METODE DIALOG DALAM PENDIDIKAN
QS. ASH-SHAFFAT AYAT 102
Disusun guna memenuhi tugas
Mata Kuliah : Tafsir Tarbawi
Dosen Pengampu : Muhammad Ghufron, MSI
Ana Faikhana Nadia (2117287)
Kelas: D
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI PEKALONGAN
2018
BAB I
Pendahuluan
Latar Belakang
Semakin berkembangnya dunia dari tahun-ketahun mengakibatkan banyak perubahan dalam diri dunia islam. Baik dari segi agama, pendidikan, politik dan seterusnya. Pendidikan adalah usaha sadar untuk menumbuh kembangkan potensi Sumber Daya Manusia melalui kegiatan pengajaran.
Mengajar merupakan istilah kunci yang hampir tak pernah luput dari pembahasan mengenai pendidikan karena keeratan hubungan antara keduanya. Metode mengajar dalam pendidikan perlu dimiliki oleh pendidik, karena keberhasilan proses belajar mengajar bergantung pada cara mengajar pendidik tersebut. Jika cara mengajar sipendidik baik menurut siswa, maka siswa akan lebih tekun, rajin dan bersemangat, sehingga diharapkan akan terjadi perubahan dan tingkah laku pada siswa baik tutur kata, sopan santun dan gaya hidupnya.
Rumusan Masalah
Apa definisi metode dan dialog?
Bagaimana dalil tentang metode dialog?
Bagaimana pengaplikasian metode dialog dalam kehidupan?
Apa saja aspek-aspek tarbawinya?
Tujuan
Untuk mengetahui definisi metode dan dialog.
Untuk mengetahui dalil tentang metode dialog.
Untuk mengetahui pengaplikasian metode dialog dalam kehidupan.
Untuk mengetahui apa saja aspek-aspek tarbawinya.
BAB II
Pembahasan
Pengertian metode dialog
Kata metode berasal dari bahasa latin methodos yang berarti jalan yang harus dilalui. Dalam kamus bahasa indonesia kontemporer disebutkan bahwa metode merupakan cara yang teratur dan ilmiah dalam mencapai maksud untuk memperoleh ilmu atau juga merupakan cara mendekati, mengamati, menganalisis dan menjelaskan suatu fenomena dengan menggunakan landasan teori.
Menurut Al-Nahlawi (2001: 206), dialog adalah percakapan dua orang atau lebih, melalui tanya jawab, mengenai satu tema atau tujuan. Mereka berdiskusi tentang permasalahan tertentu, kadang diperoleh hasil, kadang satu sama lain tidak puas. Namun pendengar tetap mendapat pelajaran.
Dapat disimpulkan bahwa metode dialog adalah metode yang disajikan dalam bentuk dialog atau percakapan antara dua orang ahli atau lebih berdasarkan argumentasi-argumentasi yang bisa di pertanggung jawabkan secara ilmiah.
Dalil tentang metode dialog
QS. Ash-Shaffat ayat 102
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ ٱلسَّعۡيَ قَالَ يَٰبُنَيَّ إِنِّيٓ أَرَىٰ فِي ٱلۡمَنَامِ أَنِّيٓ أَذۡبَحُكَ فَٱنظُرۡ مَاذَا تَرَىٰۚ قَالَ يَٰٓأَبَتِ ٱفۡعَلۡ مَا تُؤۡمَرُۖ سَتَجِدُنِيٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّٰبِرِينَ
Artinya :
Maka tatkala ia telah mencapai usia berusaha bersamanya, ia berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!”Ia menjawab: “Hai bapakku, laksanakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; engkau akan mendapatiku insya Allah termasuk para penyabar.”
Tafsir Al-Azhar
Anak yang sudah dapat berjalan bersama ayahnya iyalah diantara usia 10 dengan 15 tahun. Keadaan itu di tonjolkan dalam ayat ini, untuk menunjukkan betapa bertumpah nya kasih Ibrahim kepada anak itu. dikala anak berusia sekitar 10 sampai 15 tahun, memanglah seorang ayah bangga sekali jika dapat berjalan bersama anaknya itu.
Suatu waktu di bawah lah ismail oleh ibrahim berjalan bersama-sama. Di tengah jalan “Berkatalah dia:”sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwasanya aku menyembelih engkau”. Dengan kata-kata yang halus mendalami ayah berkata kepada si anak yaitu ayah yang telah tua, berusia lebih dari 90 tahun. Dan anak yang dihadapi adalah anak yang ber puluh tahun lamanya ditunggu-tunggu dan sangat diharapkan. Dalam pertanyaan ini tuhan telah membayangkan kepada kita bagaimana seorang manusia yang terjadi dari daerah dan daging, sebab itu merasa juga sedih dan rawan tetapi tidak sedikit juga ragu atau bimbang bahwa dia adalah nabi.
Disuruhnya anaknya memikirkan mimpinya itu dan kemudian diharap nya anaknya menyatakan pendapat. Tentu Ismail sejak dari mulai tumbuh akal telah mendengar, baik dari ibunya sendiri Hajar atau dari orang lain di sekelilingnya, khadam-khadam dan orang-orang yang mengelilingi ayahnya, sebab ayahnya pun seorang yang mampu, telah di dengarnya jua siapa ayahnya. Tentu sudah di dengarnya bagaimana ayah itu bersedia dibakar malahan dengan tidak merasa ragu sedikit pun dimasuki nya api yang sedang menyala itu, karena dia yakin bahwa pendirian yang dipertahankan adalah benar. Demikian pula mata-mata rantai dari percobaan hidup yang dihadapi oleh ayahnya, semuanya tentu sudah diketahuinya. Dan tentu sudah di dengarnya juga bahwasanya mimpi ayahnya bukanlah semata-mata apa yang disebut rasian, yaitu khayalan kacau tak tentu ujung pangkal yang dialami orang sedang tidur. Oleh sebab itu tidaklah lama Ismail merenungkan dan tidaklah lama dia tertegun buat mengeluarkan pendapat.
“Berkata dia: yaitu ismail “Ya ayahku! berbuatlah apa yang diperintahkan kepada engkau. Akan engkau dapati aku insya Allah termasuk orang yang sabar.”
Aplikasi dalam kehidupan
Mengarahkan anak pada jalan yang diridhoi Allah.
Mendidik melalui pembiasaan anak untuk melakukan kebaikan.
Mengajarkan pelajaran tauhid kepada anak
Mengajarkan kasih sayang dan menghormati
Aspek Tarbawi
Memberikan masukan kepada guru atau orang tua tentang bagaimana melakukan interaksi pendidikan terhadap anaknya sesuai dengan tuntunan di dalam Al-Qur’an.
Cara dialog akan melatih berargumentasi, kesabaran dan ketangguhan sehingga akan ditemukan kesamaan persepsi tentang visi misi pendidikan.
Terciptanya interaksi pendidikan yang harmonis.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Metode dialog adalah metode yang disajikan dalam bentuk dialog atau percakapan antara dua orang ahli atau lebih berdasarkan argumentasi-argumentasi yang bisa di pertanggung jawabkan secara ilmiah.
Ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan metode dialog dalam belajar mengajar perspektif al_Qur’an salah satunya terdapat pada surat Ash-Shaffat ayat 102, menerangkan metode dialog dengan dialog antara nabi Ibrahim dan nabi Ismail.
Daftar Pustaka
Liliweri. Alo. 2011. Komunikasi serba ada serba makna, (Jakarta: Kencana)
https://www.duniapembelajaran.com/2014/12/metode-dialog-hiwar-dalam-islam.html?m=1
Malik. Abdul. 2005. Tafsir Al-Azhar,( Jakarta: Pustaka Panjimas)
Suprihatiningrum. Jamil. 2013. Strategi Pembelajaran Teori dan Aplikasi, (Jogjakarta: Ar-Ruz Media)
TT. 50 METODE PENDIDIKAN “SPECIAL” ( METODE TANYA JAWAB ) QS. AL - BAQARAH AYAT 189
METODE PENDIDIKAN “SPECIAL”
( METODE TANYA JAWAB )
QS. AL - BAQARAH AYAT 189
Disusun guna memenuhi tugas
Mata Kuliah : Tafsir Tarbawi
Dosen Pengampu : Muhammad Hufron,M.S.I
Disusun oleh:
Putri Marinda Amini (2117014)
Kelas : D
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI)
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN (FTIK)
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI PEKALONGAN (IAIN)
2018
BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Metode merupakan hal yang sangat penting dalam proses belajar mengajar di lembaga pendidikan. Apabila proses pendidikan tidak menggunakan metode yang tepat maka akan sulit untuk mendapatkan tujuan pembelajaran yang diharapkan. Namun masih saja di lapangan penggunaan metode mengajar ini banyak menemukan kendala. Kendala penggunaan metode yang tepat dalam belajar mengajar banyak dipengaruhi oleh beberapa faktor; keterampilan guru belum memadai, kurangnya sarana prasarana, kondisi lingkungan pendidikan dan kebijakan lembaga pendidikan yang belum menguntungkan pelaksanaan kegiatan belajar mengajar yang variatif.
Penting metode dalam proses belajar mengajar. Tetapi betapapun baiknya suatu metode bila tidak diiringi dengan kemampuan guru dalam menyampaikan materi maka metode tinggalah metode. Al-Qur’an sebagai kitab suci umat islam di dalamnya memuat berbagai informasi tentang seluruh kehidupan yang berkaitan dengan manusia. Karena memang Al-Qur’an diturunkan untuk umat manusia, sebagai sumber pedoman, sumber inspirasi dan sumber ilmu pengetahuan. Salah satunya dalah hal yang berkaitan dengan pendidikan.
Rumusan Masalah
Dengan ini maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut :
Apa Hakikat Metode Tanya Jawab?
Bagaimana Dalil tentang Metode Tanya Jawab?
Apa Isi dari Implementasi Metode Tanya Jawab dalam pendidikan?
Tujuan
Dengan ini maka dapat disimpulkan tujuan dan penjabarannya sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui hakikat metode tanya jawab
2. Untuk mengetahui dalil dari metode tanya jawab
3. Untuk mengetahui isi dari implementasi metode tanya jawab
BAB II
PEMBAHASAN
Hakikat Metode Tanya Jawab
Pengertian Metode Tanya Jawab
Menurut bahasa, istilah metode berasal dari kata meta dan hodos. Meta berarti melalui dan hodos berarti jalan atau cara. Dengan demikian metode dapat diartikn cara atau jalan yang dilalui untuk mencapai suatu tujuan. Dalam bahasa Arab, metode dikenal dengan istilah thariqah dan juga sering diungkapkan dengan istilah al – manhaj dan al – washilah yang berarti sistem dan perantara atau mediator. Metode tanya jawab ialah penyampaian pesan pengajaran dengan cara mengajukan pertanyaan-pertanyaan dan siswa memberikan jawaban, atau sebaliknya siswa diberi kesempatan bertanya dan guru menjawab pertanyaan.
Metode tanya jawab adalah salah satu teknik mengajar yang dapat membantu kekurangan-kekurangan yang terdapat pada metode ceramah. Ini disebabkan karena guru dapat memperoleh gambaran sejauh mana murid dapat mengerti dan dapat mengungkapkan apa yang telah diceramahkan. Dalam kegiatan belajar mengajar melalui tanya jawab, guru memberikan pertanyaan-pertanyaan atau siswa diberikan kesempatan untuk bertanya terlebih dahulu pada saat dimulai pelajaran, pada saat pertengahan dan pada akhir pelajaran.
