yang bisa menjadikan akal yang di milikinya tidak takut untuk maju dalam menentukan suatu maju dalam menentukan kebenaran menjadikan suatu keseimbangan di antara kesuburan jasmani dan rohani. Dan juga nabi Muhammad membawa ajaran yang mengandung kemaslahatan baik di dunia maupun diakhirat.
Kepribadian nabi Muhammad saw.sehingga menjadikan sikap, ucapan, perbuatan, bahkan seluruh seluruh totalitas beliau adalah rahmat, bertujuan mempersamakan totalitas beliau dengan ajaran yang beliau sampaikan, karena ajaran beliau adalah rahmat menyeluruh dan menyatu ajaran dan penyampai ajaran, menyatu risalah dan rasul, dan karena itu pula rasul saw.
Rahmatan lil alamin adalah bahwa sementara pakar memahami kata alam dalam arti kumpulan sejenis makhluk allah yang hidup, baik hidup sempurna maupun terbatas. Rahmat itu terpenuhilah hajat batin manusia untuk meraih ketenangan, ketenteraman, serta pengakuan atas wujud, bakat, dan fitrahnya, sebagaimana terpenuhi pula hajat keluarga kecil dan besar,menyangkut perlindungan, bimbingan dan pengawasan serta saling pengertian dan penghormatan.
Dalil Rahmatan lil alamin
ؤماار سلنك الارحمةللعلمين(107)
Artinya:’’Dan kami tidak mengutusmu (wahai rasul),melainkan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam.(QS.AL-ANBIYYA 21:107)
Tafsiran
Tafsir Al Maraghi
Tidaklah kami mengutusmu dengan membawa pelajaran ini dan yang serupa dengannya berupa syari’at dan hukum yang merupakan sumber kebahagiaan di dunia dan akhirat, kecuali agar kamu menjadi rahmat dan petunjuk bagi manusia dalam urusan dunia dan akhirat.Hal ini dapat di jelaskan, bahwa Rasulullah SAW diutus dengan membawa ajaran yang mengandung kemaslatan di dunia dan akhirat. Hanya saja, orang kafir tidak mau memanfaatkannya dan berpaling darinya akibat kesiapan dan tabiatnya yang telah rusak, tidak menerima rahmat ini, sehingga dia tidak merasakan kebahagiaan dalam urusan agama maupun urusan dunia.
Tafsir Al Mishbah
Ayat yang lalu menegaskan bahwa al qur’an merupakan peringatan, atau bekal menuju kebahagiaan abadi serta kecukupan bagi siapa yang siap untuk menjadi pengabdi yang tulus kepada Allah swt. Al qur’an turun kepada Nabi Muhammad SAW. Untuk beliau sampaikan kepada umat manusia.Dapat juga dikatakan karena tema utama surah ini tentang kenabian, dan namanya pun adalah al anibiyya yang menguraikan kisah dan keistmewaan enam belas orang diantara mereka, diakhiri dengan keistimewaan Nabi Isa as.Dan beliau, maka sangat wajar pula bila keistimewaan Nabi Muhammad SAW.Keistimewaan tersebut adalah kepribadian beliau merupakan rahmat disamping ajaran-ajaran yang beliau sampaikan dan diterapkan.Ayat ini menyebut empat hal pokok :
Rasul /utusan Allah dalam ini Muhammad SAW
yang mengutuskan beliau dalam hal ini Allah.
yang diutus kepada mereka (al-alamin).
risalah, yang kesemuanya mengisyaratnya,yakni rahmat yang sifatnya sangat besar sebagaimana dipahami dari bentuk nakirah/indifinitif.
Sebagaimana sabda beliau:”aku didik oleh tuhanku maka sungguh baik hasil pendidikannya”kepribadian beliau dibentuk sehingga bukan hanya pengetahuan yang allah limpahkan kepada beliau melalui ayat-ayat al qur’an,tetapi kelabu beliau di sinari, bahkan totalitas wujud beliau merupakan rahmat bagi seluruh alam dengan beliau merupakan rahmtun muhdab sebagaimana pengakuan beliau yang diriwayatkan oleh Muhammad ibn thahir al-maqdasi melalui abu hurairah yakni beliau adalah rahmat yang dihaiakan oleh allah kepada seluruh alam.
Tafsir ibnu katsir
Firman Allah Ta’ala “Dan tidaklah kami mengutus kamu melainkan sebagai rahmat bagi semesta alam. “Allah ta’ala memberitahukan bahwa Dia menjadikan nabi Muhammad SAW. Barang siapa yang menerima rahmat ini dan mensyukuri nikmat in, maka berbahagialah dia di dunia dan diakhirat.
Rahmat macam apakah yang dapat diperoleh yang kafir kepadanya jawabnya iaalah keterangan yang diriwayatkan oleh abu ja’far bin jarir ibnu abbas , sehubungan dengan firman allah,”dan tidaklah kami mengutusmu melainkan sebagai rahmat bagi semesta alam”,yaitu barang siapa yang beriman kepada allah dan hari akhir maka ditetapkanlah baginya rahmat di dunia dan akhirat. Dan barang siapa yang tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya maka dia di hindarkan dari musibah yang menimpa umat terdahulu berupa penenggelaman dalam bumi dan hujan batu.
Pendidikan Penuh Kasih Sayang
Dalam hal pendidikan, kasih sayang harus mendasari semua upaya dalam membawa anak menuju tujuannya yaitu kedewasaan. Orang tua sudah seharusnya menumpahkan kasih sayang terhadap anaknya selama mereka membimbingnya sampai mencapai dewasa. Begitu juga guru sebagai pendidik, harus menyadari bahwa kasih sayang merupakan syarat mutlak dalam melakukan interaksi dengan anak didiknya. Tanpa kasih sayang, pendidikan tidak akan bermakna apa-apa. Rasulullah sendiri merupakan pendidik yang penuh kasih sayang. Beliau merupakan seorang yang halus perasaanya dan penyayang. Seorang pendidik harus mempermudah peerta didik dan tidak mempersulit peserta didik, karena Islam sendiri merupakan agama kasih sayang, mudah, dan damai.
D. Aspek Tarbawi
Sebagai seorang pendidik senantiasa menjadi pendidik yang penuh kasih sayang, tidak mudah marah, dan selalu memudahkan peserta didik.
Sebagai seorang siswa senantiasa belajar dengan baik dan rajin.
Senantiasa menyayangi alam dan tidak merusaknya.
BAB III
PENUTUPAN
KESIMPULAN
Nabi Muhammad saw merupakan pembawa rahmatan lil alamin yaitu pembawa rahmat bagi seluruh makhluk yang ada di alam semesta, yaitu bagi seluruh muslimin dan untuk manusia yang menaati beliau, tak terkecuali bagi tumbuhan dan hewan. Kedatangannya membawa kebahagiaan dan kesejahteraan bagi umatnya. Dengan perilaku beliau yang baik kepada seluruh orang muslimin maupun non muslim mampu mewujudkan suasana kedamaian, ketentraman dan kesejahteraan. Dalam hal mendidik nabi Muhammad merupakan pendidik yang penuh kasih sayang, terlihat beliau tidak pernah mempersulit dan selalu mempermudah, serta perkataan beliau yang lembut dan tenang sehingga dapat dipahami dengan mudah.
DAFTAR PUSTAKA
HYPERLINK "http://teguhsupriyadi.blogspot.com/2011/02/nabi-muhammad-saw-pembawa%20-rahmatan-lil.html" http://teguhsupriyadi.blogspot.com/2011/02/nabi-muhammad-saw-pembawa -rahmatan-lil.html
Mustafa, Ahmad. 1993. al-maragi,terjemah tafsir al maragi, Semarang: Toha putra.
Nasib, Muhammad. 1999. Ar –Rifa’I,Tafsir Ibnu Katsir. Jakarta :Gema insani press.
Shihab, M.Quraish. 2002. tafsir al-mishbah. Jakarta: Lentera hati.
Biodata diri
Nama : Festi Alfon Faninda
Alamat : Ds.Beji Kec.Tulis Kab.Batang
Hobi : Menyanyi,memasak
Tempat tanggal lahir : Batang,15 April 1999
Jurusan : PAI
RIWAYAT SEKOLAH
RA Masyithoh Beji
SD NEGERI BEJI 02
SMP 2 TULIS
Madrasah Aliyah Negeri Batang
NABI RAHMATAN LIL ALAMIN
QS.AL-ANBIYAA’21:107
Disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Tafsir Tarbawi
Dosen pengampu M. Hufron, M.S.I
Disusun oleh :
Festi Alfon Faninda 2117259
Kelas : D
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)
PEKALONGAN
2018
KATA PENGANTAR
Alhamdulilah ,puji syukur kehadirat Allah SWT karena atas nikmat, karunia, dan hidayah-Nya saya dapat menyelesaikan tugas mata kuliah Tafsir Tarbawi yang berjudul “Nabi Rahmatan Lil alamin” dengan sebaik mungkin , saya berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan serta pengetahuan kita mengenai “TafsirTarbawi”. Makalah ini kami buat berdasarkan reverensi yang kami temukan dari berbagai sumber yang ada.
Demikian sedikit pengantar dari saya, semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi yang membacanya.Terima kasih saya ucapkan kepada bapak Muhammad Hufron M SI selaku dosen pembimbing yang telah membimbing kami dalam pembuatan makalah ini, dan saya berharap adanya kritik, saran, dan usulan demi perbaikan makalah yang akan kami buat dilain kesempatan.
Wassalamu’alaikumWarahmatullahiWabarakatuh
Pekalongan,26 Oktober 2018
Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Nabi Muhammad saw adalah pembawa kedamaian ,kesejahteraan, dan pembawa berita gembira sekaligus untuk kemauan mayarakat. Islam agama yang sangat mengajurkan agar hidup penuh dengan kedamaian, oleh karena itu islam memberi ketentuan yang jelas sekiranya terjadi pertentangan antara individu, msyarakat atau dunia secara keseluruhan.
Rahmatan lil alamin itu rasa kasih sayang Allah SWT karunia dan nikmat yang diberikan kepada makhluknya diseluruh alam semesta. Islam mewujudkan sebuah kenikmatan yang berupa rasa kedamaian dan ketentraman bagi manusia dan juga meliputi dimensi kehidupan manusia.
Nabi Muhammad saw sebagai rahmatan lil alamin artinya beliau diutus sebagai rahmatan lil alamin artinya beliau diutus oleh Allah SWT untuk menyebarkan rahmat-Nya dengan cara memperbaiki akhlak. Pada saat itu masyarakat rusak moralnya hingga norma-norma kesusilaannya bahkan jauh menyimpang dari ajaran Allah.
RumusanMasalah
Bagaimana pengertian hakikat rahmat.
Jelaskan dalil Nabi Muhammad SAW sebagai Rahmatan lilAlamin.
Apa saja ayat al quran yang menjelaskan tentang pendidikan penuh kasih sayang.
Tujuan
Untuk mengetahui tentang pengertian hakikat rahmat
Untuk mengetahui tentang dalil Nabi Muhammad SAW sebagai Rahmatan lilAlamin.
Untuk mengetahui ayat al quran yang menjelaskan tentang pendidikan penuh kasih sayang.
BAB II
PEMBAHASAN
Hakikat rahmat
Menurut arti bahasa, bahwa rahmat itu berasal dan kata rahima yang berarti kasih sayang. Adapun yang dimaksud dengan istilah syar’iyyah ialah: kasih sayang (karunia) Allah yang dilimpahkan-Nya kepada semua makhluk-Nya. Rahmat adalah sistem ajaran yang membawa kebahagiaan bagi manusia dan juga mendapatkan rahmat yang lebih penting yaitu adanya kemerdekaan untuk berpikir yang bisa menjadikan akal yang di milikinya tidak takut untuk maju dalam menentukan suatu maju dalam menentukan kebenaran menjadikan suatu keseimbangan di antara kesuburan jasmani dan rohani. Dan juga nabi Muhammad membawa ajaran yang mengandung kemaslahatan baik di dunia maupun diakhirat.
Kepribadian nabi Muhammad saw.sehingga menjadikan sikap, ucapan, perbuatan, bahkan seluruh seluruh totalitas beliau adalah rahmat, bertujuan mempersamakan totalitas beliau dengan ajaran yang beliau sampaikan, karena ajaran beliau adalah rahmat menyeluruh dan menyatu ajaran dan penyampai ajaran, menyatu risalah dan rasul, dan karena itu pula rasul saw.
Rahmatan lil alamin adalah bahwa sementara pakar memahami kata alam dalam arti kumpulan sejenis makhluk allah yang hidup, baik hidup sempurna maupun terbatas. Rahmat itu terpenuhilah hajat batin manusia untuk meraih ketenangan, ketenteraman, serta pengakuan atas wujud, bakat, dan fitrahnya, sebagaimana terpenuhi pula hajat keluarga kecil dan besar,menyangkut perlindungan, bimbingan dan pengawasan serta saling pengertian dan penghormatan.
Dalil Rahmatan lil alamin
ؤماار سلنك الارحمةللعلمين(107)
Artinya:’’Dan kami tidak mengutusmu (wahai rasul),melainkan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam.(QS.AL-ANBIYYA 21:107)
Tafsiran
Tafsir Al Maraghi
Tidaklah kami mengutusmu dengan membawa pelajaran ini dan yang serupa dengannya berupa syari’at dan hukum yang merupakan sumber kebahagiaan di dunia dan akhirat, kecuali agar kamu menjadi rahmat dan petunjuk bagi manusia dalam urusan dunia dan akhirat.Hal ini dapat di jelaskan, bahwa Rasulullah SAW diutus dengan membawa ajaran yang mengandung kemaslatan di dunia dan akhirat. Hanya saja, orang kafir tidak mau memanfaatkannya dan berpaling darinya akibat kesiapan dan tabiatnya yang telah rusak, tidak menerima rahmat ini, sehingga dia tidak merasakan kebahagiaan dalam urusan agama maupun urusan dunia.