Metode tanya jawab ini tidak dapat digunakan sebagai ukuran untuk menetapkan kadar pengetahuan setiap anak didik dalam suatu kelas, karena metode ini tidak memberi kesempatan yang sama pada setiap murid untuk menjawab pertanyaan. Metode tanya jawab dapat dipakai oleh guru untuk menetapkan perkiraan secara umum apakah anak didik yang mendapat giliran pertanyaan sudah memahami bahan pelajaran yang diberikan.
Anak didik yang biasanya kurang mencurahkan perhatiannya terhadap pelajaran yang diajarkan melalui metode ceramah akan berhati-hati terhadap pelajaran yang diajarkan melalui metode tanya jawab. Sebab anak didik tersebut sewaktu-waktu akan mendapatkan giliran untuk menjawab suatu pertanyaan yang akan diajukan kepadanya.
Metode tanya jawab ini tidak dapat digunakan sebagai ukuran untuk menetapkan kadar pengetahuan setiap anak didik dalam suatu kelas, Karena metode tanya jawab tidak memberi kesempatan yang sama pada setiap pelajar untuk menjawab pertanyaan. Hal itu disebabkan karena pelajar yang dapat menjawab pertanyaan hanyalah pelajar yang maksimal dalam belajarnya.
Untuk menghindari sesuatu yang dapat terjadi dalam metode tanya jawab terutama yang bersifat negatif maka perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut:
Pertanyaan harus singkat, jelas dan merangsang berfikir
Sesuai dengan kecerdasan dan kemampuan anak didik yang menerima pertanyaan
Memerlukan jawaban dalam bentuk kalimat atau uraian kecuali yang bersifat objektif tes dapat menggunakan ya atau tidak
Usahakan pertanyaan yang punya jawaban pasti bukan pertanyaan yang mempunyai jawaban beberapa alternatif.
Teknik mengajukan pertanyaan :
a. Mula-mula diajukan kepada semua anak didik baru ditanyakan kepada anak didik tertentu.
b. Berikan waktu untuk berfikir dan menyusun jawaban.
c. Pertanyaan diajukan bergilir, jangan berdasarkan urutan bangku atau urutan daftar yang telah disusun (daftar hadir).
Tujuan Metode Tanya Jawab:
a. Mengecek dan mengetahui sampai sejauh mana kemampuan anak didik terhadap pelajaran yang dikuasai.
b. Memberi kesempatan kepada anak didik untuk mengajukan pertanyaan kepada guru tentang suatu masalah yang belum difahami.
c. Memotivasi dan menimbulkan kompetensi belajar.
d. Melatih anak didik untuk berfikir dan berbicara secara sitematis berdasarkan pemikiran yang sebenarnya.
Kelebihan dan Kelemahan Metode Tanya Jawab
Kelebihannya Metode Tanya Jawab :
a. Kelas akan hidup karena anak didik aktif berfikir dan menyampaikan pikiran melalui berbicara.
b. Baik sekali untuk melatih anak didik agar berani mengemukakan pendapatnya.
c. Akan membawa kelas kedalam suasana diskusi.
d. Melatih peserta didik untuk berfikir dan berbicara secara sistematis.
e. Memberikan kesempatan kepada peserta didik mengembangkan unuk mengajukan pertanyaan kepada guru tentang suatu masalah yang belum dipahami.
Kelemahan Metode Tanya Jawab :
Waktu yang digunakan dalam pelajaran tersita dan kurang dikontrol secara baik oleh guru karena banyaknya pertanyaan yang timbul dari siswa.
Kemungkinan terjadi penyimpangan perhatian siswa bilamana terdapat pertanyaan atau jawaban yang tidak berkenan dengan sasaran yang dibicarakan.
Jalannya pengajaran kurang dapat terkoordinir secara baik, karena timbulnya pertanyaan-pertanyaan dari siswa yang mungkin tidak dapat dijawab secara tepat, baik oleh guru maupun oleh siswa.
Bagi siswa yang tidak aktif atau jarang bertannya bahkan tidak pernah, terkadang menjadi malu kepada teman-temannya.
Menimbulkan rasa gugup pada peserta didik yang tidak memiliki keberanian menjawab dan bertanya ( kemampuan lisan).
Dan untuk menggunakan metode tanya jawab, perlu diperhatikan hal-hal berikut:
Rumuskan tujuan pengajaran secara spesifik yang berpangkal pada tingkah laku siswa.
Guru melakukan pertanyaan dari hal-hal yang sederhana kemudian dilanjutkan kepada pertanyaan-pertanyaan yang mendasar tentang materi yang dibicarakan.
Dalil tentang Metode Tanya Jawab
QS. Al-Baqarah Ayat 189 :
يَسْأَلُونَكَعَنِالْأَهِلَّةِ ۖ قُلْهِيَمَوَاقِيتُلِلنَّاسِوَالْحَجِّ ۗ وَلَيْسَالْبِرُّبِأَنْتَأْتُواالْبُيُوتَمِنْظُهُورِهَاوَلَٰكِنَّالْبِرَّمَاتَّقَىٰ ۗ وَأْتُواالْبُيُوتَمِنْأَبْوَابِهَا ۚ وَاتَّقُوااللَّهَلَعَلَّكُمْتُفْلِحُونَ
Artinya: Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah: “Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadat) haji; Dan bukanlah kebajikan memasuki rumah-rumah dari belakangnya, akan tetapi kebajikan itu ialah kebajikan orang yang bertakwa. Dan masuklah ke rumah-rumah itu dari pintu-pintunya; dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung. (QS. Al-Baqarah, 2:189)
Tafsiran Ayat :
Al-Misbah
Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit, mengapa bulan pada mulanya terlihat seperti sabit, kecil, tetapi dari malam ke malam ia membesar hingga mencapai purnama, kemudian mengecil dan mengecil lagi, sampai menghilang dari pandangan? Katakanlah, “bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia, waktu dalam penggunaan Al-Qur’an adalah batas akhir peluang untuk menyelesaikan suatu aktivitas. Ia adalah kadar tertantu dari masa ke masa. Dengan keadaan bulan seperti itu manusia dapat mengetahui dan merancang aktivitasnya sehingga dapat terlaksana sesuai dengan waktu yang tersedia, tidak terlambat, apalagi terabaikan dengan berlalunya waktu, dan juga untuk pelaksanaan ibadah haji.
Kembali kepada pertanyaan sahabat Nabi di atas, al-Qur’an tidak menjawabnya sesuai dengan harapan mereka, tetapi memberi jawaban lain yang lebih sesuai dengan kepentingan mereka. Hal serupa banyak terjadi dengan tujuan mengingatkan padanya bahwa ada yang lebih wajar ditanyakan daripada yang diajukan. Memang Al-Qur’an adalah salah satu bentuk pendidikannya adalah mengarahkan mereka melalui jawaban-jawabannya.
Allah menegaskan bahwa, bukanlah kebajikan memasuki rumah-rumah dari belakangnya, akan tetapi kebajikan ialah kebajikan orang yang bertakwa, atau kebajikan adalah siapa yang menghindar dari kebiasaan dan pertanyaan yang serupa dengan yang dinyatakan di atas dan dalam kondisi yang serupa pula. Karena itu masuklah ke rumah-rumah itu dari pimtunya. Bertakwalah kepada Allah, berarti laksanakan tuntutan-Nya sepanjang kemampuan kamu dan jauhi larangan-Nya agar kamu beruntung.
Jalalain
يَسْأَلُونَكَعَنِالْأَهِلَّةِ ۖ قُلْهِيَمَوَاقِيتُلِلنَّاسِوَالْحَجِّ ۗ وَلَيْسَالْبِرُّبِأَنْتَأْتُواالْبُيُوتَمِنْظُهُورِهَاوَلَٰكِنَّالْبِرَّمَاتَّقَىٰ ۗ وَأْتُواالْبُيُوتَمِنْأَبْوَابِهَا ۚ وَاتَّقُوااللَّهَلَعَلَّكُمْتُفْلِحُونَ
(Mereka menanyakan kepadamu) hai Muhammad, (tentang bulan sabit). 'Ahillah' jamak dari 'hilal'. Pada permulaannya tampak kecil tipis kemudian terus bertambah hingga penuh dengan cahaya. Lalu kembali sebagaimana semula, maka keadaannya tidak seperti matahari yang tetap (katakanlah) kepada mereka, ("Ia adalah tanda-tanda waktu); mawaaqiit jamak dari miiqaat (bagi manusia) untuk mengetahui waktu bercocok tanam, berdagang, idah wanita, berpuasa, dan berbuka mereka (dan bagi haji) diathafkan atau dihubungkan kepada manusia, artinya untuk diketahui waktunya. Karena seandainya bulan tetap dalam keadaan yang sama, tentulah hal itu tidak dapat diketahui (Dan bukanlah kebaktian, jika kamu memasuki rumah-rumah dari belakangnya) yakni di waktu ihram, dengan membuat lubang di belakang rumah untuk tempat keluar masuk kamu dengan meninggalkan pintu. Hal itu biasa mereka lakukan dulu dan mereka anggap sebagai kebaktian, (tetapi kebaktian itu), maksudnya orang yang berbakti (ialah orang yang bertakwa) kepada Allah dengan tidak melanggar perintah-perintah-Nya, (dan masuklah ke rumah-rumah itu dari pintu-pintunya) baik sewaktu ihram maupun pada waktu-waktu lainnya, (dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beroleh keberuntungan").
Al-Azhar
Mereka bertanya kepada engkau dari hal bulan sabit. Katakanlah: dia itu adalah waktu-waktu yang ditentukan untuk manusia dan untuk haji. (pangkal ayat 189). Mereka menanyakan mengapa bulan begitu, bukan menanyakan apa yang berfaedah yang kita ambil dari keadaan bulan yang demikian. Belia berikan jawaban yang sesuai dengfan kewajiban beliau sebagai Rasul, sehingga kesanalah perhatian yang bertanya dibawa. Maka beliau katakanlah bahwasanya bulan terbit dengan keadaan yang demikian itu membawa hikmat yang penting sekali buat kita. Bulan sabit adalah untuki menentukan waktu bagi manusia. Dengan bulan yang demikian halnya manusia dapat menentukan iddah perempuan setelah bercerai, kapan waktu puasa, sampai pada waktu hari raya dan mengeluarkan zakat sekali setahun, sampai kepada waktu mengerjakan haji.
Kemudian datanglah sambungan ayat: “dan tidaklah kebajikan itu bahwa kamu masuk ke rumah kamu dari belakangnya, tetapi yang kebajikan ialah barang siapa yang bertakwa”. Menurut penafsiran dari penafsir Abu Ubaidah bahwa sambungan ini adalah senafas dengan yang sebelumnya, yaitu kalau hendak masuk ke dalam rumahmu janganlah dari pintu belakang. Maksudnya kalau hendak menanyakan sesuatu hal kepada seseorang hendaklah piulih soal yang pantas dijawab . kalau hendak menanyakan mengapa bulan mulanya laksana sabit, lama lama penuh dan khirnya kecil sebagai sabit lagi, janganlah hal itu ditanyakan kepada Nabi, tetapi tanyakanlah pada ahli falak. Tetapi kalau ditanyakan kepada Nabi apa hikmat yang dapat diambil dari peredaran bulan demikian, akan dapatlah dijawab oleh Nabi menurut selayaknya dan dapat sepadan dengan beliau. Selanjutnya Tuhan berfirman: “Dan datanglah ke rumah-rumah dari pintu-pintunya, dan takwalah kepada Allah, supaya kamu beroleh kejayaan.” (ujung ayat 189).
Al-Maraghi
Mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang hikmah berbeda-bedanya bentuk hilal dan faedahnya. Kemudian Rasulullah menjawab hilal itu adalah tanda-tanda bagi umat manusia di dalam menentukan urusan dunia mereka. Dengan hilal tersebut mereka mengetahui waktu mana yang paling tepat untuk melakukan cocok tanam atau berdagang. Hilal juga merupakan tanda-tanda waktu ibadah. Mereka bisa mentukan bulan Ramadhan dan saat berakhirnya bulan puasa. Terutama sekali, hilal itu dipakai untuk menentukan waktu haji.
Imam Bukhori dan Ibnu Jahir dari Al-Barra’ menceritakan bahwa orang-orang Arab di masa jahiliyyah jika melakukan ihram harus memasuki rumah nya dari pintu belakang. Kemudia turunlah ayat ini.
Setelah Allah memberitahukan kesalahan yang mereka lakukan, yakni dalam hal memasuki rumah dari belakang, dan dugaan mereka bahwa hal tersebut termasuk amal kebajikan yang hakiki. Kebajikan yang hakiki adalah takwa kepada Allah dengan menjauhkan diri dari perbuatan-perbuatan maksiat dan kotor, serta menghiasi diri dengan keutamaan-keutamaan, dan mengikuti kebenaran-kebenaran dan beramal kebajikan. Datangilah rumah kalian dari depan, dan hendaklah batin kalian adalah cermin lahiriyah, dan bertakwalah kepada Allah jika kalian mengharapkan keberhasilan dalam amaliah dan mencapai tujuan yang dicita-citakan. Orang-orang yang bertakwa kepada Allah selalu mendapatkan ilham menuju jalan keberhasilan.
Al-Lubab
Ayat 189 menjawab pertanyaan tentang bulan mengaapa bermula terlihat sabit kemudian membesar menjadi purnama, lalu kembali menjadi sabit lagi, dan menghilang dari pandangan. “Itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia sekaligus untuk penetapan waktu melaksanakan haji”, demikian jawaban Allah swt. Ini disusul dengan perintah masuk di pintu-pintu depan rumah, bukan meloncat ke atap atau membobol tembok dari belakang, sebagaimana adat kebiasaan sementara kaum musyrik ketika mereka selesai melaksanakan haji.
Implementasi Metode Tanya Jawab dalam Pendidikan
Aplikasi dalam Kehidupan
Di dalam menuntut ilmu, kita diharuskan menanyakan apa yang belum kita pahami, karena jika kita berusaha menafsirkan sendiri, maka kita mungkin bisa saja tersesat dalam menuntut ilmu. Di dalam menanyakan atau menjawab sesuatu itu juga harus ada tata cara dan harus sopan di dalam bertanya maupun menjawabnya.
Doa meminta dipahamkan ilmu perlu senantiasa diucapkan, dan memohon kepada Allah agar ilmu itu ditambahNya, sebab Allah-lah sumber segala ilmu.
Aspek Tarbawi.
Dalam menuntut ilmu itu hendaknya selalu berdoa kepada Allah agar ilmu yang kita terima tidak menyimpang dan sesuai dengan yang diajarkan Nabi Muhammad SAW.
Didalam menuntut ilmu, hendaknya belajar untuk bertanya. Jangan takut dianggap tidak paham oleh orang lain. Yang penting ilmu yang diterima itu benar.
Didalam menuntut ilmu, hendaknya juga harus mengamalkannya kepada orang lain, agar tidak hanya bermanfaat bagi kita saja, tetapi bermanfaat untuk orang lain. Selain itu agar kita tidak lupa ilmu yang sudah kita pelajari.
Setelah kita berusaha dalam menuntut ilmu, kita selalu bertawakal kepada Allah karena hal yang baik menurut kita, belum tentu baik menurut Allah, begitu juga sebaliknya. Mungkin ada hal baik yang sudah direncanakan oleh Allah.
Selalu berusaha dan tidak langsung pasrah dengan kehidupan yang buruk atau masih diberi cobaan oleh Allah. Kita harus tetap optimis.
BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Metode tanya jawab ialah penyampaian pesan pengajaran dengan cara mengajukan pertanyaan-pertanyaan dan siswa memberikan jawaban, atau sebaliknya siswa diberi kesempatan bertanya dan guru menjawab pertanyaan.
Dalam Tafsir Al-Maraghi, surat Al-Baqarah ayat 189 menjelaskan tentang Mereka menanyakan mengapa bulan begitu, bukan menanyakan apa yang berfaedah yang kita ambil dari keadaan bulan yang demikian. Beliau berikan jawaban yang sesuai dengan kewajiban beliau sebagai Rasul. Yang intinya yaitu bertakwalah kepada Allah jika kalian mengharapkan keberhasilan dalam amaliah dan mencapai tujuan yang dicita-citakan. Orang-orang yang bertakwa kepada Allah selalu mendapatkan ilham menuju jalan keberhasilan. Dalam kehidupan sehari-hari, jika kita tidak mengetahui akan suatu ilmu, hendaknya kita menanyakannya pada orang yang lebih mengetahui atau kepada para ahlinya. Oleh karena itu kita dianjurkan untuk tidak malu dalam bertanya, agar bertambahnya wawasan kita.
Aspek Tarbawi yang bisa kita ambil dalam surat Al-Baqarah ayat 189, Hendaknya bersemangat dalam mencari ilmu, supaya bertambahnya wawasan kita, dan menanyakan sesuatu kepada yang ahlinya.dalam menuntut ilmu itu, harus berani bertanya apabila ada ilmu yang belum dapat dipahami. Jangan malu untuk bertanya. Dan Rasulullah SAW juga memberikan contoh kepada kita untuk mengamalkan ilmunya agar bermanfaat untuk orang lain dan juga agar kita tidak lupa akan ilmu yang kita pelajari.
DAFTAR PUSTAKA
Gunawan, Heri. 2014. Pendidikan Islam, Kajian Teoritis dan Pemikiran Tokoh. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Ustman, Basyirudin. 2002. Metodologi Pembelajaran Agama Islam. Jakarta. PT. Intermasa.
Drajat, Zakiah dkk. 1995. Metodik Khusus Pengajaran Agama Islam. Jakarta. Bumi Aksara.
Shihab,M.Quraisy. 2005. Tafsir Al-Mishbah. Tangerang. Penerbit Lentera Hati.
Jalaluddin, Imam Al-Mahalli dan imam Jalaludin As-Suyuti. 2010. Terjemahan Tafsir Jalalain. Bandung. Sinar Baru Algesindo.
Hamka. 2002. Tafsir Al – Azhar juz 11. Jakarta: Pustaka Panjimas.
Mustofa, Al-Maraghi Ahmad. 1993. Tafsir Al-Maraghi. Semarang. PT. Karya Toha Putra Semarang.
Shihab,M.Quraish.2012. Tafsir Al-Lubab. Jakarta. Lentera Hati.
( METODE TANYA JAWAB )
QS. AL - BAQARAH AYAT 189
Disusun guna memenuhi tugas
Mata Kuliah : Tafsir Tarbawi
Dosen Pengampu : Muhammad Hufron,M.S.I
Disusun oleh:
Putri Marinda Amini (2117014)
Kelas : D
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI)
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN (FTIK)
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI PEKALONGAN (IAIN)
2018
BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Metode merupakan hal yang sangat penting dalam proses belajar mengajar di lembaga pendidikan. Apabila proses pendidikan tidak menggunakan metode yang tepat maka akan sulit untuk mendapatkan tujuan pembelajaran yang diharapkan. Namun masih saja di lapangan penggunaan metode mengajar ini banyak menemukan kendala. Kendala penggunaan metode yang tepat dalam belajar mengajar banyak dipengaruhi oleh beberapa faktor; keterampilan guru belum memadai, kurangnya sarana prasarana, kondisi lingkungan pendidikan dan kebijakan lembaga pendidikan yang belum menguntungkan pelaksanaan kegiatan belajar mengajar yang variatif.
Penting metode dalam proses belajar mengajar. Tetapi betapapun baiknya suatu metode bila tidak diiringi dengan kemampuan guru dalam menyampaikan materi maka metode tinggalah metode. Al-Qur’an sebagai kitab suci umat islam di dalamnya memuat berbagai informasi tentang seluruh kehidupan yang berkaitan dengan manusia. Karena memang Al-Qur’an diturunkan untuk umat manusia, sebagai sumber pedoman, sumber inspirasi dan sumber ilmu pengetahuan. Salah satunya dalah hal yang berkaitan dengan pendidikan.
Rumusan Masalah
Dengan ini maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut :
Apa Hakikat Metode Tanya Jawab?
Bagaimana Dalil tentang Metode Tanya Jawab?
Apa Isi dari Implementasi Metode Tanya Jawab dalam pendidikan?
Tujuan
Dengan ini maka dapat disimpulkan tujuan dan penjabarannya sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui hakikat metode tanya jawab
2. Untuk mengetahui dalil dari metode tanya jawab
3. Untuk mengetahui isi dari implementasi metode tanya jawab
BAB II
PEMBAHASAN
Hakikat Metode Tanya Jawab
Pengertian Metode Tanya Jawab
Menurut bahasa, istilah metode berasal dari kata meta dan hodos. Meta berarti melalui dan hodos berarti jalan atau cara. Dengan demikian metode dapat diartikn cara atau jalan yang dilalui untuk mencapai suatu tujuan. Dalam bahasa Arab, metode dikenal dengan istilah thariqah dan juga sering diungkapkan dengan istilah al – manhaj dan al – washilah yang berarti sistem dan perantara atau mediator. Metode tanya jawab ialah penyampaian pesan pengajaran dengan cara mengajukan pertanyaan-pertanyaan dan siswa memberikan jawaban, atau sebaliknya siswa diberi kesempatan bertanya dan guru menjawab pertanyaan.
Metode tanya jawab adalah salah satu teknik mengajar yang dapat membantu kekurangan-kekurangan yang terdapat pada metode ceramah. Ini disebabkan karena guru dapat memperoleh gambaran sejauh mana murid dapat mengerti dan dapat mengungkapkan apa yang telah diceramahkan. Dalam kegiatan belajar mengajar melalui tanya jawab, guru memberikan pertanyaan-pertanyaan atau siswa diberikan kesempatan untuk bertanya terlebih dahulu pada saat dimulai pelajaran, pada saat pertengahan dan pada akhir pelajaran.
Metode tanya jawab ini tidak dapat digunakan sebagai ukuran untuk menetapkan kadar pengetahuan setiap anak didik dalam suatu kelas, karena metode ini tidak memberi kesempatan yang sama pada setiap murid untuk menjawab pertanyaan. Metode tanya jawab dapat dipakai oleh guru untuk menetapkan perkiraan secara umum apakah anak didik yang mendapat giliran pertanyaan sudah memahami bahan pelajaran yang diberikan.
Anak didik yang biasanya kurang mencurahkan perhatiannya terhadap pelajaran yang diajarkan melalui metode ceramah akan berhati-hati terhadap pelajaran yang diajarkan melalui metode tanya jawab. Sebab anak didik tersebut sewaktu-waktu akan mendapatkan giliran untuk menjawab suatu pertanyaan yang akan diajukan kepadanya.
Metode tanya jawab ini tidak dapat digunakan sebagai ukuran untuk menetapkan kadar pengetahuan setiap anak didik dalam suatu kelas, Karena metode tanya jawab tidak memberi kesempatan yang sama pada setiap pelajar untuk menjawab pertanyaan. Hal itu disebabkan karena pelajar yang dapat menjawab pertanyaan hanyalah pelajar yang maksimal dalam belajarnya.