Tafsir Al Mishbah
Ayat yang lalu menegaskan bahwa al qur’an merupakan peringatan, atau bekal menuju kebahagiaan abadi serta kecukupan bagi siapa yang siap untuk menjadi pengabdi yang tulus kepada Allah swt. Al qur’an turun kepada Nabi Muhammad SAW. Untuk beliau sampaikan kepada umat manusia.Dapat juga dikatakan karena tema utama surah ini tentang kenabian, dan namanya pun adalah al anibiyya yang menguraikan kisah dan keistmewaan enam belas orang diantara mereka, diakhiri dengan keistimewaan Nabi Isa as.Dan beliau, maka sangat wajar pula bila keistimewaan Nabi Muhammad SAW.Keistimewaan tersebut adalah kepribadian beliau merupakan rahmat disamping ajaran-ajaran yang beliau sampaikan dan diterapkan.Ayat ini menyebut empat hal pokok :
Rasul /utusan Allah dalam ini Muhammad SAW
yang mengutuskan beliau dalam hal ini Allah.
yang diutus kepada mereka (al-alamin).
risalah, yang kesemuanya mengisyaratnya,yakni rahmat yang sifatnya sangat besar sebagaimana dipahami dari bentuk nakirah/indifinitif.
Sebagaimana sabda beliau:”aku didik oleh tuhanku maka sungguh baik hasil pendidikannya”kepribadian beliau dibentuk sehingga bukan hanya pengetahuan yang allah limpahkan kepada beliau melalui ayat-ayat al qur’an,tetapi kelabu beliau di sinari, bahkan totalitas wujud beliau merupakan rahmat bagi seluruh alam dengan beliau merupakan rahmtun muhdab sebagaimana pengakuan beliau yang diriwayatkan oleh Muhammad ibn thahir al-maqdasi melalui abu hurairah yakni beliau adalah rahmat yang dihaiakan oleh allah kepada seluruh alam.
Tafsir ibnu katsir
Firman Allah Ta’ala “Dan tidaklah kami mengutus kamu melainkan sebagai rahmat bagi semesta alam. “Allah ta’ala memberitahukan bahwa Dia menjadikan nabi Muhammad SAW. Barang siapa yang menerima rahmat ini dan mensyukuri nikmat in, maka berbahagialah dia di dunia dan diakhirat.
Rahmat macam apakah yang dapat diperoleh yang kafir kepadanya jawabnya iaalah keterangan yang diriwayatkan oleh abu ja’far bin jarir ibnu abbas , sehubungan dengan firman allah,”dan tidaklah kami mengutusmu melainkan sebagai rahmat bagi semesta alam”,yaitu barang siapa yang beriman kepada allah dan hari akhir maka ditetapkanlah baginya rahmat di dunia dan akhirat. Dan barang siapa yang tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya maka dia di hindarkan dari musibah yang menimpa umat terdahulu berupa penenggelaman dalam bumi dan hujan batu.
Pendidikan Penuh Kasih Sayang
Dalam hal pendidikan, kasih sayang harus mendasari semua upaya dalam membawa anak menuju tujuannya yaitu kedewasaan. Orang tua sudah seharusnya menumpahkan kasih sayang terhadap anaknya selama mereka membimbingnya sampai mencapai dewasa. Begitu juga guru sebagai pendidik, harus menyadari bahwa kasih sayang merupakan syarat mutlak dalam melakukan interaksi dengan anak didiknya. Tanpa kasih sayang, pendidikan tidak akan bermakna apa-apa. Rasulullah sendiri merupakan pendidik yang penuh kasih sayang. Beliau merupakan seorang yang halus perasaanya dan penyayang. Seorang pendidik harus mempermudah peerta didik dan tidak mempersulit peserta didik, karena Islam sendiri merupakan agama kasih sayang, mudah, dan damai.
D. Aspek Tarbawi
Sebagai seorang pendidik senantiasa menjadi pendidik yang penuh kasih sayang, tidak mudah marah, dan selalu memudahkan peserta didik.
Sebagai seorang siswa senantiasa belajar dengan baik dan rajin.
Senantiasa menyayangi alam dan tidak merusaknya.
BAB III
PENUTUPAN
KESIMPULAN
Nabi Muhammad saw merupakan pembawa rahmatan lil alamin yaitu pembawa rahmat bagi seluruh makhluk yang ada di alam semesta, yaitu bagi seluruh muslimin dan untuk manusia yang menaati beliau, tak terkecuali bagi tumbuhan dan hewan. Kedatangannya membawa kebahagiaan dan kesejahteraan bagi umatnya. Dengan perilaku beliau yang baik kepada seluruh orang muslimin maupun non muslim mampu mewujudkan suasana kedamaian, ketentraman dan kesejahteraan. Dalam hal mendidik nabi Muhammad merupakan pendidik yang penuh kasih sayang, terlihat beliau tidak pernah mempersulit dan selalu mempermudah, serta perkataan beliau yang lembut dan tenang sehingga dapat dipahami dengan mudah.
DAFTAR PUSTAKA
HYPERLINK "http://teguhsupriyadi.blogspot.com/2011/02/nabi-muhammad-saw-pembawa%20-rahmatan-lil.html" http://teguhsupriyadi.blogspot.com/2011/02/nabi-muhammad-saw-pembawa -rahmatan-lil.html
Mustafa, Ahmad. 1993. al-maragi,terjemah tafsir al maragi, Semarang: Toha putra.
Nasib, Muhammad. 1999. Ar –Rifa’I,Tafsir Ibnu Katsir. Jakarta :Gema insani press.
Shihab, M.Quraish. 2002. tafsir al-mishbah. Jakarta: Lentera hati.
Biodata diri
Nama : Festi Alfon Faninda
Alamat : Ds.Beji Kec.Tulis Kab.Batang
Hobi : Menyanyi,memasak
Tempat tanggal lahir : Batang,15 April 1999
Jurusan : PAI
RIWAYAT SEKOLAH
RA Masyithoh Beji
SD NEGERI BEJI 02
SMP 2 TULIS
Madrasah Aliyah Negeri Batang
TT G.27 SUBYEK PENDIDIKAN HAKIKI “ALLAH MENGAJAR NABI ADAM AS”
SUBYEK PENDIDIKAN HAKIKI
“ALLAH MENGAJAR NABI ADAM AS”
Disusun guna memenuhi tugas
Mata Kuliah : Tafsir Tarbawi D
Dosen Pengampu : Muhammad Hufron, M.SI
Disusun Oleh :
I’anatul Maula (2117250)
Kelas D
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI PEKALONGAN
2016
KATA PENGANTAR
Bismillahirrahmanirrahim
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Alhamdulillah, puji syukur kehadirat Allah SWT karena atas nikmat, karunia, dan hidayah-Nya, saya dapat menyelesaikan tugas mata kuliah Tafsir Tarbawi yang berjudul “Allah Mengasjar Nabi Adam AS” dengan sebaik mungkin, saya berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan serta pengetahuan kita mengenai “Tafsir Tarbawi”. Makalah ini kami buat berdasarkan reverensi yang kami temukan dari berbagai sumber yang ada.
Demikian sedikit pengantar dari saya, semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi yang membacanya. Terimakasih saya ucapkan kepada bapak Muhammad Hufron M Si selaku dosen pembimbing yang telah membimbing kami dalam pembuatan makalah ini, dan saya berharap adanya kritik, saran, dan usulan demi perbaikan makalah yang akan kami buat dilain kesempatan.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Pekalongan, Oktober 2018
Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Dalam Al-Qur’an dapat dilihat bahwa setelah Allah menyatakan Adam sebagai khalifah di muka bumi. Allah mengajarkan kepada Adam dan semua keturunannya ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan sangat dibutuhkan oleh manusia untuk mencapai kebahagiaan hidup, baik di dunia maupun di akhirat. Dengan ilmu pengetahuan itu, manusia dapat melaksanakan tugasnya dalam kehidupan ini, baik tugas khalifah maupun tugas ubudiah.
Hal itu menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan itu memang benar-benar urgen dalam kehidupan manusia, terutama orang yang beriman. Tanpa ilmu pengetahuan, seorang mukmin tidak dapat melaksanakan aktivitasnya dengan baik. Oleh karena itu, Rasulullah menyuruh, menganjurkan, dan memotivasi umatnya agar menuntut ilmu pengetahuan.
Mencari ilmu adalah suatu aktivitas yang memiliki tantangan. Orang yang mampu menghadapi tantangan itu adalah orang yang memiliki keikhlasan dan semangat rela berkorban. Orang yang mencari ilmu dengan ikhlas akan dibantu oleh Allah dan akan dimudahkan baginya jalan menuju surga.
Dengan mengetahui bagaimana pentingnya ilmu pengetahuan itu, maka makalah ini akan akan membahas mengenai QS Al-Baqarah ayat 31. Dengan tujuan agar pembaca dapat lebih mengetahui lagi bagaimana pentingnya ilmu pengetahuan dan bagimana ilmu pengetahuan itu bisa ada.
Rumusan Masalah.
1. Bagaimana Kisah Nabi Adam AS mendapatkan ilmu ?
2. Jelaskan Dalil Allah SWT tentang mengajarkan kepada nabi Adam AS ?
3. Jelaskan Tentang Ilmu yang dimiliki manusia.
Tujuan.
1.Untuk mengetahui Nabi Adam AS mendapatkan Ilmu.
2.Untuk mengetahui Dalil Allah Swt mengajar ilmu kepada Adam AS
3.Untuk mengetahui Ilmu yang miliki manusia.
BAB II
PEMBAHASAN
A.Nabi Adam AS Mendapat Ilmu.
Nabi Adam AS adalah manusia pertama,ia adalah makhluk yang teramat cerdas,sangat dimuliakan oleh Allah,memiliki kelebihan yang sempurna dibandingkan makhluk yang lain. Adam diciptakan oleh Allah dari segumpal tanah liat yang kering dan lumpur hitam yang dibentuknya,maka ditiupkanlah roh kedalamnya sehingga ia dapat bergerak dan menjadi manusia yang sempurna.
Allah menyebut kemuliaan kedudukan nabi Adam a.s karena Allah memberinya ilmu nama dari segala benda dan itu terjadi sesudah sujudnya para malaikat kepada Adam,dan didahului pasal ini sesuai dengan pertanyaan para malaikat tentang hikmat pengangkatan khalifah dibumi yang langsung bahwa allah mengetahui apa yang tidak mereka ketahui. Juga untuk menerangkan kelebihan Adam dengan ilmunya itu.
Dalil Allah SWT Mengajarkan Ilmu Kepada Nabi Adam AS.
QS. Al-Baqarah Ayat: 31
وَعَلَّمَ آدَمَ الأسْمَاءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلائِكَةِ فَقَالَ أَنْبِئُونِي بِأَسْمَاءِ هَؤُلاءِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ
Artinya :
“Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya,kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman, ‘Sebutkanlah kepada-Ku nama-nama benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar’.”
Tafsir Ayat dari Buku
Ada beberapa tafsiran mengenai QS Al-Baqarah ayat : 31, diantaranya :
Tafsir Al-Maraghi
وَعَلَّمَ آدَمَ الأسْمَاءَ كُلَّهَا
Yang dimaksud dengan al-asma’ adalah nama-nama Allah, yakni nama-nama yang telah kita ketahui dan kita imani wujud-Nya. Sengaja digunakan istilah al-asma’ karena hubungannya kuat antara yang menamakan dan yang dinamai. Allah SWT telah mengajari Nabi Adam berbagai nama makhluk yang telah diciptakan-Nya. Kemudian Allah memberinya ilham untuk mengetahui eksistensi nama-nama tersebut. Juga keistimewaan-keistimewaan, cirri-ciri khas dan istilah-istilah yang dipakai.
ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلائِكَةِ
Artinya, Kemudian Adam mengajarkan kepada para Malaikat beberapa nama tersebut secara ijmal dengan penyampaian berdasarkan ilham atau yang sesuai. Di dalam pengajaran dan penuturan Adam kepada para Malaikat terkandung tujuan memuliakan kedudukan Adam dan terpilihnya Adam sebagai khalifah. Dengan demikian, para Malaikat tidak lagi merasa tinggi diri. Sekaligus merupakan penunjukan ilmu Allah yang hanya dianugerahkan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya.
فَقَالَ أَنْبِئُونِي بِأَسْمَاءِ هَؤُلاءِ
Para Malaikat dituntut untuk menyebutkan nama-nama tersebut, tetapi mereka tidak akan mungkin mampu mengatakannya. Hal ini karena mereka sama sekali belum pernah mengetahuinya. Dalam ayat ini terkandung isyarat bahwa memegang tampuk khalifah, mengatur kehidupannya, menata peraturan-peraturannya, dan menegakkan keadilan selama di dunia ini diperlukan pengetahuan khusus yang membidangi masalah kekhalifahan, disamping adanya bakat untuk terjun di bidang ini.
إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ
Artinya, Apabila ada sesuatu hal yang membuat kalian heran mengenai khalifah yang diserahkan kepada manusia, dan kalian pun mempunyai dugaan kuat yang disertai bukti, maka silahkan kalian menyebut nama-nama yang Aku sebutkan dihadapan kalian.
Jadi, pengertian ayat tersebut seolah-olah mengatakan kepada Malaikat, “Kalian tidak mengetahui rahasia-rahasia apa yang kalian maksudkan. Jadi, bagaimana kalian berani mengatakan sesuatu yang belum kalian ketahui”.
Kata Haula’i terkandung suatu makna bahwa ketika Nabi Adam menyebutkan nama-nama tersebut, adalah menyebut nama-nama benda yang dapat dijangkau alat indra, seperti burung-burung, margasatwa, dan jenis-jenis hewan yang ada dihadapannya.
Tafsir Al Azhar
“Dan telah diajarkanNya kepada Adam nama-namanya semuanya.” (pangkal ayat 31)
Artinya diberikan oleh Allah kepada Adam itu semua ilmu:
“Kemudian Dia kemukaakan semuanya kepada Malaikat. Lalu Dia berfirman: Beritakanlah kepadaKu nama-nama itu semua, jika adalah kamu makhluk-makhluk yang benar.” (ujung ayat 31).
Sesudah Adam dijadikan, kepadanya telah diajarkan oleh Allah nama-nama yang dapat dicapai oleh kekuatan manusia, baik dengan panca indra ataupun dengan akal semata-mata, semuanya diajarkan kepadanya. Kemudian Tuhan panggillah Malaikat-malaikat itu dan Tuhan tanyakan adakah mereka tahu nama-nama itu?
“Mereka menjawab : Maha Suci Engkau! Tidak ada pengetahuan bagi kami, kecuali apa yang Engkau ajarkan kepada kami. Karena sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Tahu, lagi Maha bijaksana.” (ayat 32).
Di sini nampak penjawaban Malaikat yang mengakui kekurangan mereka. Tidak ada pada mereka pengetahuan, kecuali apa yang diajarkan Tuhan juga. Mereka memohon ampun dan karunia menjunjung kesucian Allah bahwasanya pengetahuan mereka tidak lebih daripada apa yang diajarkan juga. Yang mengetahui akan semua hanya Allah. Yang bijaksana membagi-bagikan ilmu kepada barang siapa yang Dia kehendaki.
Merenungi dari ayat ini, ahli-ahli tafsir dan kerohanian Islam mendapat kesimpulan bahwasanya dengan menjadikan manusia, Allah memperlengkap pernyataan kuasaNya.
Tafsir Ibnu Katsier
Di sini Allah menyebut kemuliaan kedudukan Nabi Adam a.s. karena Allah memberinya ilmu nama dari segala benda dan itu terjadi sesudah sujudnya para Malaikat kepada Adam, dan didahului pasal ini sesuai dengan pertanyaan para malaikat tetang hikmat pengangkatan khalifah di bumi yang langsung bahwa Allah mengetahui apa yang tidak mereka ketahui. Juga untuk menerangkan kelebihan Adam dengan ilmunya.
Allama Aadam al asma’a kullah. Ibnu Abbas berkata, “Mengajarkan kepada Adam nama-nama semua benda yang akan dijadikan amnusia, binatang dan lain-lainnya dari segala keperluan hajat manusia di dunia ini.”
Anas r.a. berkata, Nabi Saw. Bersabda, “Kelak pada hari kiamat akan berkumpul semua kaum mukminin, kemudian mereka berkata, Andaikan kita mendapat syafi’ yang dapat menyampaikan hal kita kepada Tuhan, lalu mereka pergi kepada Adam dan berkata, Engkau ayah dari semua manusia, Allah telah menjadikan engkau langsung dengan tangan-Nya, dan memerintahkan kepada Malaikat supaya sujud kepadamu, dan mengajarkan kepadamu nama segala sesuatu maka berikan syafaatmu kepada Tuhan untuk meringankan kami dari penderitaan ini. Jawab Nabi Adam, “Bukan bagianku”” (HR. Bukhari, Muslim, an-Nasa’i, Ibnu Majah).
Ilmu Yang dimiliki Manusia
Ilmu adalah salah satu sifat Allah, karena sifat itulah Dia disebut dengan ‘Alim (Yang Maha Tahu). Dia adalah sumber utama ilmu. Segala pengetahuan yang diperoleh manusia merupakan anugerah-Nya. Ilmu Allah tidak terbatas, manusia hanya memperoleh sedikit saja daripadanya. Ilmu pengetahuan yang dimiliki manusia merupakan ilmu dan pengetahuan yang telah diajarkan-Nya.
Al-Qur’an menggambarkan, ada dua cara Tuhan mengajar manusia, yaitu pengajaran langsung yang disebut dengan wahyu atau ilham dan pengajaran tidak langsung. Cara yang terakhir ini berati, bahwa Allah mengajar manusia melalui media yaitu fenomena alam yang Dia ciptakan.
Maka pelajarilah Al-Qur’an dan alam niscaya manusia akan mendapatkan ilmu, ketenangan serta kebahagiaan dunia dan akhirat. Namun, Allah juga mengingatkan manusia agar mempelajari semua itu berangkat atau bermula dari Tuhan (bismi rabbik), supaya ilmu yang diperoleh tidak melahirkan kesombongan dan arogansi. Terdapat lima keutamaan orang yang menuntut ilmu, yaitu:
Mendapat kemudahan untuk menuju surga.
Disenangi oleh para malaikat.
Dimohonkan ampun oleh makhluk Allah yang lain.
Lebih utama daripada ahli ibadah.
Menjadi pewaris Nabi.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Ilmu berarti memahami hakikat sesuatu, atau memahami hukum yang berlaku atas sesuatu. Ilmu pengetahuan sangat dibutuhkan oleh manusia untuk mencapai kebahagiaan hidup, baik di dunia maupun di akhirat. Dengan ilmu pengetahuan itu, manusia dapat melaksanakan tugasnya dalam kehidupan ini, baik tugas khalifah maupun tugas ubudiah. Orang yang mencari ilmu dengan ikhlas akan dibantu oleh Allah dan akan dimudahkan baginya jalan menuju surga.
Allah adalah sumber utama ilmu. Segala pengetahuan yang diperoleh manusia merupakan anugerah-Nya. ada dua cara Tuhan mengajar manusia, yaitu pengajaran langsung yang disebut dengan wahyu atau ilham dan pengajaran tidak langsung. Ilmu yang diperoleh tidak boleh melahirkan keegoisan, arogansi, dan tinggi hati.
DAFTAR PUSTAKA
M. Yusuf, Kadar. 2013. Tafsir Tarbawi (Pesan-Pesan Al-Qur’an Tentang Pendidikan). Jakarta: Amzah.
Umar, Bukhari. 2014. Hadis Tarbawi (Pendidikan dalam Perspektif Hadis). Jakarta: Amzah.
Al-Maraghy, Ahmad Musthafa. 1985. Terjemah Tafsir Al-Maraghy. Semarang: Toha Putra.
Hamka. 2001. Tafsir Al Azhar Juz 1. Jakarta: CV Pustaka Panjimas.
Katsier, Ibnu. 1987. Terjemah Singkat Tafsir Ibnu Katsier. Surabaya: PT Bina Ilmu Offset.
“ALLAH MENGAJAR NABI ADAM AS”
Disusun guna memenuhi tugas
Mata Kuliah : Tafsir Tarbawi D
Dosen Pengampu : Muhammad Hufron, M.SI
Disusun Oleh :
I’anatul Maula (2117250)
Kelas D
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI PEKALONGAN
2016
KATA PENGANTAR
Bismillahirrahmanirrahim
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Alhamdulillah, puji syukur kehadirat Allah SWT karena atas nikmat, karunia, dan hidayah-Nya, saya dapat menyelesaikan tugas mata kuliah Tafsir Tarbawi yang berjudul “Allah Mengasjar Nabi Adam AS” dengan sebaik mungkin, saya berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan serta pengetahuan kita mengenai “Tafsir Tarbawi”. Makalah ini kami buat berdasarkan reverensi yang kami temukan dari berbagai sumber yang ada.
Demikian sedikit pengantar dari saya, semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi yang membacanya. Terimakasih saya ucapkan kepada bapak Muhammad Hufron M Si selaku dosen pembimbing yang telah membimbing kami dalam pembuatan makalah ini, dan saya berharap adanya kritik, saran, dan usulan demi perbaikan makalah yang akan kami buat dilain kesempatan.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Pekalongan, Oktober 2018
Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Dalam Al-Qur’an dapat dilihat bahwa setelah Allah menyatakan Adam sebagai khalifah di muka bumi. Allah mengajarkan kepada Adam dan semua keturunannya ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan sangat dibutuhkan oleh manusia untuk mencapai kebahagiaan hidup, baik di dunia maupun di akhirat. Dengan ilmu pengetahuan itu, manusia dapat melaksanakan tugasnya dalam kehidupan ini, baik tugas khalifah maupun tugas ubudiah.
Hal itu menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan itu memang benar-benar urgen dalam kehidupan manusia, terutama orang yang beriman. Tanpa ilmu pengetahuan, seorang mukmin tidak dapat melaksanakan aktivitasnya dengan baik. Oleh karena itu, Rasulullah menyuruh, menganjurkan, dan memotivasi umatnya agar menuntut ilmu pengetahuan.
Mencari ilmu adalah suatu aktivitas yang memiliki tantangan. Orang yang mampu menghadapi tantangan itu adalah orang yang memiliki keikhlasan dan semangat rela berkorban. Orang yang mencari ilmu dengan ikhlas akan dibantu oleh Allah dan akan dimudahkan baginya jalan menuju surga.
Dengan mengetahui bagaimana pentingnya ilmu pengetahuan itu, maka makalah ini akan akan membahas mengenai QS Al-Baqarah ayat 31. Dengan tujuan agar pembaca dapat lebih mengetahui lagi bagaimana pentingnya ilmu pengetahuan dan bagimana ilmu pengetahuan itu bisa ada.
Rumusan Masalah.
1. Bagaimana Kisah Nabi Adam AS mendapatkan ilmu ?
2. Jelaskan Dalil Allah SWT tentang mengajarkan kepada nabi Adam AS ?
3. Jelaskan Tentang Ilmu yang dimiliki manusia.
Tujuan.
1.Untuk mengetahui Nabi Adam AS mendapatkan Ilmu.
2.Untuk mengetahui Dalil Allah Swt mengajar ilmu kepada Adam AS
3.Untuk mengetahui Ilmu yang miliki manusia.
BAB II
PEMBAHASAN
A.Nabi Adam AS Mendapat Ilmu.
Nabi Adam AS adalah manusia pertama,ia adalah makhluk yang teramat cerdas,sangat dimuliakan oleh Allah,memiliki kelebihan yang sempurna dibandingkan makhluk yang lain. Adam diciptakan oleh Allah dari segumpal tanah liat yang kering dan lumpur hitam yang dibentuknya,maka ditiupkanlah roh kedalamnya sehingga ia dapat bergerak dan menjadi manusia yang sempurna.
Allah menyebut kemuliaan kedudukan nabi Adam a.s karena Allah memberinya ilmu nama dari segala benda dan itu terjadi sesudah sujudnya para malaikat kepada Adam,dan didahului pasal ini sesuai dengan pertanyaan para malaikat tentang hikmat pengangkatan khalifah dibumi yang langsung bahwa allah mengetahui apa yang tidak mereka ketahui. Juga untuk menerangkan kelebihan Adam dengan ilmunya itu.
Dalil Allah SWT Mengajarkan Ilmu Kepada Nabi Adam AS.
QS. Al-Baqarah Ayat: 31
وَعَلَّمَ آدَمَ الأسْمَاءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلائِكَةِ فَقَالَ أَنْبِئُونِي بِأَسْمَاءِ هَؤُلاءِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ
Artinya :
“Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya,kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman, ‘Sebutkanlah kepada-Ku nama-nama benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar’.”
Tafsir Ayat dari Buku
Ada beberapa tafsiran mengenai QS Al-Baqarah ayat : 31, diantaranya :
Tafsir Al-Maraghi
وَعَلَّمَ آدَمَ الأسْمَاءَ كُلَّهَا
Yang dimaksud dengan al-asma’ adalah nama-nama Allah, yakni nama-nama yang telah kita ketahui dan kita imani wujud-Nya. Sengaja digunakan istilah al-asma’ karena hubungannya kuat antara yang menamakan dan yang dinamai. Allah SWT telah mengajari Nabi Adam berbagai nama makhluk yang telah diciptakan-Nya. Kemudian Allah memberinya ilham untuk mengetahui eksistensi nama-nama tersebut. Juga keistimewaan-keistimewaan, cirri-ciri khas dan istilah-istilah yang dipakai.
ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلائِكَةِ
Artinya, Kemudian Adam mengajarkan kepada para Malaikat beberapa nama tersebut secara ijmal dengan penyampaian berdasarkan ilham atau yang sesuai. Di dalam pengajaran dan penuturan Adam kepada para Malaikat terkandung tujuan memuliakan kedudukan Adam dan terpilihnya Adam sebagai khalifah. Dengan demikian, para Malaikat tidak lagi merasa tinggi diri. Sekaligus merupakan penunjukan ilmu Allah yang hanya dianugerahkan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya.