Untuk menghindari sesuatu yang dapat terjadi dalam metode tanya jawab terutama yang bersifat negatif maka perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut:
Pertanyaan harus singkat, jelas dan merangsang berfikir
Sesuai dengan kecerdasan dan kemampuan anak didik yang menerima pertanyaan
Memerlukan jawaban dalam bentuk kalimat atau uraian kecuali yang bersifat objektif tes dapat menggunakan ya atau tidak
Usahakan pertanyaan yang punya jawaban pasti bukan pertanyaan yang mempunyai jawaban beberapa alternatif.
Teknik mengajukan pertanyaan :
a. Mula-mula diajukan kepada semua anak didik baru ditanyakan kepada anak didik tertentu.
b. Berikan waktu untuk berfikir dan menyusun jawaban.
c. Pertanyaan diajukan bergilir, jangan berdasarkan urutan bangku atau urutan daftar yang telah disusun (daftar hadir).
Tujuan Metode Tanya Jawab:
a. Mengecek dan mengetahui sampai sejauh mana kemampuan anak didik terhadap pelajaran yang dikuasai.
b. Memberi kesempatan kepada anak didik untuk mengajukan pertanyaan kepada guru tentang suatu masalah yang belum difahami.
c. Memotivasi dan menimbulkan kompetensi belajar.
d. Melatih anak didik untuk berfikir dan berbicara secara sitematis berdasarkan pemikiran yang sebenarnya.
Kelebihan dan Kelemahan Metode Tanya Jawab
Kelebihannya Metode Tanya Jawab :
a. Kelas akan hidup karena anak didik aktif berfikir dan menyampaikan pikiran melalui berbicara.
b. Baik sekali untuk melatih anak didik agar berani mengemukakan pendapatnya.
c. Akan membawa kelas kedalam suasana diskusi.
d. Melatih peserta didik untuk berfikir dan berbicara secara sistematis.
e. Memberikan kesempatan kepada peserta didik mengembangkan unuk mengajukan pertanyaan kepada guru tentang suatu masalah yang belum dipahami.
Kelemahan Metode Tanya Jawab :
Waktu yang digunakan dalam pelajaran tersita dan kurang dikontrol secara baik oleh guru karena banyaknya pertanyaan yang timbul dari siswa.
Kemungkinan terjadi penyimpangan perhatian siswa bilamana terdapat pertanyaan atau jawaban yang tidak berkenan dengan sasaran yang dibicarakan.
Jalannya pengajaran kurang dapat terkoordinir secara baik, karena timbulnya pertanyaan-pertanyaan dari siswa yang mungkin tidak dapat dijawab secara tepat, baik oleh guru maupun oleh siswa.
Bagi siswa yang tidak aktif atau jarang bertannya bahkan tidak pernah, terkadang menjadi malu kepada teman-temannya.
Menimbulkan rasa gugup pada peserta didik yang tidak memiliki keberanian menjawab dan bertanya ( kemampuan lisan).
Dan untuk menggunakan metode tanya jawab, perlu diperhatikan hal-hal berikut:
Rumuskan tujuan pengajaran secara spesifik yang berpangkal pada tingkah laku siswa.
Guru melakukan pertanyaan dari hal-hal yang sederhana kemudian dilanjutkan kepada pertanyaan-pertanyaan yang mendasar tentang materi yang dibicarakan.
Dalil tentang Metode Tanya Jawab
QS. Al-Baqarah Ayat 189 :
يَسْأَلُونَكَعَنِالْأَهِلَّةِ ۖ قُلْهِيَمَوَاقِيتُلِلنَّاسِوَالْحَجِّ ۗ وَلَيْسَالْبِرُّبِأَنْتَأْتُواالْبُيُوتَمِنْظُهُورِهَاوَلَٰكِنَّالْبِرَّمَاتَّقَىٰ ۗ وَأْتُواالْبُيُوتَمِنْأَبْوَابِهَا ۚ وَاتَّقُوااللَّهَلَعَلَّكُمْتُفْلِحُونَ
Artinya: Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah: “Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadat) haji; Dan bukanlah kebajikan memasuki rumah-rumah dari belakangnya, akan tetapi kebajikan itu ialah kebajikan orang yang bertakwa. Dan masuklah ke rumah-rumah itu dari pintu-pintunya; dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung. (QS. Al-Baqarah, 2:189)
Tafsiran Ayat :
Al-Misbah
Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit, mengapa bulan pada mulanya terlihat seperti sabit, kecil, tetapi dari malam ke malam ia membesar hingga mencapai purnama, kemudian mengecil dan mengecil lagi, sampai menghilang dari pandangan? Katakanlah, “bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia, waktu dalam penggunaan Al-Qur’an adalah batas akhir peluang untuk menyelesaikan suatu aktivitas. Ia adalah kadar tertantu dari masa ke masa. Dengan keadaan bulan seperti itu manusia dapat mengetahui dan merancang aktivitasnya sehingga dapat terlaksana sesuai dengan waktu yang tersedia, tidak terlambat, apalagi terabaikan dengan berlalunya waktu, dan juga untuk pelaksanaan ibadah haji.
Kembali kepada pertanyaan sahabat Nabi di atas, al-Qur’an tidak menjawabnya sesuai dengan harapan mereka, tetapi memberi jawaban lain yang lebih sesuai dengan kepentingan mereka. Hal serupa banyak terjadi dengan tujuan mengingatkan padanya bahwa ada yang lebih wajar ditanyakan daripada yang diajukan. Memang Al-Qur’an adalah salah satu bentuk pendidikannya adalah mengarahkan mereka melalui jawaban-jawabannya.
Allah menegaskan bahwa, bukanlah kebajikan memasuki rumah-rumah dari belakangnya, akan tetapi kebajikan ialah kebajikan orang yang bertakwa, atau kebajikan adalah siapa yang menghindar dari kebiasaan dan pertanyaan yang serupa dengan yang dinyatakan di atas dan dalam kondisi yang serupa pula. Karena itu masuklah ke rumah-rumah itu dari pimtunya. Bertakwalah kepada Allah, berarti laksanakan tuntutan-Nya sepanjang kemampuan kamu dan jauhi larangan-Nya agar kamu beruntung.
Jalalain
يَسْأَلُونَكَعَنِالْأَهِلَّةِ ۖ قُلْهِيَمَوَاقِيتُلِلنَّاسِوَالْحَجِّ ۗ وَلَيْسَالْبِرُّبِأَنْتَأْتُواالْبُيُوتَمِنْظُهُورِهَاوَلَٰكِنَّالْبِرَّمَاتَّقَىٰ ۗ وَأْتُواالْبُيُوتَمِنْأَبْوَابِهَا ۚ وَاتَّقُوااللَّهَلَعَلَّكُمْتُفْلِحُونَ
(Mereka menanyakan kepadamu) hai Muhammad, (tentang bulan sabit). 'Ahillah' jamak dari 'hilal'. Pada permulaannya tampak kecil tipis kemudian terus bertambah hingga penuh dengan cahaya. Lalu kembali sebagaimana semula, maka keadaannya tidak seperti matahari yang tetap (katakanlah) kepada mereka, ("Ia adalah tanda-tanda waktu); mawaaqiit jamak dari miiqaat (bagi manusia) untuk mengetahui waktu bercocok tanam, berdagang, idah wanita, berpuasa, dan berbuka mereka (dan bagi haji) diathafkan atau dihubungkan kepada manusia, artinya untuk diketahui waktunya. Karena seandainya bulan tetap dalam keadaan yang sama, tentulah hal itu tidak dapat diketahui (Dan bukanlah kebaktian, jika kamu memasuki rumah-rumah dari belakangnya) yakni di waktu ihram, dengan membuat lubang di belakang rumah untuk tempat keluar masuk kamu dengan meninggalkan pintu. Hal itu biasa mereka lakukan dulu dan mereka anggap sebagai kebaktian, (tetapi kebaktian itu), maksudnya orang yang berbakti (ialah orang yang bertakwa) kepada Allah dengan tidak melanggar perintah-perintah-Nya, (dan masuklah ke rumah-rumah itu dari pintu-pintunya) baik sewaktu ihram maupun pada waktu-waktu lainnya, (dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beroleh keberuntungan").
Al-Azhar
Mereka bertanya kepada engkau dari hal bulan sabit. Katakanlah: dia itu adalah waktu-waktu yang ditentukan untuk manusia dan untuk haji. (pangkal ayat 189). Mereka menanyakan mengapa bulan begitu, bukan menanyakan apa yang berfaedah yang kita ambil dari keadaan bulan yang demikian. Belia berikan jawaban yang sesuai dengfan kewajiban beliau sebagai Rasul, sehingga kesanalah perhatian yang bertanya dibawa. Maka beliau katakanlah bahwasanya bulan terbit dengan keadaan yang demikian itu membawa hikmat yang penting sekali buat kita. Bulan sabit adalah untuki menentukan waktu bagi manusia. Dengan bulan yang demikian halnya manusia dapat menentukan iddah perempuan setelah bercerai, kapan waktu puasa, sampai pada waktu hari raya dan mengeluarkan zakat sekali setahun, sampai kepada waktu mengerjakan haji.
Kemudian datanglah sambungan ayat: “dan tidaklah kebajikan itu bahwa kamu masuk ke rumah kamu dari belakangnya, tetapi yang kebajikan ialah barang siapa yang bertakwa”. Menurut penafsiran dari penafsir Abu Ubaidah bahwa sambungan ini adalah senafas dengan yang sebelumnya, yaitu kalau hendak masuk ke dalam rumahmu janganlah dari pintu belakang. Maksudnya kalau hendak menanyakan sesuatu hal kepada seseorang hendaklah piulih soal yang pantas dijawab . kalau hendak menanyakan mengapa bulan mulanya laksana sabit, lama lama penuh dan khirnya kecil sebagai sabit lagi, janganlah hal itu ditanyakan kepada Nabi, tetapi tanyakanlah pada ahli falak. Tetapi kalau ditanyakan kepada Nabi apa hikmat yang dapat diambil dari peredaran bulan demikian, akan dapatlah dijawab oleh Nabi menurut selayaknya dan dapat sepadan dengan beliau. Selanjutnya Tuhan berfirman: “Dan datanglah ke rumah-rumah dari pintu-pintunya, dan takwalah kepada Allah, supaya kamu beroleh kejayaan.” (ujung ayat 189).
Al-Maraghi
Mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang hikmah berbeda-bedanya bentuk hilal dan faedahnya. Kemudian Rasulullah menjawab hilal itu adalah tanda-tanda bagi umat manusia di dalam menentukan urusan dunia mereka. Dengan hilal tersebut mereka mengetahui waktu mana yang paling tepat untuk melakukan cocok tanam atau berdagang. Hilal juga merupakan tanda-tanda waktu ibadah. Mereka bisa mentukan bulan Ramadhan dan saat berakhirnya bulan puasa. Terutama sekali, hilal itu dipakai untuk menentukan waktu haji.
Imam Bukhori dan Ibnu Jahir dari Al-Barra’ menceritakan bahwa orang-orang Arab di masa jahiliyyah jika melakukan ihram harus memasuki rumah nya dari pintu belakang. Kemudia turunlah ayat ini.
Setelah Allah memberitahukan kesalahan yang mereka lakukan, yakni dalam hal memasuki rumah dari belakang, dan dugaan mereka bahwa hal tersebut termasuk amal kebajikan yang hakiki. Kebajikan yang hakiki adalah takwa kepada Allah dengan menjauhkan diri dari perbuatan-perbuatan maksiat dan kotor, serta menghiasi diri dengan keutamaan-keutamaan, dan mengikuti kebenaran-kebenaran dan beramal kebajikan. Datangilah rumah kalian dari depan, dan hendaklah batin kalian adalah cermin lahiriyah, dan bertakwalah kepada Allah jika kalian mengharapkan keberhasilan dalam amaliah dan mencapai tujuan yang dicita-citakan. Orang-orang yang bertakwa kepada Allah selalu mendapatkan ilham menuju jalan keberhasilan.
Al-Lubab
Ayat 189 menjawab pertanyaan tentang bulan mengaapa bermula terlihat sabit kemudian membesar menjadi purnama, lalu kembali menjadi sabit lagi, dan menghilang dari pandangan. “Itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia sekaligus untuk penetapan waktu melaksanakan haji”, demikian jawaban Allah swt. Ini disusul dengan perintah masuk di pintu-pintu depan rumah, bukan meloncat ke atap atau membobol tembok dari belakang, sebagaimana adat kebiasaan sementara kaum musyrik ketika mereka selesai melaksanakan haji.
Implementasi Metode Tanya Jawab dalam Pendidikan
Aplikasi dalam Kehidupan
Di dalam menuntut ilmu, kita diharuskan menanyakan apa yang belum kita pahami, karena jika kita berusaha menafsirkan sendiri, maka kita mungkin bisa saja tersesat dalam menuntut ilmu. Di dalam menanyakan atau menjawab sesuatu itu juga harus ada tata cara dan harus sopan di dalam bertanya maupun menjawabnya.
Doa meminta dipahamkan ilmu perlu senantiasa diucapkan, dan memohon kepada Allah agar ilmu itu ditambahNya, sebab Allah-lah sumber segala ilmu.
Aspek Tarbawi.
Dalam menuntut ilmu itu hendaknya selalu berdoa kepada Allah agar ilmu yang kita terima tidak menyimpang dan sesuai dengan yang diajarkan Nabi Muhammad SAW.
Didalam menuntut ilmu, hendaknya belajar untuk bertanya. Jangan takut dianggap tidak paham oleh orang lain. Yang penting ilmu yang diterima itu benar.
Didalam menuntut ilmu, hendaknya juga harus mengamalkannya kepada orang lain, agar tidak hanya bermanfaat bagi kita saja, tetapi bermanfaat untuk orang lain. Selain itu agar kita tidak lupa ilmu yang sudah kita pelajari.
Setelah kita berusaha dalam menuntut ilmu, kita selalu bertawakal kepada Allah karena hal yang baik menurut kita, belum tentu baik menurut Allah, begitu juga sebaliknya. Mungkin ada hal baik yang sudah direncanakan oleh Allah.
Selalu berusaha dan tidak langsung pasrah dengan kehidupan yang buruk atau masih diberi cobaan oleh Allah. Kita harus tetap optimis.
BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Metode tanya jawab ialah penyampaian pesan pengajaran dengan cara mengajukan pertanyaan-pertanyaan dan siswa memberikan jawaban, atau sebaliknya siswa diberi kesempatan bertanya dan guru menjawab pertanyaan.
Dalam Tafsir Al-Maraghi, surat Al-Baqarah ayat 189 menjelaskan tentang Mereka menanyakan mengapa bulan begitu, bukan menanyakan apa yang berfaedah yang kita ambil dari keadaan bulan yang demikian. Beliau berikan jawaban yang sesuai dengan kewajiban beliau sebagai Rasul. Yang intinya yaitu bertakwalah kepada Allah jika kalian mengharapkan keberhasilan dalam amaliah dan mencapai tujuan yang dicita-citakan. Orang-orang yang bertakwa kepada Allah selalu mendapatkan ilham menuju jalan keberhasilan. Dalam kehidupan sehari-hari, jika kita tidak mengetahui akan suatu ilmu, hendaknya kita menanyakannya pada orang yang lebih mengetahui atau kepada para ahlinya. Oleh karena itu kita dianjurkan untuk tidak malu dalam bertanya, agar bertambahnya wawasan kita.
Aspek Tarbawi yang bisa kita ambil dalam surat Al-Baqarah ayat 189, Hendaknya bersemangat dalam mencari ilmu, supaya bertambahnya wawasan kita, dan menanyakan sesuatu kepada yang ahlinya.dalam menuntut ilmu itu, harus berani bertanya apabila ada ilmu yang belum dapat dipahami. Jangan malu untuk bertanya. Dan Rasulullah SAW juga memberikan contoh kepada kita untuk mengamalkan ilmunya agar bermanfaat untuk orang lain dan juga agar kita tidak lupa akan ilmu yang kita pelajari.
DAFTAR PUSTAKA
Gunawan, Heri. 2014. Pendidikan Islam, Kajian Teoritis dan Pemikiran Tokoh. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Ustman, Basyirudin. 2002. Metodologi Pembelajaran Agama Islam. Jakarta. PT. Intermasa.
Drajat, Zakiah dkk. 1995. Metodik Khusus Pengajaran Agama Islam. Jakarta. Bumi Aksara.
Shihab,M.Quraisy. 2005. Tafsir Al-Mishbah. Tangerang. Penerbit Lentera Hati.
Jalaluddin, Imam Al-Mahalli dan imam Jalaludin As-Suyuti. 2010. Terjemahan Tafsir Jalalain. Bandung. Sinar Baru Algesindo.
Hamka. 2002. Tafsir Al – Azhar juz 11. Jakarta: Pustaka Panjimas.
Mustofa, Al-Maraghi Ahmad. 1993. Tafsir Al-Maraghi. Semarang. PT. Karya Toha Putra Semarang.
Shihab,M.Quraish.2012. Tafsir Al-Lubab. Jakarta. Lentera Hati.
TT. 49 metode “khusus” pendidikan dalam QS. Ibrahim: 24-25
BAB II
PEMBAHASAN
Teori
Pengertian Metode Perumpamaan (Amtsal)
Kata amtsal adalah bentuk jamak dari kata mitsal. Kata matsal juga dipergunakan untuk menunjukan keadaan, sifat dan kisah yang mengagumkan . Hal ini dapat dilihat dalam ayat-ayat Al Quran al-Baqarah ayat 17.
Pengertian amtsal menurut beberapa tokoh ulama, sebagai berikut:
Menurut Ibn Al Qayyim, amtsal adalah menyerupakan dengan sesuatu yang lain dalam hal hukumnya, dan mendekatkan sesuatu yang bersifat abstrak dengan yang bersifat indrawi.
Al Suyuthy, amtsal adalah mendeskripsikan makna dengan gambaran yang kongkrit karena lebih mengesankan di hati, seperti menyerupakan yang samar dengan yang nampak.
Manna Al Qaththan, amtsal adalah menonjolkan makna dalam bentuk yang menarik dan padat serta mempunyai pengaruh yang dalam terhadap jiwa, baik berupa tasybih maupun kalimat-kalimat bebas.
Berdasarkan definisi-definisi yang telah dipaparkan diatas, dapat disimpulkan bahwa pengertian amtsal Al Quran adalaha membuat perumpamaan-perumpamaan mengenai keadaan sesuatu dengan sesuatu yang baik. Dengan demikian, jika diperhatikan seksama bahwasannya perumpamaan-perumpamaan di dalam al Quran menggunakan bntuk yang beragam, yang kira-kira dapat diperoleh pelajaran dan nasihat serta dapat ditangkap dan difahami oleh akal sehat. Misal: gambaran keindahan syurga.
Macam-macam Amtsal menurut Manna Al Qaththan dan Muhammad Bakar ismail:
Amtsal al musharaah atau al qiyasiyah, adalah perumpamaan yang di dalamnya menggunakan lafal matsal atau sesuatu yang menunjukkan kepada pengertian lafal tersebut. Firman Allah menegaskan dalam QS. ar-Radu ayat 35:
Artinya: Perumpamaan syurga yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertaqwa ialah seperti tanaman mengalir sungai-sungai di dalamnya...
Amtsal al Kaminah adalah suatu perumpamaan yang di dalamnya tidak disebutkan secara jelas, baik lafal tamtsil (perumpamaan langsung), keadaan, sifat-sifatnya, dan tidak pula dijelaskan pasti mengenai saat terjadinya peristiwa. Firman Allah menegaskan dalam QS. al-Furqan ayat 67:
Artinya: Dan orang-orang yang apabila membelanjakan harta mereka tidak berlebihan dan tidak pula kikir, dan adalah pembelajaaan itu di tengah-tengah antara yang demikian.
Amtsal al Mursalah adalah kalimat-kalimat itu bebas, tidak menggunakan lafal tasybih secara jelas tetapi kalimat itu berlaku atau berfungsi sebagai matsal, yang mana di dalamnya terdapat peringatan dan pelajaran bagi manusia. Firman Allah menegaskan dalam QS. an-Najm ayat 58:
Artinya: Tidak ada yang akan menyesatkan terjadinya hari itu selain Allah.
Dalil Metode Perumpamaan berdasarkan Al-Qur’an
QS. Ibrahim ayat 24-25
اَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللّهُ مَثَلاً كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ اَصْلَهاَ ثاَ بِتٌ وَّفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِِ تُؤْتِيْ اُكُلَهَا كُلَّ حِيْنٍ بِاِذْنِ رَبِّهَا, وَيَضْرِبُ اللّهُ الاَمْثَالَ النَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُوْنَْ
Artinya: “Tidaklah kamu melihat bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya ke langit. Ia memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan untuk manusia supaya mereka selalu ingat.
Tafsir Al-Maraghi
Allah mengumpamakan kalimat yang baik itu dengan pohon yang baik, berbuah, indah dipandang, harum baunya, tertancap kokoh didalam tanah, yang karenanya tidak mudah tumbang dan cabang-cabangnya menjulang tinggi ke udara. Keadaan ini menunjukkan kepada kokohnya pokok, kuatnya akar, dan jauhnya pohon dari benda-benda busuk yang ada didalam tanah serta kotoran bangunan. Maka pohon itu mendatangkan buahnya yang bersih dari segala kotoran, dan berbuah pada setiap musim dengan perintah serta izin penciptanya. Jika seluruh sifat tersebut dimiliki oleh pohon itu, maka akan banyak manusia yang menyukainya.
Allah mengumpamakan kalimat iman dengan sebuah pohon yang akarnya tetap kokoh di dalam tanah dan cabang-cabangnya menjulang tinggi ke udara, sedang pohon itu berbuah pada setiap musim. Hal ini disebabkan apabila hidayah telah bersemayam di dalam qalbu, seakan sebuah pohon yang berbuah pada setiap musim, karena buahnya tidak pernah terputus. Setiap qalbu menerima dari qalbu serupa dan mengambil dengan cepat, lebih cepat daripada kobaran api pada kayu bakar yang kering.
Orang-orang yang berjiwa luhur dan para pemikir besar adalah orang-orang yang memiliki kalimat yang baik, ilmu mereka memberikan nikmat dan rezeki kepada umat mereka didunia. Ilmu mereka tetap kokoh didalam hati mereka, sedang cabang-cabangnya menjalar ke alam-alam tertinggi atau alam terendah, dan pada setiap masa memberikan buahnya kepada putra-putra bangsa mereka atau putra bangsa lain. Orang-orang mukmin menggunakannya sebagai penunjuk jalan. Sungguh perumpamaan mereka seperti pohon kurma yang tetap tertanam, sedang cabang-cabangnya menjulang tinggi, disamping ia selalu berbuah dan manusia memakannya dimusim panas atau musim dingin.