فَقَالَ أَنْبِئُونِي بِأَسْمَاءِ هَؤُلاءِ
Para Malaikat dituntut untuk menyebutkan nama-nama tersebut, tetapi mereka tidak akan mungkin mampu mengatakannya. Hal ini karena mereka sama sekali belum pernah mengetahuinya. Dalam ayat ini terkandung isyarat bahwa memegang tampuk khalifah, mengatur kehidupannya, menata peraturan-peraturannya, dan menegakkan keadilan selama di dunia ini diperlukan pengetahuan khusus yang membidangi masalah kekhalifahan, disamping adanya bakat untuk terjun di bidang ini.
إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ
Artinya, Apabila ada sesuatu hal yang membuat kalian heran mengenai khalifah yang diserahkan kepada manusia, dan kalian pun mempunyai dugaan kuat yang disertai bukti, maka silahkan kalian menyebut nama-nama yang Aku sebutkan dihadapan kalian.
Jadi, pengertian ayat tersebut seolah-olah mengatakan kepada Malaikat, “Kalian tidak mengetahui rahasia-rahasia apa yang kalian maksudkan. Jadi, bagaimana kalian berani mengatakan sesuatu yang belum kalian ketahui”.
Kata Haula’i terkandung suatu makna bahwa ketika Nabi Adam menyebutkan nama-nama tersebut, adalah menyebut nama-nama benda yang dapat dijangkau alat indra, seperti burung-burung, margasatwa, dan jenis-jenis hewan yang ada dihadapannya.
Tafsir Al Azhar
“Dan telah diajarkanNya kepada Adam nama-namanya semuanya.” (pangkal ayat 31)
Artinya diberikan oleh Allah kepada Adam itu semua ilmu:
“Kemudian Dia kemukaakan semuanya kepada Malaikat. Lalu Dia berfirman: Beritakanlah kepadaKu nama-nama itu semua, jika adalah kamu makhluk-makhluk yang benar.” (ujung ayat 31).
Sesudah Adam dijadikan, kepadanya telah diajarkan oleh Allah nama-nama yang dapat dicapai oleh kekuatan manusia, baik dengan panca indra ataupun dengan akal semata-mata, semuanya diajarkan kepadanya. Kemudian Tuhan panggillah Malaikat-malaikat itu dan Tuhan tanyakan adakah mereka tahu nama-nama itu?
“Mereka menjawab : Maha Suci Engkau! Tidak ada pengetahuan bagi kami, kecuali apa yang Engkau ajarkan kepada kami. Karena sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Tahu, lagi Maha bijaksana.” (ayat 32).
Di sini nampak penjawaban Malaikat yang mengakui kekurangan mereka. Tidak ada pada mereka pengetahuan, kecuali apa yang diajarkan Tuhan juga. Mereka memohon ampun dan karunia menjunjung kesucian Allah bahwasanya pengetahuan mereka tidak lebih daripada apa yang diajarkan juga. Yang mengetahui akan semua hanya Allah. Yang bijaksana membagi-bagikan ilmu kepada barang siapa yang Dia kehendaki.
Merenungi dari ayat ini, ahli-ahli tafsir dan kerohanian Islam mendapat kesimpulan bahwasanya dengan menjadikan manusia, Allah memperlengkap pernyataan kuasaNya.
Tafsir Ibnu Katsier
Di sini Allah menyebut kemuliaan kedudukan Nabi Adam a.s. karena Allah memberinya ilmu nama dari segala benda dan itu terjadi sesudah sujudnya para Malaikat kepada Adam, dan didahului pasal ini sesuai dengan pertanyaan para malaikat tetang hikmat pengangkatan khalifah di bumi yang langsung bahwa Allah mengetahui apa yang tidak mereka ketahui. Juga untuk menerangkan kelebihan Adam dengan ilmunya.
Allama Aadam al asma’a kullah. Ibnu Abbas berkata, “Mengajarkan kepada Adam nama-nama semua benda yang akan dijadikan amnusia, binatang dan lain-lainnya dari segala keperluan hajat manusia di dunia ini.”
Anas r.a. berkata, Nabi Saw. Bersabda, “Kelak pada hari kiamat akan berkumpul semua kaum mukminin, kemudian mereka berkata, Andaikan kita mendapat syafi’ yang dapat menyampaikan hal kita kepada Tuhan, lalu mereka pergi kepada Adam dan berkata, Engkau ayah dari semua manusia, Allah telah menjadikan engkau langsung dengan tangan-Nya, dan memerintahkan kepada Malaikat supaya sujud kepadamu, dan mengajarkan kepadamu nama segala sesuatu maka berikan syafaatmu kepada Tuhan untuk meringankan kami dari penderitaan ini. Jawab Nabi Adam, “Bukan bagianku”” (HR. Bukhari, Muslim, an-Nasa’i, Ibnu Majah).
Ilmu Yang dimiliki Manusia
Ilmu adalah salah satu sifat Allah, karena sifat itulah Dia disebut dengan ‘Alim (Yang Maha Tahu). Dia adalah sumber utama ilmu. Segala pengetahuan yang diperoleh manusia merupakan anugerah-Nya. Ilmu Allah tidak terbatas, manusia hanya memperoleh sedikit saja daripadanya. Ilmu pengetahuan yang dimiliki manusia merupakan ilmu dan pengetahuan yang telah diajarkan-Nya.
Al-Qur’an menggambarkan, ada dua cara Tuhan mengajar manusia, yaitu pengajaran langsung yang disebut dengan wahyu atau ilham dan pengajaran tidak langsung. Cara yang terakhir ini berati, bahwa Allah mengajar manusia melalui media yaitu fenomena alam yang Dia ciptakan.
Maka pelajarilah Al-Qur’an dan alam niscaya manusia akan mendapatkan ilmu, ketenangan serta kebahagiaan dunia dan akhirat. Namun, Allah juga mengingatkan manusia agar mempelajari semua itu berangkat atau bermula dari Tuhan (bismi rabbik), supaya ilmu yang diperoleh tidak melahirkan kesombongan dan arogansi. Terdapat lima keutamaan orang yang menuntut ilmu, yaitu:
Mendapat kemudahan untuk menuju surga.
Disenangi oleh para malaikat.
Dimohonkan ampun oleh makhluk Allah yang lain.
Lebih utama daripada ahli ibadah.
Menjadi pewaris Nabi.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Ilmu berarti memahami hakikat sesuatu, atau memahami hukum yang berlaku atas sesuatu. Ilmu pengetahuan sangat dibutuhkan oleh manusia untuk mencapai kebahagiaan hidup, baik di dunia maupun di akhirat. Dengan ilmu pengetahuan itu, manusia dapat melaksanakan tugasnya dalam kehidupan ini, baik tugas khalifah maupun tugas ubudiah. Orang yang mencari ilmu dengan ikhlas akan dibantu oleh Allah dan akan dimudahkan baginya jalan menuju surga.
Allah adalah sumber utama ilmu. Segala pengetahuan yang diperoleh manusia merupakan anugerah-Nya. ada dua cara Tuhan mengajar manusia, yaitu pengajaran langsung yang disebut dengan wahyu atau ilham dan pengajaran tidak langsung. Ilmu yang diperoleh tidak boleh melahirkan keegoisan, arogansi, dan tinggi hati.
DAFTAR PUSTAKA
M. Yusuf, Kadar. 2013. Tafsir Tarbawi (Pesan-Pesan Al-Qur’an Tentang Pendidikan). Jakarta: Amzah.
Umar, Bukhari. 2014. Hadis Tarbawi (Pendidikan dalam Perspektif Hadis). Jakarta: Amzah.
Al-Maraghy, Ahmad Musthafa. 1985. Terjemah Tafsir Al-Maraghy. Semarang: Toha Putra.
Hamka. 2001. Tafsir Al Azhar Juz 1. Jakarta: CV Pustaka Panjimas.
Katsier, Ibnu. 1987. Terjemah Singkat Tafsir Ibnu Katsier. Surabaya: PT Bina Ilmu Offset.
TT G.26 SUBYEK PENDIDIKAN “HAKIKI” (KARAKTER ALLAH SEBAGAI PENDIDIK) QS. Al-Fatihah, 1: 1-4
SUBYEK PENDIDIKAN “HAKIKI”
(KARAKTER ALLAH SEBAGAI PENDIDIK)
QS. Al-Fatihah, 1: 1-4
Disusun guna memenuhi tugas
Mata Kuliah: Tafsir Tarbawi
Dosen Pengampu: Muhammad Ghufron, M.S.I
Disusun oleh :
Ana Zulaihatul Muslimah (2117224)
Kelas: D
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI PEKALONGAN
2018
BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Pendidikan islam mempunyai tujuan akhir yaitu agar terciptanya insan kamil. Untuk mengaktualisasikan tujuan tersebut, seorang pendidik mempunyai tanggung jawab dalam mengantarkan peserta didik ke arah yang dimaksud, sehingga peran pendidik dalam dunia pendidikan sangatlah penting.
Pendidik adalah orang dewasa yang membimbing anak agar anak bisa menuju ke arah kedewasaan. Pendidik yang bertanggung jawab di lingkungan keluarga adalah orang tua, di lingkungan sekolah adalah guru, di lingkungan masyarakat adalah orang – orang yang terlibat dalam kegiatan, seperti pengasuh anak yatim piatu dan pembimbing kelompok bermain.
Kewajiban seorang pendidik tidak hanya memberikan ilmu pengetahuan tetapi juga dituntut untuk mengajarkan nilai-nilai pada peserta didik, bertanggung jawab terhadap perkembangan peserta didiknya.
Rumusan Masalah
Bagaimana karakter pendidik?
Bagaimana dalil karakter Allah sebagai pendidik?
Apa yang dimaksud Al asma’ al husna ?
Tujuan Makalah
Untuk mengetahui karakter pendidik
Untuk mengetahui dalil tentang karakter Allah sebagai pendidik
Untuk mengetahui Al asma’ al husna
BAB II
PEMBAHASAN
Karakter Pendidik
Ada lima kategorisasi karakteristik pendidik menurut Al Qur’an, antara lai yaitu:
Karakteristik keimanan (imaniyah)
Karakteristik keimanan merupakan fondasi bagi setiap muslim, apalagi bagi seorang pendidik. Yang termasuk bagian dari karakter iman adalah takwa (Q.S Al Baqarah 2: 197, Q.S Al Thalaq 65: 2-4). Semua pendidik dipastikan memiliki sifat keimanan. Sikap takwa dan keikhlasan tersebut tercermin dari sikap konsisten dengan apa yang dikatakan. Seorang pendidik harus memiliki jiwa ketuhanan (Rabbani), selalu mendekatkan diri (taqarrub) dan mengingat Tuhannya.
Karakteristik Moral/akhlak (Khuluqiyah)
Beberapa karakter yang termasuk di dalam karakteristik moral/akhlak misalnya perilaku jujur (shidiq), penyayang (rahmah), bersahabat (rifq), santun (hilm) tapi tidak lemah, kuat tapi tidak kasar (Q.S Ali Imran 3: 159), rendah hati (tawadhu’), tidak sombong, sabar, menahan amarah, dll.
Karakteristik fisik (jismiyah)
Seorang pendidik secara fisik haruslah bergaya hidup sehat, bersih, rapi, dan enak dipandang. Tidak menunjukkan kepada peserta didiknya perilaku yang syubhat dan perbuatan yang sia-sia. Dia seharusnya menjadi motivator untuk melakukan perbaikan dan perubahan.
Karakteristik akal dan spiritual (al-aqliyah wa al nafsiyah)
Yang termasuk dalam kategori ini di antaranya adalah cerdas (dzaki), yang mumpuni keilmuannya, seperti dapat dilihat pada sosok al rasikhuna fi al ilm, ulu albab , uli al Nha, dan ulama’. Tepat dalam mengambil keputusan, tidak peragu, suka bermusyawarah atau bertukar pikiran (Q.S Al-Syura 38 dan Ali Imran 159), selalu belajar dan berusaha meningkatkan dan menambah pengetahuan mutakhir, tidak gagap teknologi.
Karakteristik profesional (al Mihnah)
Seorang pendidik yang baik seharusnya memiliki kompetensi akademik (keilmuan) yang diwujudkan dalam bentuk penguasaan materi, dan mempunyai kompetensi pedagogi dengan menerapkan metode pengajaran yang tepat kepada anak didiknya sesuai dengan situasi dan kondisi.
Dalil Karakter Allah sebagai Pendidik
Q.S Al Fatihah 1: 1-4
(1) بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحَيْمِ
(2) اَلْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ الْعلَمِيْنَ
(3) الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ
(4) ملِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ
Terjemah:
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang
Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam
Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang
Pemilik (Raja) Hari Pembalasan
Tafsiran:
Ayat pertama
Pengertian bi (بِ) yang diterjemahkan dengan kata “dengan” berarti “memulai” sehingga bismillah berarti “saya atau kami memulai dengan nama Allah”. Bi juga dikaitkan dalam benak dengan kata “kekuasaan dan pertolongan”. Pengucapan basmalah seakan-akan berkata “Dengan kekuasaan Allah dan pertolongan-Nya, pekerjaan yang sedang saya lakukan ini dapat terlaksana.” Kata ism (اِسْمٌ) diambil dari kata as-sumuw (السُّمُوُّ) yang berarti “tinggi” atau as-simah (السِّمَةُ) yang berarti “tanda”. Nama disebut ism, karena ia seharusnya dijunjung tinggi atau karena ia menjadi tanda bagi sesuatu.