Tafsir Al-Mishbah
Ayat ini mengajak siapapun yang dapat melihat, yakni merenung dan memperhatikan, dengan masyarakat: tidakkah kamu melihat, yakni memperhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik?. Kalimat itu seperti pohon yang baik, akarnya teguh menghunjam ke bawah sehingga tidak dapat dirobohkan oleh angin dan cabangnya tinggi menjulang ke langit, yakni ke atas. Ia memberikan buahnya pada setiap waktu, yakni musim dengan seizin Tuhannya sehingga tidak ada satu kekuatan yang dapat menghalangi pertumbuhan dan hasilnya yang memuaskan. Demikian Allah membuat perumpamaan-perumpamaan, yakni memberi contoh dan perumpamaan untuk manusia supaya dengan demikian makna-makna abstrak dapat ditangkap melalui hal-hal konkret sehingga mereka selalu ingat.
Sementara ulama membahas pohon apakah yang dimaksud sebagai perumpamaan kalimat yang baik itu. Ada yang berpendapat bahwa ia adalah pohon kurma. Berdasarkan satu riwayat yang menyatakan (Abdullah) putra Umar RA. Berkata bahwa suata ketika kami berada di sekeliling Rasul SAW. Lalu beliau bersabda: Beritahulah aku tentang sebuah pohon yang serupa dengan seorang muslim, memberikan buahnya pada setiap musim! Putra Umar berkata: Terlintas dalam benakku bahwa pohon itu adalah pohon kurma, tetapi aku lihat Abu Bakar dan Umar tidak berbicara, maka aku segan berbicara. Dan seketika Rasul SAW tidak mendengar jawaban dari hadirin, beliau bersabda: Pohon itu adalah pohon kurma. Setelah selesai pertemuan dengan Rasul SAW itu, aku berkata kepada (ayahku) Umar: Wahai Ayahku! Demi Allah telah terlintas dalam benakku bahwa yang dimaksud adalah pohon kurma. Beliau berkata: Mengapa engkau tidak menyampaikannya? Aku menjawab: Aku tidak melihat seorangpun berbicara, maka aku pun segan berbicara. Umar RA berkata: Seandainya engkau menyampaikannya, maka sungguh itu lebih kusukai dari ini dan itu (HR. Bukhari, Muslim, at-Tirmidzi dan lain-lain). (6)
Ulama juga berbeda pendapat tentang apa yang dimaksud dengan kalimat yang baik. Ada yang berpendapat bahwa ia adalah kalimat Tauhid, atau iman, bahkan ada yang memahaminya menunjuk kepada pribadi seorang mukmin. Iman terhunjam ke dalam hatinya, seperti terhunjamnya akar pohon, cabangnya menjulang ke atas, yakni amal-amalnya diterima oleh Allah, buahnya, yakni ganjaran Ilahi pun bertambah setiap saat. Thahir Ibn Asyur memahaminya dalam arti al-Quran dan petunjuk-petunjuknya. Thabathabai memahaminya dalam arti kepercayaan yang haq. Makna-makna diatas semuanya dapat bertemu. Agaknya secara singkat kita dapat menyatakan bahwa ia adalah Kalimat Tauhid.
Tafsir Ibnu Katsier
Ali bin Abi Thalhah berkata dari Ibnu Abbas, bahwa yang dimaksud dengan kalimat yang baik ialah ucapan Laailaha Illallah. Dan bahwa orang mukmin diumpamakan sebagai pohon yang baik, yang selalu tidak terputus-putus amalnya, pada waktu pagi, sore atau malam, bahkan pada setiap saat ada amal shalehnya yang naik ke atas. Diriwayatkan oleh Bukhari dari Ibnu Umar yang bercerita; bahwa Rasulullah pada suatu ketika bertanya kepada kita yang berada di sekelilingnya Beritahulah aku tentang sebuah pohon yang sifat-sifatnya menyerupai keadaan orang-orang muslim, yang tidak rontok daun-daunnya pada musim panas maupun musim dingin dan memberikan (menghasilkan) buahnya tiap waktu seizin Tuhannya. Itulah pohon kurma, Rasulullah menjawab sendiri pertanyaannya.
Implementasi Metode Perumpamaan dalam Pendidikan
Metode perumpamaan dapat di terapkan sebagai metode dalam kependidikan. Objek-objek perumpamaan yang nyata dipergunakan untuk memudahkan memahami konsep berdasarkan perhatian yang diberikan. Dalam surat Al-Ankabut: 41. Orang yang menyekutukan Allah (syirik) itu diumpamakan seperti sarang laba-laba, yang demikian lemah dan tidak berdaya. Perumpamaan tersebut dipergunakan untuk memperlihatkan ayat-ayat Allah dan meniadakan sesembahan kepada makhluk lain selain Allah yang pantas disembah. Fungsi kedua digunakannya perumpamaan ini adalah agar orang-orang mukmin melakukan perbuatan-perbuatan baik, sementara orang-orang kafir senantiasa melakukan perbuatan-perbuatan keji dan menjijikan.
Penjelasan konsep-konsep abstrak dengan makna-makna kongkrit di atas memberi adanya hubungan akrab dengan konsepsi qurani tentang persepsi manusia, dimana indera-indera manusia itu diberi peran yang menonjol. Fakta ini mempunyai aplikasi yang langsung dikelas dalam proses belajar mengajar, Apapun yang ada di lingkungan sekitar akan membantu pemahaman, konsep-konsep berdasarkan penelitian dan observasi yang amat berguna bagi proses mengetahui manusia. Abstraksi itu hanya dimungkinkan setelah pelajaran tersedia dengan data nyata yang dapat di konseptualisasik an.
Aspek Tarbawi
Allah akan meneguhkan iman orang-orang yang beriman pada masa hidupnya. Kemudian Allah juga akan meneguhkan iman mereka sesudah mati, yaitu didalam kubur yang merupakan tempat persinggahan pertama sebelum ke akhirat.
Mendekatkan makna pada pemahaman. Merangsang kesan dan pesan yang berkaitan dengan makna yang tersirat dalam perumpamaan tersebut, yang menggugah dan menumbuhkan berbagai perasaan ketuhanan
Perumpamaan merupakan motif yang menggunakan perasaan menghidupkan naluri, yang selanjutnya menggugah kehendak dan mendorong seseorang untuk melakukan amal yang baik dan menjauhi segala kemungkaran.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Al-Quran sebagai kitab suci dalam menyampaikan pesan-pesan Ilahi menggunakan Amtsal untuk menggambarkan sesuatu yang abstrak secara konkret, agar yang abstrak itu mudah dipahami dan berpengaruh bagi jiwa manusia. Dalam makalah ini dijelaskan bahwa metode Amtsal adalah suatu metode yang dengan cara menggunakan perumpamaan-perumpamaan dari sesuatu hal. Disini juga pengajar bisa menggunakan metode ini dalam penyampaian materi pembelajaran.
Kritik dan Saran
Dalam makalah ini tentunya penulis masih banyak kekurangan, untuk itu diharapkan dengan adanya kritik dan saran supaya dapat menjadi bahan evaluasi bagi kebaikan penulis kedepannya dan agar bisa menjadikan makalah ini mendekati sempurna.
BIODATA PENULIS
Nama : Gustian Khoeruzada Abdalla
Tempat, Tanggal lahir : Tegal, 18 Agustus 1999
Alamat : Jl. Garuda Desa Kemantran Rt. 05/02 Kec. Kramat Kab. Tegal
Hobi : Menggambar, Futsal
No. Hp : 082313678759
Motto hidup : Jangan merasa pintar ketika telah belajar, tetapi pintarlah merasa ketika belajar
Riwayat Pendidikan : TK Masyithoh Kemantran
SDN Kemantran 01
SMP N 2 Talang
SMK Diponegoro Lebaksiu Tegal
Organisasi : Perimka (Pengajian Remaja Islam Musholla Kanoman)
KSR PMI IAIN Pekalongan
KERABAT Pekalongan (Keluarga Alumni Babakan Tegal)
TT. 48 metode “khusus” pendidikan dalam QS. Al-A’raf: 176
BAB II
PEMBAHASAN
Pengertian Metode Kisah
Istilah metode dalam bahasa Arab diterjemahkan dengan طريقة bentuk jamaknya طرائق yang berarti jalan atau cara yang digunakan untuk mencapai suatu tujuan , bila dihubungkan dengan Pendidikan maka langkah tersebut harus diwujudkan dalam proses pendidikan dalam rangka pembentukan kepribadian.
Dari segi asal usul katanya metode berasal dari dua kata, yaitu metha dan hodos yang berarti jalan atau cara. Dengan demikian metode dapat berarti jalan atau cara yang harus dilalui untuk mencapai suatu tujuan
Dalam bahasa arab, kata kisah atau cerita adalah قصةbentuk jamaknya adalah
قصص yang berarti kisah atau cerita, sedangkan dalam bahasa Inggris adalah story, tale, dan narrative yang berarti pula cerita.
Jadi metode kisah mengandung arti suatu cara dalam menyampaikan materi pelajaran dengan menuturkan secara kronologis tentang bagaimana terjadinya sesuatu hal baik yang sebenarnya terjadi ataupun hanya rekaan saja. Metode kisah merupakan salah satu metode yang mashur dan terbaik, sebab kisah ini mampu menyentuh jiwa jika didasarkan oleh ketulusan hati yang mendalam.
Dalil Metode Kisah Berdasarkan Al-qur’an
Q.S Al-A’raaf Ayat, 176
وَلَوْ شِئْنَا لَرَفَعْنَٰهُ بِهَا وَلَٰكِنَّهُۥٓ أَخْلَدَ إِلَى ٱلْأَرْضِ وَٱتَّبَعَ هَوَىٰهُ ۚ فَمَثَلُهُۥ كَمَثَلِ ٱلْكَلْبِ إِن تَحْمِلْ عَلَيْهِ يَلْهَثْ أَوْ تَتْرُكْهُ يَلْهَث ۚ ذَّٰلِكَ مَثَلُ ٱلْقَوْمِ ٱلَّذِينَ كَذَّبُوا بِـَٔايَٰتِنَا ۚ فَٱقْصُصِ ٱلْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ۟
Artinya: “Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir.”