Dimulainya surat Al Fatihah dengan lafaz bismillahirrahmaanirrahiim dimaksudkan untuk memberi petunjuk kepada hamba-hamba-Nya agar memulai suatu pekerjaan dengan lafaz tersebut.
Ayat kedua
Maksud dari lafaz al-hamdu dari segi bahasa adalah pujian atau sanjungan terhadap perbuatan baik yang dilakukan oleh seseorang melalui usahanya apakah semula ia mengharap pujian atau tidak. Kata ini selanjutnya menjadi pangkal kalimat penyataan syukur, sebagaimana Allah tidak bersyukur kepada seorang hamba yang tidak memuji-Nya. Kata Rabb dapat berarti pemilik yang mendidik yaitu orang yang mempengaruhi orang yang dididiknya dan memikirkan keadaannya.
Pendidikan yang dilakukan Allah terhadap manusia ada dua macam, yaitu pendidikan, pembinaan atau pemeliharaan terhadap kejadian fisiknya yang terlihat pada pengembangan fisiknya sehingga mencapai kedewasaan, serta pendidikan terhadap perkembangan potensi kejiwaan dan akal pikirannya, pendidikan agama dan akhlaknya yang terjadi dengan diberikannya potensi-potensi tersebut kepada manusia, sehingga dengan itu semua manusia akan mencapai kesempurnaan akalnya dan bersih jiwanya.
Adapun kata Al alamin meliputi seluruh yang tampak ada. Yang masuk ke dalam kelompok ini adalah alam manusia, alam binatang, alam tumbuhan. Adanya kata Rabb yang mendahului kata alam tersebut berarti mendidik, membina, mengarahkan dan mengembangkan yang mengharuskan adanya unsur kehidupan seperti makan dan minum serta berkembang biak.
Dapat disimpulkan bahwa setiap pujian yang baik hanyalah untuk Allah karena Dia-lah segala sumber yang ada. Dialah yang menggerakkan seluruh alam dan mendidiknya mulai dari awal hingga akhir dan memberikannya nilai-nilai kebaikan dan kemaslahatan.
Ayat ketiga
Makna ar rahman adalah yang memberikan kenikmatan yang baik kepada hamba-hamba-Nya tanpa mengenal batas dan akhir. Lafaz ini hanya untuk Allah dan tidak dapat dilekatkan pada yang lain-Nya. Sedangkan ar rahim adalah zat yang padanya terdapat sifat rahmah (kasih sayang) yang daripadanya dapat timbul perbuatan yang baik. Ar rahman dan ar rahim dalam ayat ketiga ini bertujuan menjelaskan bahwa pendidikan dan pemeliharaan Allah sebagaimana disebutkan pada ayat kedua , sama sekali bukan untuk kepentingan Allah atau sesuatu pamrih.
Ayat ke empat
Kata Maliki berarti mengatur perilaku orang-orang yang berakal dengan cara memberikan perintah, larangan dan balasan. Hal ini sejalan dengan dengan ungkapan Malik an naas yang menguasai manusia. Sedangkan lafaz al Tin dari segi bahasa digunakan untuk pengertian al hisab yakni perhitungan, dan berarti pula memberikan kecukupan, pembalasan yang setara dengan perbuatan yang dilakukan manusia semasa hidup di dunia.
Al Asma’ Al Husna
Allah swt. Memiliki nama sekaligus sifat yang sangat baik dan sempurna. Nama-nama tersebut terangkum di dalam Al Asma’ Al Husna yang berjumlah 99. Allah swt. Memiliki sifat Maha dalam segalanya, termasuk memiliki jumlah nama sekaligus sifat yang paling banyak. Al Asma’ Al Husna sebagai nama-nama dan sekaligus sifat Allah swt. Merupakan contoh bagi manusia untuk dipelajari, dimengerti, dihafalkan, dan diamalkan di dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga cita-cita setiap manusia untuk meraih kehidupan bahagia dunia dan akhirat menjadi kenyataan.
Al Asma’ Al Husna yang terkandung dalam Q.S Al Fatihah ayat 1-4 antara lain:
Allah, kata ini berakar dari kata walaha (وَلَهَ) yang berarti “mengherankan”, atau “menakjubkan”. Tuhan dinamai Allah karena segala perbuatan-Nya menakjubkan dan bila dibahas hakikat-Nya akan mengherankan, dalam arti hakikat zat-Nya tidak mungkin akan terjangkau oleh pikiran makhluk-makhluk-Nya. Ar rahman yaitu Maha Pengasih, yang memberi kenikmatan yang baik kepada makhluk-Nya. Ar rahim yaitu Maha Penyayang. Sifat Ar rahman Allah meliputi seluruh makhluk Allah baik yang beriman maupun yang kafir. Sifat Ar rahim adalah khusus bagi hamba-Nya yang beriman. Al Malik yaitu maha Menguasai.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Karakteristik pendidik meliputi lima hal, yaitu: Karakteristik keimanan (imaniyah), Karakteristik Moral/akhlak (Khuluqiyah), Karakteristik fisik (jismiyah), Karakteristik akal dan spiritual (al-aqliyah wa al nafsiyah), dan Karakteristik profesional (al Mihnah).
Pendidikan yang dilakukan Allah terhadap manusia ada dua macam, yaitu pendidikan, pembinaan atau pemeliharaan terhadap kejadian fisiknya yang terlihat pada pengembangan fisiknya sehingga mencapai kedewasaan, serta pendidikan terhadap perkembangan potensi kejiwaan dan akal pikirannya, pendidikan agama dan akhlaknya yang terjadi dengan diberikannya potensi-potensi tersebut kepada manusia, sehingga dengan itu semua manusia akan mencapai kesempurnaan akalnya dan bersih jiwanya.
DAFTAR PUSTAKA
Shihab, M. Quraish. 2001. Tafsir Al Qur’an Al Karim. Pustaka Hidayah
Nata, H. Abuddin. 2002. Tafsir Ayat-ayat Pendidikan (Tafsir Al Ayat Al Tarbawiy). Jakarta: PT Rajagrafindo Persada.
Abdul Fadhil, 2015, “Karakteristik Pendidik Menurut Al Qur’an (Analisis Kajian Tafsir Maudhu’i)” Jurnal Studi Al Qur’an; Membangun Tradisi Berfikir Qur’ani. Voll. 11 No. 1, 2015
(KARAKTER ALLAH SEBAGAI PENDIDIK)
QS. Al-Fatihah, 1: 1-4
Disusun guna memenuhi tugas
Mata Kuliah: Tafsir Tarbawi
Dosen Pengampu: Muhammad Ghufron, M.S.I
Disusun oleh :
Ana Zulaihatul Muslimah (2117224)
Kelas: D
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI PEKALONGAN
2018
BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Pendidikan islam mempunyai tujuan akhir yaitu agar terciptanya insan kamil. Untuk mengaktualisasikan tujuan tersebut, seorang pendidik mempunyai tanggung jawab dalam mengantarkan peserta didik ke arah yang dimaksud, sehingga peran pendidik dalam dunia pendidikan sangatlah penting.
Pendidik adalah orang dewasa yang membimbing anak agar anak bisa menuju ke arah kedewasaan. Pendidik yang bertanggung jawab di lingkungan keluarga adalah orang tua, di lingkungan sekolah adalah guru, di lingkungan masyarakat adalah orang – orang yang terlibat dalam kegiatan, seperti pengasuh anak yatim piatu dan pembimbing kelompok bermain.
Kewajiban seorang pendidik tidak hanya memberikan ilmu pengetahuan tetapi juga dituntut untuk mengajarkan nilai-nilai pada peserta didik, bertanggung jawab terhadap perkembangan peserta didiknya.
Rumusan Masalah
Bagaimana karakter pendidik?
Bagaimana dalil karakter Allah sebagai pendidik?
Apa yang dimaksud Al asma’ al husna ?
Tujuan Makalah
Untuk mengetahui karakter pendidik
Untuk mengetahui dalil tentang karakter Allah sebagai pendidik
Untuk mengetahui Al asma’ al husna
BAB II
PEMBAHASAN
Karakter Pendidik
Ada lima kategorisasi karakteristik pendidik menurut Al Qur’an, antara lai yaitu:
Karakteristik keimanan (imaniyah)
Karakteristik keimanan merupakan fondasi bagi setiap muslim, apalagi bagi seorang pendidik. Yang termasuk bagian dari karakter iman adalah takwa (Q.S Al Baqarah 2: 197, Q.S Al Thalaq 65: 2-4). Semua pendidik dipastikan memiliki sifat keimanan. Sikap takwa dan keikhlasan tersebut tercermin dari sikap konsisten dengan apa yang dikatakan. Seorang pendidik harus memiliki jiwa ketuhanan (Rabbani), selalu mendekatkan diri (taqarrub) dan mengingat Tuhannya.
Karakteristik Moral/akhlak (Khuluqiyah)
Beberapa karakter yang termasuk di dalam karakteristik moral/akhlak misalnya perilaku jujur (shidiq), penyayang (rahmah), bersahabat (rifq), santun (hilm) tapi tidak lemah, kuat tapi tidak kasar (Q.S Ali Imran 3: 159), rendah hati (tawadhu’), tidak sombong, sabar, menahan amarah, dll.
Karakteristik fisik (jismiyah)
Seorang pendidik secara fisik haruslah bergaya hidup sehat, bersih, rapi, dan enak dipandang. Tidak menunjukkan kepada peserta didiknya perilaku yang syubhat dan perbuatan yang sia-sia. Dia seharusnya menjadi motivator untuk melakukan perbaikan dan perubahan.
Karakteristik akal dan spiritual (al-aqliyah wa al nafsiyah)
Yang termasuk dalam kategori ini di antaranya adalah cerdas (dzaki), yang mumpuni keilmuannya, seperti dapat dilihat pada sosok al rasikhuna fi al ilm, ulu albab , uli al Nha, dan ulama’. Tepat dalam mengambil keputusan, tidak peragu, suka bermusyawarah atau bertukar pikiran (Q.S Al-Syura 38 dan Ali Imran 159), selalu belajar dan berusaha meningkatkan dan menambah pengetahuan mutakhir, tidak gagap teknologi.
Karakteristik profesional (al Mihnah)
Seorang pendidik yang baik seharusnya memiliki kompetensi akademik (keilmuan) yang diwujudkan dalam bentuk penguasaan materi, dan mempunyai kompetensi pedagogi dengan menerapkan metode pengajaran yang tepat kepada anak didiknya sesuai dengan situasi dan kondisi.
Dalil Karakter Allah sebagai Pendidik
Q.S Al Fatihah 1: 1-4
(1) بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحَيْمِ
(2) اَلْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ الْعلَمِيْنَ
(3) الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ
(4) ملِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ
Terjemah:
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang
Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam
Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang
Pemilik (Raja) Hari Pembalasan
Tafsiran:
Ayat pertama
Pengertian bi (بِ) yang diterjemahkan dengan kata “dengan” berarti “memulai” sehingga bismillah berarti “saya atau kami memulai dengan nama Allah”. Bi juga dikaitkan dalam benak dengan kata “kekuasaan dan pertolongan”. Pengucapan basmalah seakan-akan berkata “Dengan kekuasaan Allah dan pertolongan-Nya, pekerjaan yang sedang saya lakukan ini dapat terlaksana.” Kata ism (اِسْمٌ) diambil dari kata as-sumuw (السُّمُوُّ) yang berarti “tinggi” atau as-simah (السِّمَةُ) yang berarti “tanda”. Nama disebut ism, karena ia seharusnya dijunjung tinggi atau karena ia menjadi tanda bagi sesuatu.
Dimulainya surat Al Fatihah dengan lafaz bismillahirrahmaanirrahiim dimaksudkan untuk memberi petunjuk kepada hamba-hamba-Nya agar memulai suatu pekerjaan dengan lafaz tersebut.
Ayat kedua
Maksud dari lafaz al-hamdu dari segi bahasa adalah pujian atau sanjungan terhadap perbuatan baik yang dilakukan oleh seseorang melalui usahanya apakah semula ia mengharap pujian atau tidak. Kata ini selanjutnya menjadi pangkal kalimat penyataan syukur, sebagaimana Allah tidak bersyukur kepada seorang hamba yang tidak memuji-Nya. Kata Rabb dapat berarti pemilik yang mendidik yaitu orang yang mempengaruhi orang yang dididiknya dan memikirkan keadaannya.
Pendidikan yang dilakukan Allah terhadap manusia ada dua macam, yaitu pendidikan, pembinaan atau pemeliharaan terhadap kejadian fisiknya yang terlihat pada pengembangan fisiknya sehingga mencapai kedewasaan, serta pendidikan terhadap perkembangan potensi kejiwaan dan akal pikirannya, pendidikan agama dan akhlaknya yang terjadi dengan diberikannya potensi-potensi tersebut kepada manusia, sehingga dengan itu semua manusia akan mencapai kesempurnaan akalnya dan bersih jiwanya.
Adapun kata Al alamin meliputi seluruh yang tampak ada. Yang masuk ke dalam kelompok ini adalah alam manusia, alam binatang, alam tumbuhan. Adanya kata Rabb yang mendahului kata alam tersebut berarti mendidik, membina, mengarahkan dan mengembangkan yang mengharuskan adanya unsur kehidupan seperti makan dan minum serta berkembang biak.
Dapat disimpulkan bahwa setiap pujian yang baik hanyalah untuk Allah karena Dia-lah segala sumber yang ada. Dialah yang menggerakkan seluruh alam dan mendidiknya mulai dari awal hingga akhir dan memberikannya nilai-nilai kebaikan dan kemaslahatan.
Ayat ketiga
Makna ar rahman adalah yang memberikan kenikmatan yang baik kepada hamba-hamba-Nya tanpa mengenal batas dan akhir. Lafaz ini hanya untuk Allah dan tidak dapat dilekatkan pada yang lain-Nya. Sedangkan ar rahim adalah zat yang padanya terdapat sifat rahmah (kasih sayang) yang daripadanya dapat timbul perbuatan yang baik. Ar rahman dan ar rahim dalam ayat ketiga ini bertujuan menjelaskan bahwa pendidikan dan pemeliharaan Allah sebagaimana disebutkan pada ayat kedua , sama sekali bukan untuk kepentingan Allah atau sesuatu pamrih.
Ayat ke empat
Kata Maliki berarti mengatur perilaku orang-orang yang berakal dengan cara memberikan perintah, larangan dan balasan. Hal ini sejalan dengan dengan ungkapan Malik an naas yang menguasai manusia. Sedangkan lafaz al Tin dari segi bahasa digunakan untuk pengertian al hisab yakni perhitungan, dan berarti pula memberikan kecukupan, pembalasan yang setara dengan perbuatan yang dilakukan manusia semasa hidup di dunia.
Al Asma’ Al Husna
Allah swt. Memiliki nama sekaligus sifat yang sangat baik dan sempurna. Nama-nama tersebut terangkum di dalam Al Asma’ Al Husna yang berjumlah 99. Allah swt. Memiliki sifat Maha dalam segalanya, termasuk memiliki jumlah nama sekaligus sifat yang paling banyak. Al Asma’ Al Husna sebagai nama-nama dan sekaligus sifat Allah swt. Merupakan contoh bagi manusia untuk dipelajari, dimengerti, dihafalkan, dan diamalkan di dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga cita-cita setiap manusia untuk meraih kehidupan bahagia dunia dan akhirat menjadi kenyataan.
Al Asma’ Al Husna yang terkandung dalam Q.S Al Fatihah ayat 1-4 antara lain:
Allah, kata ini berakar dari kata walaha (وَلَهَ) yang berarti “mengherankan”, atau “menakjubkan”. Tuhan dinamai Allah karena segala perbuatan-Nya menakjubkan dan bila dibahas hakikat-Nya akan mengherankan, dalam arti hakikat zat-Nya tidak mungkin akan terjangkau oleh pikiran makhluk-makhluk-Nya. Ar rahman yaitu Maha Pengasih, yang memberi kenikmatan yang baik kepada makhluk-Nya. Ar rahim yaitu Maha Penyayang. Sifat Ar rahman Allah meliputi seluruh makhluk Allah baik yang beriman maupun yang kafir. Sifat Ar rahim adalah khusus bagi hamba-Nya yang beriman. Al Malik yaitu maha Menguasai.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Karakteristik pendidik meliputi lima hal, yaitu: Karakteristik keimanan (imaniyah), Karakteristik Moral/akhlak (Khuluqiyah), Karakteristik fisik (jismiyah), Karakteristik akal dan spiritual (al-aqliyah wa al nafsiyah), dan Karakteristik profesional (al Mihnah).
Pendidikan yang dilakukan Allah terhadap manusia ada dua macam, yaitu pendidikan, pembinaan atau pemeliharaan terhadap kejadian fisiknya yang terlihat pada pengembangan fisiknya sehingga mencapai kedewasaan, serta pendidikan terhadap perkembangan potensi kejiwaan dan akal pikirannya, pendidikan agama dan akhlaknya yang terjadi dengan diberikannya potensi-potensi tersebut kepada manusia, sehingga dengan itu semua manusia akan mencapai kesempurnaan akalnya dan bersih jiwanya.
DAFTAR PUSTAKA
Shihab, M. Quraish. 2001. Tafsir Al Qur’an Al Karim. Pustaka Hidayah
Nata, H. Abuddin. 2002. Tafsir Ayat-ayat Pendidikan (Tafsir Al Ayat Al Tarbawiy). Jakarta: PT Rajagrafindo Persada.
Abdul Fadhil, 2015, “Karakteristik Pendidik Menurut Al Qur’an (Analisis Kajian Tafsir Maudhu’i)” Jurnal Studi Al Qur’an; Membangun Tradisi Berfikir Qur’ani. Voll. 11 No. 1, 2015
TT G.25 SUBJEK “HAKIKI” PENDIDIKAN DALAM AL-QUR’AN (ALLAH SEBAGAI PENDIDIK) Q.S. AR-RAHMAN : 1-4
SUBJEK “HAKIKI” PENDIDIKAN DALAM AL-QUR’AN
(ALLAH SEBAGAI PENDIDIK)
Q.S. AR-RAHMAN : 1-4
Disusun guna memenuhi tugas
Mata Kuliah : Tafsir Tarbawi
Dosen Pengampu: Muhammad Hufron, MSI
Disusun Oleh:
Septiani Khajaroh
(2117159)
Kelas: D
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM (IAIN) PEKALONGAN
2018
BAB I
PENDAHULUAN
Pendahuluan
Menurut Abd al-Wahab al-Khallaf, Al-Qur’an adalah firman Allah Swt yang diturunkan melalui malaikat jibril (ruh al-amin) kepada hati Rosulullah Saw. Kehadiran Al-Qur’an telah memberikan pengaruh yang luar biasa bagi lahirnya berbagai konsep yang diperlukan manusia dalam berbagai bidang kehidupan. Dari sekian masalah yang menjadi fokus kajian Al-Qur’an adalah pendidikan. Melalui bukunya yaitu education Quranic outlook, Salih Abdul Salih sampai pada kesimpulan bahwa, Qur’an adalah “Kitab Pendidikan”.
Dilihat dari surah yang pertama kali diturunkan adalah surah yang berkaitan dengan pendidikan, yaitu surah al-Alaq (96) ayat 1-5 surah tersebut yang artinya “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari ‘alaq. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajarkan manusia dengan pena, mengajar manusia apa yang tidak diketahuinya.”
Rumusan Masalah
Apa hakikat pendidik?
Apa hakikat mengajar?
Apa dalil yang menyebutkan Allah Swt sebagai pendidik?
Apakah Allah Swt sebagai pendidik seluruh makhluk?
Tujuan
Dapat mengetshui hakikat pendidik.
Dapat mengetahui hakikat mengajar.
Dapat menjelaskan dalil yang menyebutkan Allah Swt sebagai pendidik.
Dapat menjelaskan Allah Swt sebagai pendidik seluruh makhluk.
BAB II
PEMBAHASAN
Hakikat Pendidik
Pendidik adalah orang yang mendidik. Pengertian ini memberi kesan bahwa pendidik adalah orang yang melakukan kegiatan mendidik. Dalam perspektif Islam, pendidik dapat dikategorikan sebagai:
Mu’allim artinya bahwa seorang pendidik itu adalah orang yang berilmu (memiliki ilmu) pengetahuan luas, dan mampu menjelaskan/mengajarkan/mentransfer ilmu tersebut kepada peserta didik, sehingga peserta didik dapat mengamalkannya dalam kehidupan.
Mu’adib (addaba-yuaddibu-ta’diiban) yang berarti mendisiplinkan atau menanam sopan santun. Yang dilandasi dengan etika, moral, dan sikap yang santun, serta mampu menanamkannya kepada peserta didik melalui contoh untuk di tiru.
Mudarris artinya orang yang memiliki tingkat kecerdasan intelektual lebih, dan berusaha membantu, menghilangkan menghapuskan kebodohan/ketidaktahuan peserta didik dengan cara melatih imtelektualnya melalui proses pembelajaran sehingga peserta didik memiliki kecerdasan intelektual dan keterampilan.
Mursyid artinya orang yang memiliki kedalaman spiritual atau memmiliki tingkat penghayatan yang mendalam terhadap nilai-nilai keagamaan, ketaatan ibadah dan berakhlak mulia.
Sifat-sifat pendidik yaitu:
Memiliki sifat kasih dan sayang,
Lemah lembut,
Rendah hati,
Menghormati ilmu lainnya,
Adil,
Menyenangi ijtihad,
Konsekuen,
Sederhana.
Jika dilihat dari prespektif al-qur’an, al qur’an itu berasal dari Allah, yang dalam beberapa sifat-Nya ia memperkenalkan diri-Nya sebagai pendidik. Didalam surat al fatihah (1) ayat pertama dinyatakan :
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
Artinya: segala puji bagi Allah,Tuhan semesta alam.
Imam al- Maraghi ketika menafsirkan ayat tersebut menyatakan bahwa rabb adalah al sayyid, al murabbi, al- ladzi yasusu man yurabbihi wa yudabbiru syu’unahu,yang artinya sebagai pemelihara, pendidik orang yang didiknya dan memikirkan keadaan perkemmbangannya. Dilihat dari segi kandungannya pendidik yang diberikan Allah kepada umat manusia itu terbagi dua, yang pertama, pendidikan yang bersifat keduniaan (khalqiyah) yang ditandai dengan pertumbuhan fisik, hingga menjadi dewasa, pendidikan jiwa dan akalnya. Kedua, pendidikan agama dan akhlak yang disampaikan kepada setiap individu yang dapat mendorong manusia mencapai tingkat kesempurnaan akal dan kesucian jiwanya.
Hakikat Mengajar
Secara harfiah kata “mengajar” diartikan kepada “memberikan pelajaran”. Dalam Al-Qur’an, mengajar menggunakan kata ‘allama. Kata ini berasal dari ‘alima yang telah mendapat tambahan ‘ain fi’il-nya yang kemudian dignati dengan tasydid sehingga menjadi ‘allima. Menurut Luis Ma’luf, kata ‘allima mempunyai arti “membuat orang mengetahui”. Dengan demikian, mengajar dapat diartikan suatu aktivitas atau kegiatan untuk membuat seseorang mengetahui dan menguasai suatu ilmu.
Al-Qur’an menggunakan kata ‘allama sebanyak 41 kali dalam dua sigha (pola), yaitu fi’il madi dan mudari’. Pada ayat-ayat tersebut menggambarkan Allah-lah yang mengajar manusia. Artinya Allah Swt. melimpahkan ilmu kepada manusia baik secara langsung maupun tidak. Manusia yang pertama diajar adalah Nabi Adam. Allah Swt. mengajari Nabi Adam mengenai nama segala sesuatu. Allah Swt. berfirman dalam surah al-Baqarah (2) ayat 31-31 :
Artinya: dan Dia ajarkan kepada Adam nama-nama (benda) semuanya, kemudian Dia perlihatkan kepada para malaikat, seraya berfirman, “sebutkan kepada-Ku nama semua (benda) ini, jika kamu yang benar!” Mereka menjawab, “Maha suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami. Sungguh, Engakau Yang Maha Mengetahui, Maha Bijaksana.”
Allah Swt. mengajarkan Nabi apa saja yang tidak diketahui, dan Allah juga mengajarkan semua manusia. Seperti dalam surah al-‘Alaq (96) ayat 3-5:
Artinya: “bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Mulia, Yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.
Allah Swt. bukan hanya menciptakan manusia, tetapi Dia juga melimpahkan ilmu kepada manusia. Allah Swt. yang membuat manusia itu berilmu dengan menciptakan potensi dalam diri manusia, dengan potensi tersebut manusia dapat menggali dan mencari ilmu pengetahuan serta menerimanya. Allah Swt mengajari manusia dengan melalui alam ciptaan-Nya dan wahyu yang disampaikan kepada Nabi Muhammad Saw.
Dalil Allah Sebagai Pendidik
Q.S, Ar-Rahman : 1-4
الرَّحْمَنُ (١) عَلَّمَ الْقُرْآنَ (٢) خَلَقَ الإنْسَانَ (٣) عَلَّمَهُ الْبَيَانَ (٤)
Artinya:
1. (Tuhan) yang Maha Pemurah,
2. yang telah mengajarkan Al Quran.
3. Dia menciptakan manusia.
4. mengajarnya pandai berbicara.
Ayat ini menjelaskan bahwa Allah mengajarkan Al-Qur’an dan Al-Bayan kepada manusia. Pengajaran ini dimulai dari nama-Nya Al-Rahman yang artinya kasih sayang, tidak dimulai dari nama yang lain terutama menggambarkan kekuasaan-Nya yang mutlak seperti al-Mutakabbir, al-Qahhar, dan al-Jabbar.
Tafsir Al- Azhar
“Ar-Rahman, Yang Maha Pemurah”
Arti dari Ar-Rahman adalah amat luas, kalimat dalam pengambilannya ialah RAHMAT. Yang berarti kasih sayang, cinta, pemurah. Dia meliputi kepada segala segi dari kehidupan manusia dan terbentang didalam segala makhluk yang wujud di dunia ini. Dalam al qur’an kita sering menjumpai kalimat rahman, rahim, rahmat, dan lain sebagainya, dan semuanya itu mengandung akan arti kasih sayang, pemurah, kesetiaan dan lain-lain. Bahkan dalam memulai membaca surat dalam al-qur’an selalu diawali dengan Bismmillahirahmanirrahim, maka didalam surat ini dikhususkanlah menyebut Allah dengan sifatNya yang paling meminta perhatian kita. Kalau Allah pun bersifat rahman, seharusnya kita meniru pula sifat Allah. Setelah itu Allah memperincikan rahmat-Nya itu.