Tafsir ibu katsir
Demikianlah yang diceritakan oleh Sayyar kepadaku, tetapi aku tidak tahu barangkali di dalamnya kemasukan sesuatu dari kisah lainnya. Menurut kami dia adalah Bal'am. Menurut suatu pendapat yaitu Bal'am ibnu,Ba'ura, menurut pendapat lainnya Ibnu Ibr, dan menurut pendapat yang lainnya dia adalah Ibnu Ba'ur ibnu Syahtum ibnu Qusytum ibnu Maab ibnu Lut ibnu Haran, sedangkan menurut pendapat yang lainnya lagi adalah Ibnu Haran ibnu Azar. Dia tinggal di suatu kampung yang berada di wilayah Al Balqa. Ibnu Asakir mengatakan bahwa dialah orang yang mengetahui Ismul A'zam, lalu ia murtad dari agamanya; kisahnya disebutkan di dalam Al-Qur’an. Kemudian sebagian dari kisahnya adalah seperti yang telah disebutkan di atas, bersumberkan dari Wahb dan lain lainnya.
maka perumpamaannya seperti anjing, jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya, dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Para ahli tafsir berbeda pendapat mengenai maknanya. Menurut teks Ibnu Ishaq, dari Salim, dari Abun Nadr, lidah Bal'am terjulur sampai dadanya. Lalu dia diserupakan dengan anjing yang selalu menjulurkan lidahnya dalam kedua keadaan tersebut, yakni jika dihardik menjulurkan lidahnya, dan jika dibiarkan tetap menjulurkan lidahnya. Menurut pendapat lain, makna yang dimaksud ialah 'Bal'am menjadi seperti anjing dalam hal kesesatannya dan keberlangsungannya
Menurut pendapat lainnya, makna yang dimaksud ialah 'kalbu orang kafir dan orang munafik serta orang yang sesat kosong dari hidayah, hatinya penuh dengan penyakit yang tak terobatkan. Kemudian pengertian ini diungkapkan ke dalam ungkapan itu. Hal yang semisal
Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisahkisah agar mereka berpikir.Allah Swt. berfirman kepada Nabi Muhammad Saw. yakni agar Bani Israil mengetahui kisah Bal'am dan apa yang telah menimpa Nya, karena dia telah salah menggunakan nikmat Allah yang telah dikaruniakan kepadanya, nikmat itu ialah Ismul A 'zam yang diajarkan Allah kepadanya. Ismul A'zam adalah suatu doa yang apabila dipanjatkan untuk memohon sesuatu, niscaya dikabulkan dengan seketika. Ternyata Bal'am menggunakan doa mustajab ini untuk selain ketaatan kepada Tuhannya, bahkan menggunakannya untuk memohon kehancuran bagi bala tentara TuhanYang Maha Pemurah, yaitu orang-orang yang beriman, pengikut hamba dan rasulNya di masa itu, yakni Nabi Musa ibnu Imran a.s. yang dijuluki sebagai Kalimullah (orang yang pernah diajak berbicara secara langsung oleh Allah). Karena itulah dalam firman selanjutnya disebutkan
Amat buruklah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat Allah Swt. berfirman bahwa seburuk-buruknya perumpamaan adalah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Dengan kata lain, seburu-buruk perumpamaan adalah perumpamaan mereka yang diserupakan dengan anjing, karena anjing tidak ada yang dikejarnya selain mencari makanan dan menyalurkan nafsu syahwat. Barang siapa yang menyimpang dari jalur ilmu dan jalan petunjuk, lalu mengejar kemauan hawa nafsu dan birahinya, maka keadaannya mirip dengan anjing dan seburuk-buruk perumpamaan ialah yang diserupakan dengan anjing. Karena itulah di dalam sebuah hadis sahih disebutkan bahwa Nabi Saw. telah bersabda: Tiada pada kami suatu perumpamaan yang lebih buruk daripada perumpamaan seseorang yang mencabut kembali hibahnya, perumpamaannya sama dengan anjing, yang memakan kembali muntahnya.
Tafsir Jalalayn
176. (Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan dia) kepada derajat para ulama (dengan ayat-ayat itu). seumpamanya Kami memberikan taufik/kekuatan kepadanya untuk mengamalkan ayat-ayat itu (tetapi dia cenderung) yaitu lebih menyukai (kepada tanah) yakni harta benda dan duniawi (dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah) dalam doa yang dilakukannya, akhirnya Kami balik merendahkan derajatnya. (Maka perumpamaannya) ciri khasnya (seperti anjing jika kamu menghalaunya) mengusir dan menghardiknya (diulurkannya lidahnya) lidahnya menjulur (atau) jika (kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya juga) sedangkan sifat seperti itu tidak terdapat pada hewan-hewan selain anjing. Kedua jumlah syarat menjadi hal, ia menjulurkan lidahnya dalam keadaan terhina dalam segala kondisi. Maksudnya penyerupaan/tasybih ini ialah mengumpamakan dalam hal kerendahan dan kehinaan dengan qarinah adanya fa yang memberikan pengertian tertib dengan kalimat sebelumnya, yakni kecenderungan terhadap duniawi dan mengikuti hawa nafsu rendahnya, juga karena adanya qarinah/bukti firman-Nya, (Demikian itulah) perumpamaan itulah (perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah kisah-kisah itu) kepada orang-orang Yahudi (agar mereka berpikir) agar mereka mau memikirkannyahingga mereka mau beriman.
Implementasi Metode Kisah Dalam Pendidikan
Metode cerita dalam dunia pendidikan harus memperhatikan situasi kapan metode ini cocok digunakan, tentunya juga dengan memperhatikan tujuan pembelajaran tersebut. Hal tersebut untuk menjadikan metode cerita yang digunakan tepat sasaan dan dapat menjadikan materi pembelajaran tersampaikan dengan baik.
Adapun langkah-langkahnya sebagai berikut:
Apersepsi
Guru dapat memberikan apersepsi yang menarik perhatian anak untuk mendengarkan cerita. Misalnya guru menggunakan metode tanya jawab.
Penyajian
Guru dalam menyajikan cerita sejarah hendaknya menggunakan gaya bahasa cerita, yaitu ia harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
Hendaknya guru menggunakan gaya bahasa yang menarik.
b. Penyajian sejarah hendaknya secara periodisasi, yang setiap periodenya merupakan bagian yang tak terpisahkan dan diselingi dengan pertanyaan-pertanyaan untuk memantapkan isi pokok dari masing-masing periode.
c. Menulis judul periode pada papan tulis sebelum atau sesudah penyajian.
d. Menuliskan nama-nama tokoh yang berperan dalam cerita yang diuraikan, agar nama-nama tersebut menjadi ingatan pelajar dan memudahkan mereka mengingatkannya.
e. Dalam penyajian, guru harus memperhatikan usaha mengkongkretkan pengertian melalui mimic dan pantomimic agar tergugah perasaan siswa untuk mencintai dan meneladani tokoh pemeran sejarah tersebut.
Korelasi
Menghubungkan peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam sejarah dengan realisasi kehidupan sekarang dan topik-topik pendidikan agama yang lain, ataupun dengan bidang studi lainnyabila ada kesempatan.
Di samping itu, guru juga harus mengaitkan sejarah dengan kehidupan modern, guna menggerakkan kecenderungan yang kuat pada diri siswa untuk memiliki semangat kehidupan masyarakat muslim yang sejahtera.
Kesimpulan
Guru menyuruh agar siswa-siswa mengulang cerita, dan menanyakan kepada mereka peristiwa-peristiwa, periode demi periode. Setelah itu guru mencatat di papan tulis pokok-pokok kesimpulan dari setiap periode sebagai ihtisar.Dalam hal ini termasuk rangkuman-rangkuman nilai-nilai luhur, moral, dan ajaran-ajaran yang berkesan dengan disertakan sedikit penjelasan tentang keteladanan serta saran-saran yang berguna.
Evaluasi
Guru mengadakan diskusi dengan siswa mengenai semua materi yang baru diberikan untuk mengetahui sampai dimana mereka dapat menguasai pelajaran, atau dapat juga merekadisuruh menulis bagian-bagian pelajaran yang mengandung nilai moral, atau mendramatisasikan di depan kelas atau di pentas yang tersedia, atau menyuruh siswa menuliskan perasaan mereka terhadap tokoh sejarah dan sejauh mana mereka terpengaruh dengan kepribadian dan tingkah laku tokoh tersebut. Dapat juga guru menyuruh beberapa siswa mengulangi cerita tersebut dalam bentuk yang baik, yang dapat merangsang semangat kompetisi positif dikalangan siswa sendiri.
Alat-alat peraga
Hendaknya guru menyiapkan bermacam-macam alat peraga dan menggunakannya bilamana perlu. Dalam menguraikan peristiwa hijrah nabi misalnya, guru dapat menggunakan slide atau film kalau tersedia, memperdengarkan rekaman tentang drama yang sering diputar di pemancar radio pada hari-hari besar Islam seperti maulid, hijrah ataupun Isra’ Mi’raj. Mungkin juga dapat diambilkan naskah/pita kaset dari pemancar-pemancar yang ada.Atau salah seorang siswa disuruh merekamnya dari salah satu pemancar yang dapat ditangkap di daerah tersebut.
TT. 45 METODE PENDIDIKAN UNIVERSAL “METODE PERSUASIF" (Qs. Al Imran : 133)
METODE PENDIDIKAN UNIVERSAL
“METODE PERSUASIF"
(Qs. Al Imran : 133)
Makalah
Disusun Guna Untuk Memenuhi Tugas
Mata Kuliah : Tafsir tarbawi
Dosen Pengampu : Muhammad Ghufron, M.S.I
Oleh:
Afrikhatul ula ( 2117336)
Kelas : D
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI PEKALONGAN
2018
KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur kami panjatkan kehadiran Allah SWT, yang telah memberikan taufiq serta hidayahNya. Sehingga kami dapat menyusun makalah ini dengan judul materi.........dalam surah ali imron ayat 133
Shalawat dan salam semoga selalu senantiasa tercurah kepada junjungan nabi besar Muhammad SAW. Beserta sahabat, keluarga dan pengikut beliau hingga akhir zaman. Yang telah membawa kita dari alam kebodohan menuju alam terang benderang bercahayakan iman, islam dan ihsan.
Tak lupa kami ucapkan terima kasih sedalam-dalamnya kepada bapak dosen Muhammad Ghufron, M.S.I selaku dosen mata kuliah tafsir tarbawi yang telah mendukung hingga menyelesaikan makalah ini.
Menyadari masih banyak kekurangan dalam pembuatan makalah ini, sehingga apabila ada kekurangan dalam penulisan ini serta isi atau materi mohon saran dan kritiknya secara langsung maupun tidak langsung. Untuk kesempurnaan makalah ini.
Pekalongan, 23 November 2018
Afrikhatul ula
2117336
BAB I
PENDAHULUAN
A . latar Belakang
Persuasi adalah komunikasi yang digunakan untuk mempengaruhi dan meyakinkan orang lain. Melalui persuasi setiap individu mencoba berusaha mempengaruhi kepercayaan dan harapan orang lain. Persuasi pada prinsipnya merupakan upaya menyampaikan informasi dan berinteraksi antar manusia dalam kondisi di mana kedua belah pihak sama-sama memahami dan sepakat untuk melakukan sesuatu yang penting bagi kedua belah pihak. Bila berkomunikasi dengan sesama, setiap individu berharap pesan yang disampaikan tersebut dapat dimengerti dan dipercayai. Persuasif merupakan salah satu strategi yang dapat digunakan agar pesan yang ingin disampaikan dimengerti dan dipercayai oleh orang lain.
B . Rumusan Masalah
Apa Hakikat metode persuasif ?
Apa Dalil metode filosofis berdasarkan Al-Quran ?
Bagaimana implementasi metode persuasif dalam pendidikan ?
C . Tujuan Masalah
Untuk mengetahui hakikat metode persuasif.
Untuk mengetahui metode filosofis berdasarkan al- quran.
Untuk mengetahui bagaimana implementasi persuasif dalam pendidikan.
BAB II
PENDAHULUAN
Pengertian Hakikat Metode Persuasif
Secara etimologi Metode dalam Bahasa Arab dikenal dengan istilah thariqah, yang berarti langkah-langkah strategis yang dipersiapkan untuk melakukan suatu pekerjaan. Bila dihubungkan dengan pendidikan, maka metode itu harus diwujudkan dalam proses pendidikan, dalam rangka mengembangkan sikap mental dan kepribadian agar peserta didik dapat menerima pelajaran dengan mudah, efektif, dan dapat dicerna dengan baik.
Metode mengajar dapat diartikan sebagi cara yang dipergunakan oleh guru dalam membelajrkan peserta didik saat berlangsungnya proses pembelajaran.
Istilah persuasi (persuasion) berasal dari perkataan latin persuasio. Kata kerjanya adalah persuadere yang berarti membujuk, mengajak atau merayu. Komunikasi persuasif adalah komunikasi yang bertujuan untuk merubah atau mempengaruhi kepercayaan, sikap, dan perilaku seseorang sehingga bertindak sesuai dengan apa yang diharapkan oleh komunikator.