“Yang mengajarkan Al-Qur’an”
Inilah salah satu dari Rahman, atau kasih sayang Tuhan kepada manusia. Yaitu diajarkan kepada manusia itu Al-Qur’an, yaitu wahyu ilahi yang diwahyukan kepada Nabi-Nya Muhammad SAW yang dengan al-qur’an itu manusia dikeluarkan dari pada gelap gulita pada terang benderang. Dibawa kepada jalan yang lurus. Maka datangnya pelajaran Al-Qur’an kepada manusia adalah sebagai menggenapkan kasih Tuhan kepada manusia. Rahmat ilahi yang paling utama ialah ilmu pengetahuan yang dianugerahkan Tuhan kepada manusia. Mengetahui itu adalah suatu kebahagiaan, apalagi yang diketahui itu al-qur’an.
“Yang menciptakan manusia”
Penciptaan manusia pun adalah satu diantara tanda Rahman Tuhan kepada alam ini. Sebab diantara begitu banyak makhluk ilahi didalam alam, manusialah satu-satunya makhluk paling mulia. Maka terbentanglah alam luas ini dan berdiamlah mereka diatasnya. Maka dengan rahmat Allah yang ada pada manusia tadi, yaitu akalnya dan fikirannya dapatlah manusia itu menyesuaikan dirinya dengan alam. Misalnya hujan turu, air mengalir dan manusia membuat sawah.
Manusia dengan akal budinya menembus jarak dan perpisahan yang jauh, membuat bahtera dan kapal untuk menghubungkan yang satu dengan yang lain. Manusia lah yang dikaruniai perkembangan akal dan fikiran. Sehingga timbulah tabiat manusia itu ialah hidup yang lebih maju.
“Yang mengajarkannya berbicara”
Barulah rahman Allah pada manusia lebih semburna lagi, karena manusia pun diajar oleh tuhan menyatakan perasaan hatinya dengan kata-kata. Itulah yang didalam bahasa arab disebut al-bayaan yaitu menjelaskan, menerangkan, apa yang terasa dihati. Sehingga timbulah bahasa-bahasa. Dijelaskan bahwa pemakaian bahasa adalah salah satu diantara Rahman Allah dimuka bumi ini. Beribu-ribu bahkan sampai berjuta-juta buku dikarang, dalam beragam bahasa, semuanya menyatakan apa yang terasa dihati sebagai penyelidikan, pengalaman dan kemajuan hidup.
Tafsir Al- Maraghi
Tafsir al-mufradat
Ar-Rahman: salah satu diantara nama-nama Allah yang indah (asma ul husna)
Al insan: Umat manusia
Al bayan: kemampuan manusia untuk mengutarakan isi hati dan memahamkannya kepada orang lain
Bi husban: dengan perhitungan yang teliti dan teratur
An Najm: tumbuh tumbuhan yang berbatang, seperti kurma dan jeruk
Yasjudan: keduanya tunduk kepada Allah dengan tabiatnya, seperti halnya orang-orang mukhalaf tunduk dengan pilihannya (ikhtiar)
Rafa’aha: Allah menciptakan langit dalam keadaan terangkat tinggi, tempat dan tingkatanya.
Al-Mizan: keadilan dan peraturan
Aqimu al Wazna bi al- qitshi: Luruskanlah timbangan kalian dengan adil
La Tukhsirul mizan: janganlah kamu mengurangi neraca
Lil Anam: untuk makhluk Allah
Al-Akman: jamak dari kim ( huruf kaf dikasrahkan ) :kelompok kurma
Al –Ashf: Daun tumbuh-tumbuhan yang berada pada bulir biji
Ar-Raihan: tumbuh-tumbuhan apa saja yang berbau harum
Al-A’la: Jamak dari ila’alan (huruf hamzah difathahkan atau dikasrahkan) dan juga ilyun dan ilwun. Artinya, kenikmatan.
Penjelasan
Ayat 1dan 2, ayat ini turun sebagai jawaban kepada penduduk makkah, pada surat ini Allah menganugerahkan kepada hambanya kenikmatan yang merupakan nikmat terbesar kedudukannya dan besar manfaatnya bahkan paling sempurna faidahnya. Yaitu nikmat diajarkannya al-qur’annurl karim, karena dengan al-qur’an akan memperoleh kebahagiaan didunia dan diakhirat. Setelah menyebut nikmat tersebut, maka Allah swt menyebutkan pula nikmat penciptaan yang merupakan pangkal dari segala urusan.
Ayat 3 dan 4,ayat ini menjelaskan bahwa Allah menciptakan manusia dan mengajarinya apa saja yang terlintas didalam hatinya dan terdetik dalam sanubarinya. Oleh karena itu manusia itu makhluk sosial ,yang tidak bisa hidup kecuali bermasyarakat dengan sesamanya maka haruslah ada bahasa untuk memahamka sesamanya. Dan menulis untuk sesamanya pada tempat-tempat yang jauh dan negeri-negeri sebrang. Ini adalah nikmat ruhani terbesar yang tidak bisa tertandingi. Dengan nikmat lainya.
Pertama-tama Allah menyebutkan hal yang harus dipelajari, yaitu al- qur’an, yang dengan itulah diperoleh kebahagiaan. Selanjutnya menyebutkan tentang belajar, dialanjutkan dengan menyebutkan cara belajar, seterusnya barulah menyebutkan benda langit yang di manfaatkan oleh manusia dalam penghidupan mereka.
Pendidik Seluruh Makhluk
Dalam prespektif falsafah pendidikan islam, semua makhluk pada dasarnya adalah peserta didik. Sebab dalam islam sebagai murabbi, mu’alim, atau mu’addib, Allah swt pada hakikatnya adalah pendidik bagi seluruh makhluk ciptaanNya. Dialah yang mencipta dan memelihara seluruh makhluk. Pemeliharaan Allah swt mencakup sekaligus kependidikannya, baik dalam arti tarbiyah, ta’lim maupun ta’dib. Karenanya dalam prespektif falsafah pendidikan islam, peserta didik mencakup seluruh makhluk Allah swt. Seperti malaikat, jin, manusia, tumbuhan, hewan, dan sebagainya.
Dalam islam, hakikat ilmu itu berasal dari Allah swt, dan dia sendiri adalah al- alim. Karenanya sebagai muta’allim,peserta didik adalah manusia yang belajar kepada Allah, mempelajari al-asma kullah yang terdapat pada ayat-ayat kauniyah dan qur’aniyah untuk sampai pada pengenalan,peneguhan dan akulturasi syahadah primodial yang telah diikrarkan dihadapan Allah swt.
Dalam islam esensi adap dan akhlak yaitu syariat yang menata idealitas interaksi atau komunikasi antara manusia dengan dirinya sendiri, dengan sesama manusia, dengan makhluk lainnya atau semesta alam dan dengan Tuhan maha pencipta, pemelihara, dan pendidik semesta alam.
BAB III
PENUTUP
Simpulan
Al-Qur’an memandang bahwa pendidikan merupakan persoalan pertama dan utama dalam membangun dan memperbaiki kondisi umat manusia di muka bumi ini. Ajaran yang dikandung di dalamnya berupa akidah tauhid, akhlak mulia, dan aturan-aturan.
Setelah kita mempelajari surah Ar-Rahman ayat 1-4, kita dapat mengambil pelajaran, dimana Allah sebagai pendidik utama di muka bumi dan alam semesta ini. Dalam surah Ar-Rahman kita diajarkan menjadi pendidik yang sebenarnya, yang harus memiliki sifat kasih sayang, dan sebagai seorang pendidik kita harus mengajari apapun dengan sejelas-jelasnya.
DAFTAR PUSTAKA
Al-rasyidin. 2008. Falsafah Pendidikan Islami. Medan: Citra Pustaka Media Perintis.
Hamka. 2000. Tafsir Al-Azhar Juzu’ XXV11. Jakarta: Pustaka Panjimas.
Mustafa Al- Maraghi, Ahmad. Tafsir AL-Maraghi. Semarang: CV Toha Putra.
M. Yusuf, Kadar. 2011. Tafsir Tarbawi. Jakarta: Amzah.
Nata, Abudin. 2016. Pendidikan dalam Prespektif Al-qur’an. Jakarta : PRENAMEDIA GROUP.
Yasin, A. Fatah. 2008. Dimensi-dimensi Pendidikan Islam. Malang: Sukses Offset.
(ALLAH SEBAGAI PENDIDIK)
Q.S. AR-RAHMAN : 1-4
Disusun guna memenuhi tugas
Mata Kuliah : Tafsir Tarbawi
Dosen Pengampu: Muhammad Hufron, MSI
Disusun Oleh:
Septiani Khajaroh
(2117159)
Kelas: D
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM (IAIN) PEKALONGAN
2018
BAB I
PENDAHULUAN
Pendahuluan
Menurut Abd al-Wahab al-Khallaf, Al-Qur’an adalah firman Allah Swt yang diturunkan melalui malaikat jibril (ruh al-amin) kepada hati Rosulullah Saw. Kehadiran Al-Qur’an telah memberikan pengaruh yang luar biasa bagi lahirnya berbagai konsep yang diperlukan manusia dalam berbagai bidang kehidupan. Dari sekian masalah yang menjadi fokus kajian Al-Qur’an adalah pendidikan. Melalui bukunya yaitu education Quranic outlook, Salih Abdul Salih sampai pada kesimpulan bahwa, Qur’an adalah “Kitab Pendidikan”.
Dilihat dari surah yang pertama kali diturunkan adalah surah yang berkaitan dengan pendidikan, yaitu surah al-Alaq (96) ayat 1-5 surah tersebut yang artinya “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari ‘alaq. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajarkan manusia dengan pena, mengajar manusia apa yang tidak diketahuinya.”
Rumusan Masalah
Apa hakikat pendidik?
Apa hakikat mengajar?
Apa dalil yang menyebutkan Allah Swt sebagai pendidik?
Apakah Allah Swt sebagai pendidik seluruh makhluk?
Tujuan
Dapat mengetshui hakikat pendidik.
Dapat mengetahui hakikat mengajar.
Dapat menjelaskan dalil yang menyebutkan Allah Swt sebagai pendidik.
Dapat menjelaskan Allah Swt sebagai pendidik seluruh makhluk.
BAB II
PEMBAHASAN
Hakikat Pendidik
Pendidik adalah orang yang mendidik. Pengertian ini memberi kesan bahwa pendidik adalah orang yang melakukan kegiatan mendidik. Dalam perspektif Islam, pendidik dapat dikategorikan sebagai:
Mu’allim artinya bahwa seorang pendidik itu adalah orang yang berilmu (memiliki ilmu) pengetahuan luas, dan mampu menjelaskan/mengajarkan/mentransfer ilmu tersebut kepada peserta didik, sehingga peserta didik dapat mengamalkannya dalam kehidupan.
Mu’adib (addaba-yuaddibu-ta’diiban) yang berarti mendisiplinkan atau menanam sopan santun. Yang dilandasi dengan etika, moral, dan sikap yang santun, serta mampu menanamkannya kepada peserta didik melalui contoh untuk di tiru.
Mudarris artinya orang yang memiliki tingkat kecerdasan intelektual lebih, dan berusaha membantu, menghilangkan menghapuskan kebodohan/ketidaktahuan peserta didik dengan cara melatih imtelektualnya melalui proses pembelajaran sehingga peserta didik memiliki kecerdasan intelektual dan keterampilan.
Mursyid artinya orang yang memiliki kedalaman spiritual atau memmiliki tingkat penghayatan yang mendalam terhadap nilai-nilai keagamaan, ketaatan ibadah dan berakhlak mulia.
Sifat-sifat pendidik yaitu:
Memiliki sifat kasih dan sayang,
Lemah lembut,
Rendah hati,
Menghormati ilmu lainnya,
Adil,
Menyenangi ijtihad,
Konsekuen,
Sederhana.
Jika dilihat dari prespektif al-qur’an, al qur’an itu berasal dari Allah, yang dalam beberapa sifat-Nya ia memperkenalkan diri-Nya sebagai pendidik. Didalam surat al fatihah (1) ayat pertama dinyatakan :
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
Artinya: segala puji bagi Allah,Tuhan semesta alam.
Imam al- Maraghi ketika menafsirkan ayat tersebut menyatakan bahwa rabb adalah al sayyid, al murabbi, al- ladzi yasusu man yurabbihi wa yudabbiru syu’unahu,yang artinya sebagai pemelihara, pendidik orang yang didiknya dan memikirkan keadaan perkemmbangannya. Dilihat dari segi kandungannya pendidik yang diberikan Allah kepada umat manusia itu terbagi dua, yang pertama, pendidikan yang bersifat keduniaan (khalqiyah) yang ditandai dengan pertumbuhan fisik, hingga menjadi dewasa, pendidikan jiwa dan akalnya. Kedua, pendidikan agama dan akhlak yang disampaikan kepada setiap individu yang dapat mendorong manusia mencapai tingkat kesempurnaan akal dan kesucian jiwanya.
Hakikat Mengajar
Secara harfiah kata “mengajar” diartikan kepada “memberikan pelajaran”. Dalam Al-Qur’an, mengajar menggunakan kata ‘allama. Kata ini berasal dari ‘alima yang telah mendapat tambahan ‘ain fi’il-nya yang kemudian dignati dengan tasydid sehingga menjadi ‘allima. Menurut Luis Ma’luf, kata ‘allima mempunyai arti “membuat orang mengetahui”. Dengan demikian, mengajar dapat diartikan suatu aktivitas atau kegiatan untuk membuat seseorang mengetahui dan menguasai suatu ilmu.
Al-Qur’an menggunakan kata ‘allama sebanyak 41 kali dalam dua sigha (pola), yaitu fi’il madi dan mudari’. Pada ayat-ayat tersebut menggambarkan Allah-lah yang mengajar manusia. Artinya Allah Swt. melimpahkan ilmu kepada manusia baik secara langsung maupun tidak. Manusia yang pertama diajar adalah Nabi Adam. Allah Swt. mengajari Nabi Adam mengenai nama segala sesuatu. Allah Swt. berfirman dalam surah al-Baqarah (2) ayat 31-31 :
Artinya: dan Dia ajarkan kepada Adam nama-nama (benda) semuanya, kemudian Dia perlihatkan kepada para malaikat, seraya berfirman, “sebutkan kepada-Ku nama semua (benda) ini, jika kamu yang benar!” Mereka menjawab, “Maha suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami. Sungguh, Engakau Yang Maha Mengetahui, Maha Bijaksana.”
Allah Swt. mengajarkan Nabi apa saja yang tidak diketahui, dan Allah juga mengajarkan semua manusia. Seperti dalam surah al-‘Alaq (96) ayat 3-5:
Artinya: “bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Mulia, Yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.
Allah Swt. bukan hanya menciptakan manusia, tetapi Dia juga melimpahkan ilmu kepada manusia. Allah Swt. yang membuat manusia itu berilmu dengan menciptakan potensi dalam diri manusia, dengan potensi tersebut manusia dapat menggali dan mencari ilmu pengetahuan serta menerimanya. Allah Swt mengajari manusia dengan melalui alam ciptaan-Nya dan wahyu yang disampaikan kepada Nabi Muhammad Saw.
Dalil Allah Sebagai Pendidik
Q.S, Ar-Rahman : 1-4
الرَّحْمَنُ (١) عَلَّمَ الْقُرْآنَ (٢) خَلَقَ الإنْسَانَ (٣) عَلَّمَهُ الْبَيَانَ (٤)
Artinya:
1. (Tuhan) yang Maha Pemurah,
2. yang telah mengajarkan Al Quran.
3. Dia menciptakan manusia.
4. mengajarnya pandai berbicara.
Ayat ini menjelaskan bahwa Allah mengajarkan Al-Qur’an dan Al-Bayan kepada manusia. Pengajaran ini dimulai dari nama-Nya Al-Rahman yang artinya kasih sayang, tidak dimulai dari nama yang lain terutama menggambarkan kekuasaan-Nya yang mutlak seperti al-Mutakabbir, al-Qahhar, dan al-Jabbar.
Tafsir Al- Azhar
“Ar-Rahman, Yang Maha Pemurah”
Arti dari Ar-Rahman adalah amat luas, kalimat dalam pengambilannya ialah RAHMAT. Yang berarti kasih sayang, cinta, pemurah. Dia meliputi kepada segala segi dari kehidupan manusia dan terbentang didalam segala makhluk yang wujud di dunia ini. Dalam al qur’an kita sering menjumpai kalimat rahman, rahim, rahmat, dan lain sebagainya, dan semuanya itu mengandung akan arti kasih sayang, pemurah, kesetiaan dan lain-lain. Bahkan dalam memulai membaca surat dalam al-qur’an selalu diawali dengan Bismmillahirahmanirrahim, maka didalam surat ini dikhususkanlah menyebut Allah dengan sifatNya yang paling meminta perhatian kita. Kalau Allah pun bersifat rahman, seharusnya kita meniru pula sifat Allah. Setelah itu Allah memperincikan rahmat-Nya itu.
“Yang mengajarkan Al-Qur’an”
Inilah salah satu dari Rahman, atau kasih sayang Tuhan kepada manusia. Yaitu diajarkan kepada manusia itu Al-Qur’an, yaitu wahyu ilahi yang diwahyukan kepada Nabi-Nya Muhammad SAW yang dengan al-qur’an itu manusia dikeluarkan dari pada gelap gulita pada terang benderang. Dibawa kepada jalan yang lurus. Maka datangnya pelajaran Al-Qur’an kepada manusia adalah sebagai menggenapkan kasih Tuhan kepada manusia. Rahmat ilahi yang paling utama ialah ilmu pengetahuan yang dianugerahkan Tuhan kepada manusia. Mengetahui itu adalah suatu kebahagiaan, apalagi yang diketahui itu al-qur’an.
“Yang menciptakan manusia”
Penciptaan manusia pun adalah satu diantara tanda Rahman Tuhan kepada alam ini. Sebab diantara begitu banyak makhluk ilahi didalam alam, manusialah satu-satunya makhluk paling mulia. Maka terbentanglah alam luas ini dan berdiamlah mereka diatasnya. Maka dengan rahmat Allah yang ada pada manusia tadi, yaitu akalnya dan fikirannya dapatlah manusia itu menyesuaikan dirinya dengan alam. Misalnya hujan turu, air mengalir dan manusia membuat sawah.
Manusia dengan akal budinya menembus jarak dan perpisahan yang jauh, membuat bahtera dan kapal untuk menghubungkan yang satu dengan yang lain. Manusia lah yang dikaruniai perkembangan akal dan fikiran. Sehingga timbulah tabiat manusia itu ialah hidup yang lebih maju.
“Yang mengajarkannya berbicara”
Barulah rahman Allah pada manusia lebih semburna lagi, karena manusia pun diajar oleh tuhan menyatakan perasaan hatinya dengan kata-kata. Itulah yang didalam bahasa arab disebut al-bayaan yaitu menjelaskan, menerangkan, apa yang terasa dihati. Sehingga timbulah bahasa-bahasa. Dijelaskan bahwa pemakaian bahasa adalah salah satu diantara Rahman Allah dimuka bumi ini. Beribu-ribu bahkan sampai berjuta-juta buku dikarang, dalam beragam bahasa, semuanya menyatakan apa yang terasa dihati sebagai penyelidikan, pengalaman dan kemajuan hidup.
Tafsir Al- Maraghi
Tafsir al-mufradat
Ar-Rahman: salah satu diantara nama-nama Allah yang indah (asma ul husna)
Al insan: Umat manusia
Al bayan: kemampuan manusia untuk mengutarakan isi hati dan memahamkannya kepada orang lain
Bi husban: dengan perhitungan yang teliti dan teratur
An Najm: tumbuh tumbuhan yang berbatang, seperti kurma dan jeruk
Yasjudan: keduanya tunduk kepada Allah dengan tabiatnya, seperti halnya orang-orang mukhalaf tunduk dengan pilihannya (ikhtiar)
Rafa’aha: Allah menciptakan langit dalam keadaan terangkat tinggi, tempat dan tingkatanya.
Al-Mizan: keadilan dan peraturan
Aqimu al Wazna bi al- qitshi: Luruskanlah timbangan kalian dengan adil
La Tukhsirul mizan: janganlah kamu mengurangi neraca
Lil Anam: untuk makhluk Allah
Al-Akman: jamak dari kim ( huruf kaf dikasrahkan ) :kelompok kurma
Al –Ashf: Daun tumbuh-tumbuhan yang berada pada bulir biji
Ar-Raihan: tumbuh-tumbuhan apa saja yang berbau harum
Al-A’la: Jamak dari ila’alan (huruf hamzah difathahkan atau dikasrahkan) dan juga ilyun dan ilwun. Artinya, kenikmatan.
Penjelasan
Ayat 1dan 2, ayat ini turun sebagai jawaban kepada penduduk makkah, pada surat ini Allah menganugerahkan kepada hambanya kenikmatan yang merupakan nikmat terbesar kedudukannya dan besar manfaatnya bahkan paling sempurna faidahnya. Yaitu nikmat diajarkannya al-qur’annurl karim, karena dengan al-qur’an akan memperoleh kebahagiaan didunia dan diakhirat. Setelah menyebut nikmat tersebut, maka Allah swt menyebutkan pula nikmat penciptaan yang merupakan pangkal dari segala urusan.
Ayat 3 dan 4,ayat ini menjelaskan bahwa Allah menciptakan manusia dan mengajarinya apa saja yang terlintas didalam hatinya dan terdetik dalam sanubarinya. Oleh karena itu manusia itu makhluk sosial ,yang tidak bisa hidup kecuali bermasyarakat dengan sesamanya maka haruslah ada bahasa untuk memahamka sesamanya. Dan menulis untuk sesamanya pada tempat-tempat yang jauh dan negeri-negeri sebrang. Ini adalah nikmat ruhani terbesar yang tidak bisa tertandingi. Dengan nikmat lainya.
Pertama-tama Allah menyebutkan hal yang harus dipelajari, yaitu al- qur’an, yang dengan itulah diperoleh kebahagiaan. Selanjutnya menyebutkan tentang belajar, dialanjutkan dengan menyebutkan cara belajar, seterusnya barulah menyebutkan benda langit yang di manfaatkan oleh manusia dalam penghidupan mereka.
Pendidik Seluruh Makhluk
Dalam prespektif falsafah pendidikan islam, semua makhluk pada dasarnya adalah peserta didik. Sebab dalam islam sebagai murabbi, mu’alim, atau mu’addib, Allah swt pada hakikatnya adalah pendidik bagi seluruh makhluk ciptaanNya. Dialah yang mencipta dan memelihara seluruh makhluk. Pemeliharaan Allah swt mencakup sekaligus kependidikannya, baik dalam arti tarbiyah, ta’lim maupun ta’dib. Karenanya dalam prespektif falsafah pendidikan islam, peserta didik mencakup seluruh makhluk Allah swt. Seperti malaikat, jin, manusia, tumbuhan, hewan, dan sebagainya.
Dalam islam, hakikat ilmu itu berasal dari Allah swt, dan dia sendiri adalah al- alim. Karenanya sebagai muta’allim,peserta didik adalah manusia yang belajar kepada Allah, mempelajari al-asma kullah yang terdapat pada ayat-ayat kauniyah dan qur’aniyah untuk sampai pada pengenalan,peneguhan dan akulturasi syahadah primodial yang telah diikrarkan dihadapan Allah swt.
Dalam islam esensi adap dan akhlak yaitu syariat yang menata idealitas interaksi atau komunikasi antara manusia dengan dirinya sendiri, dengan sesama manusia, dengan makhluk lainnya atau semesta alam dan dengan Tuhan maha pencipta, pemelihara, dan pendidik semesta alam.
BAB III
PENUTUP
Simpulan
Al-Qur’an memandang bahwa pendidikan merupakan persoalan pertama dan utama dalam membangun dan memperbaiki kondisi umat manusia di muka bumi ini. Ajaran yang dikandung di dalamnya berupa akidah tauhid, akhlak mulia, dan aturan-aturan.
Setelah kita mempelajari surah Ar-Rahman ayat 1-4, kita dapat mengambil pelajaran, dimana Allah sebagai pendidik utama di muka bumi dan alam semesta ini. Dalam surah Ar-Rahman kita diajarkan menjadi pendidik yang sebenarnya, yang harus memiliki sifat kasih sayang, dan sebagai seorang pendidik kita harus mengajari apapun dengan sejelas-jelasnya.
DAFTAR PUSTAKA
Al-rasyidin. 2008. Falsafah Pendidikan Islami. Medan: Citra Pustaka Media Perintis.
Hamka. 2000. Tafsir Al-Azhar Juzu’ XXV11. Jakarta: Pustaka Panjimas.
Mustafa Al- Maraghi, Ahmad. Tafsir AL-Maraghi. Semarang: CV Toha Putra.
M. Yusuf, Kadar. 2011. Tafsir Tarbawi. Jakarta: Amzah.
Nata, Abudin. 2016. Pendidikan dalam Prespektif Al-qur’an. Jakarta : PRENAMEDIA GROUP.
Yasin, A. Fatah. 2008. Dimensi-dimensi Pendidikan Islam. Malang: Sukses Offset.
Terima Kasih
Assalamualaikum Wr Wb
Dengan Hormat
Dengan ini kami mengucapkan banyak terima kasih kepada Bapak Dosen Muhamad Nasim yang telah memberikan pengetahuan tentang APLIKOM yang tadinya minim dalam mengoperasikan dari pengenalan perangkat komputer, aplikasi perkantoran, aplikasi desain dan aplikasi web online.
Alhamdulillah dengan pembelajaran demonstrasi per-mahasiswa sehingga 95% bisa mempraktekkan dengan baik kami percaya jika otodidak/mandiri kami minim dalam pengoperasian, semoga kami semua bisa mempraktekkan dengan positif.
Maka dari itu saya pribadi mengucapkan banyak terima kasih semoga Allah SWT memberikan balasan di dunia dan akhirat nanti Aamiin. :)
Hormat Saya,
M.Rizqi Ramadhan
Dengan Hormat
Dengan ini kami mengucapkan banyak terima kasih kepada Bapak Dosen Muhamad Nasim yang telah memberikan pengetahuan tentang APLIKOM yang tadinya minim dalam mengoperasikan dari pengenalan perangkat komputer, aplikasi perkantoran, aplikasi desain dan aplikasi web online.
Alhamdulillah dengan pembelajaran demonstrasi per-mahasiswa sehingga 95% bisa mempraktekkan dengan baik kami percaya jika otodidak/mandiri kami minim dalam pengoperasian, semoga kami semua bisa mempraktekkan dengan positif.
Maka dari itu saya pribadi mengucapkan banyak terima kasih semoga Allah SWT memberikan balasan di dunia dan akhirat nanti Aamiin. :)
Hormat Saya,
M.Rizqi Ramadhan
Subscribe to:
Posts (Atom)