Jika dikaji menggunakan pendekatan ilmu komunikasi, Al-Quran mengandung ajaran tentang prinsip-prinsip komunikasi persuasif. Sinyalmen tersebut memerlukan pengamatan secara seksama dan interpretasi dengan perspektif ilmu sosial khususnya komunikasi. Begitu pula hadits Nabi Muhammad Karakteristik komunikasi persuasif yang ditandai dengan unsur membujuk, mengajak, mempengaruhi dan meyakinkan, jika dilihat dari perspektif Islam dapat dikategorikan pada dakwah Islam. Unsur-unsur yang terkandung dalam komunikasi persuasif menjadi dasar kegiatan dakwah karena dakwah secara etimologis berarti mengajak atau menyeru. Dakwah merupakan bagian dari tugas setiap muslim, dalam beberapa ayat Al-Quran disebutkan bahwa dakwah menuju jalan Allah SWT hukumnya wajib. Kewajiban ini didasari perintah melaksanakan dakwah disampaikan dalam bentuk fiil amr, yaitu perintah secara langsung sebagaimana yang terdapat dalam surat An-Nahl ayat 125. dakwah yang dimasud dalam konteks yang relevan dengan komunikasi persuasif adalah dakwah billisan atau dakwah dengan menggunakan kata-kata atau lebih dikebal dengan tabligh. SAW memuat prinsip-prinsip komunikasi. Term tersebut di dalam konteks Agama Islam dapat pula dipahami dan dikategorikan sebagai bagian dari ilmu dakwah.
B . Dalil metode filosofis berdasarkan Al-Quran
وَسَارِعُوٓا۟ إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمٰوٰتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ ﴿آل عمران:١٣٣﴾
Artinya :“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa,
Tafsir al azhar
“ Berlomba- lombalah kamu sekalian kepada ampunan tuhan kamu.”(pangkal ayat 133) Tidak pandang kaya, tidak pandang miskin. Tidak pandang kedudukan tinggi ataupun derajat rendah, semuanya insyaf akan kekurangan diri. Perintah tuhan belum terlaksana semuanya, lalu semuanya berlomba memohon ampunan, dengan mulut dan dengan perbuatan, semuanya mencari rezeki yang halal. “Dan Syurga yang(luasnya)seluas langit dan bumi yang di sediakan untuk orang-orang yang bertakwa.”(ujung ayat 133).
Berlomba – lomba memohon ampunan kepada allah, kaya dan miskin. Berlomba pula mengejar syurga dengan berbuat amal, tolong-menolong bantu membantu sesama manusia dan taat menuruti perinta Allah dan Rasul. Maka bahagialah hidup di dunia diliputi rahmat dan tersedialah kelak syurga yang luas seluas langit dan bumi, untuk orang yang bertakwa.
Tafsir al- maraghi
Bersegeralah melakukan amala yang dapat menyampaikan kepada ampunan tuhan atas dosa-dosa kalian, yang dapat memasukan kalian ke surga yang luasnya di sediakan oleh Allah untuk orang yang mau bertakwa, melaksanakan perintah- perintahnya-Nya serta menjauhi larangan-laranganya. Untuk itu beramal baiklah dan bertaubatlah dari perbuatan dosa, seperti melakukan riba dan sebagianya, dan bersedakalah kepada yang sengsara yang membutuhkan pertolongan.
Diriwayatkan bahwa Heraclius, raja romawi mengirim utusan kepada Nabi saw. Dengan membawa sepucuk surat dari beliau yang di dalamnya tertera.” Engkau melalui surat mengajak kami ke surga yang luasnya bagai langit dan bumi, lalu dimana neraka ? maka Rasulullah saw. Bersabda, subhnallah(Maha Suci Allah), dimanakah malam hari bila siang hari datang?.
Yang telah disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. Dalam ayat ini terdapat bukti yang menunjukkan bahwa surga itu, sekarang telah diciptakan dan tempatnya berdada di luar jagad raya ini. Sebab ayat ini telah membuktikan bhwa surga lebih besar di banding jagad raya.
Ibnu katsir
Al – Bazar meriwayatkan dari abu huairah, dia berkata, seseorang datang kepada Rasulullah saw. Kemudian bertanya, bagaimana pendapat engkau mengenai firman allah, ‘ surga yang luasnya seluas langit dan bumi,? Lalu dimanakah neraka? Nabi saw bersabda,’ bagaimana menurutmu apabila malam datang dan merambahi segala perkara , maka dimanakah siang, orang itu menjawab, ‘ di tempat yang di kehendaki oleh Allah. Nabi bersabda demikian pula neraka. Ia berada di tempat yang di kehendaki Allah ta’ala. Ini terlihat jelas dalam hadist Abu Hurairah dari Al- Bazar.
C .Aplikasi kehidupan
Meraih ampunan Allah, meraih syurganya yang lebarnya selebar langit dan bumi, apalagi panjangnya !!! surga Allah di sediakan bagi orang – orang yang bertakwa. Semoga Allah memudahkan kita untuk masuk di dalamnya. Syaikhul islam ibnu Taimiyah mengatakan dalam majmu fatawa (xx/132)bahwa takwa bukanlah meninggalkan maksiat namun takwa sebagaiman di tafsirkan oleh ulam-ulama dahulu dan belakangan adalah melakukan apa yang Allah larang. Di anatara bentuk ketakwaan adalah dimana menjaga shalat lima waktu di mana Allah memerintahkan pada hal ini kepada kita semua.
BAB III
Penutup
Kesimpulan
Metode itu harus diwujudkan dalam proses pendidikan, dalam rangka mengembangkan sikap mental dan kepribadian agar peserta didik dapat menerima pelajaran dengan mudah, efektif, dan dapat dicerna dengan baik. Metode mengajar dapat diartikan sebagi cara yang dipergunakan oleh guru dalam membelajrkan peserta didik saat berlangsungnya proses pembelajaran.
Pada ayat ini menganjurkan kepada berlomba-lomba dalam kebaikan semuanya berlomba memohon ampunan, dengan mulut dan dengan perbuatan, semuanya mencari rezeki yang halal.
Saran
Dengan menyusun makalah ini penulis masih jauh dari kata sempurna kedepanya penulis akan lebih fokus dan details dalam menjelaskan makalah. Untuk itu kepada para pembaca untuk memberikan sumbangan saran.
“METODE PERSUASIF"
(Qs. Al Imran : 133)
Makalah
Disusun Guna Untuk Memenuhi Tugas
Mata Kuliah : Tafsir tarbawi
Dosen Pengampu : Muhammad Ghufron, M.S.I
Oleh:
Afrikhatul ula ( 2117336)
Kelas : D
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI PEKALONGAN
2018
KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur kami panjatkan kehadiran Allah SWT, yang telah memberikan taufiq serta hidayahNya. Sehingga kami dapat menyusun makalah ini dengan judul materi.........dalam surah ali imron ayat 133
Shalawat dan salam semoga selalu senantiasa tercurah kepada junjungan nabi besar Muhammad SAW. Beserta sahabat, keluarga dan pengikut beliau hingga akhir zaman. Yang telah membawa kita dari alam kebodohan menuju alam terang benderang bercahayakan iman, islam dan ihsan.
Tak lupa kami ucapkan terima kasih sedalam-dalamnya kepada bapak dosen Muhammad Ghufron, M.S.I selaku dosen mata kuliah tafsir tarbawi yang telah mendukung hingga menyelesaikan makalah ini.
Menyadari masih banyak kekurangan dalam pembuatan makalah ini, sehingga apabila ada kekurangan dalam penulisan ini serta isi atau materi mohon saran dan kritiknya secara langsung maupun tidak langsung. Untuk kesempurnaan makalah ini.
Pekalongan, 23 November 2018
Afrikhatul ula
2117336
BAB I
PENDAHULUAN
A . latar Belakang
Persuasi adalah komunikasi yang digunakan untuk mempengaruhi dan meyakinkan orang lain. Melalui persuasi setiap individu mencoba berusaha mempengaruhi kepercayaan dan harapan orang lain. Persuasi pada prinsipnya merupakan upaya menyampaikan informasi dan berinteraksi antar manusia dalam kondisi di mana kedua belah pihak sama-sama memahami dan sepakat untuk melakukan sesuatu yang penting bagi kedua belah pihak. Bila berkomunikasi dengan sesama, setiap individu berharap pesan yang disampaikan tersebut dapat dimengerti dan dipercayai. Persuasif merupakan salah satu strategi yang dapat digunakan agar pesan yang ingin disampaikan dimengerti dan dipercayai oleh orang lain.
B . Rumusan Masalah
Apa Hakikat metode persuasif ?
Apa Dalil metode filosofis berdasarkan Al-Quran ?
Bagaimana implementasi metode persuasif dalam pendidikan ?
C . Tujuan Masalah
Untuk mengetahui hakikat metode persuasif.
Untuk mengetahui metode filosofis berdasarkan al- quran.
Untuk mengetahui bagaimana implementasi persuasif dalam pendidikan.
BAB II
PENDAHULUAN
Pengertian Hakikat Metode Persuasif
Secara etimologi Metode dalam Bahasa Arab dikenal dengan istilah thariqah, yang berarti langkah-langkah strategis yang dipersiapkan untuk melakukan suatu pekerjaan. Bila dihubungkan dengan pendidikan, maka metode itu harus diwujudkan dalam proses pendidikan, dalam rangka mengembangkan sikap mental dan kepribadian agar peserta didik dapat menerima pelajaran dengan mudah, efektif, dan dapat dicerna dengan baik.
Metode mengajar dapat diartikan sebagi cara yang dipergunakan oleh guru dalam membelajrkan peserta didik saat berlangsungnya proses pembelajaran.
Istilah persuasi (persuasion) berasal dari perkataan latin persuasio. Kata kerjanya adalah persuadere yang berarti membujuk, mengajak atau merayu. Komunikasi persuasif adalah komunikasi yang bertujuan untuk merubah atau mempengaruhi kepercayaan, sikap, dan perilaku seseorang sehingga bertindak sesuai dengan apa yang diharapkan oleh komunikator.
Jika dikaji menggunakan pendekatan ilmu komunikasi, Al-Quran mengandung ajaran tentang prinsip-prinsip komunikasi persuasif. Sinyalmen tersebut memerlukan pengamatan secara seksama dan interpretasi dengan perspektif ilmu sosial khususnya komunikasi. Begitu pula hadits Nabi Muhammad Karakteristik komunikasi persuasif yang ditandai dengan unsur membujuk, mengajak, mempengaruhi dan meyakinkan, jika dilihat dari perspektif Islam dapat dikategorikan pada dakwah Islam. Unsur-unsur yang terkandung dalam komunikasi persuasif menjadi dasar kegiatan dakwah karena dakwah secara etimologis berarti mengajak atau menyeru. Dakwah merupakan bagian dari tugas setiap muslim, dalam beberapa ayat Al-Quran disebutkan bahwa dakwah menuju jalan Allah SWT hukumnya wajib. Kewajiban ini didasari perintah melaksanakan dakwah disampaikan dalam bentuk fiil amr, yaitu perintah secara langsung sebagaimana yang terdapat dalam surat An-Nahl ayat 125. dakwah yang dimasud dalam konteks yang relevan dengan komunikasi persuasif adalah dakwah billisan atau dakwah dengan menggunakan kata-kata atau lebih dikebal dengan tabligh. SAW memuat prinsip-prinsip komunikasi. Term tersebut di dalam konteks Agama Islam dapat pula dipahami dan dikategorikan sebagai bagian dari ilmu dakwah.
B . Dalil metode filosofis berdasarkan Al-Quran
وَسَارِعُوٓا۟ إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمٰوٰتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ ﴿آل عمران:١٣٣﴾
Artinya :“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa,
Tafsir al azhar
“ Berlomba- lombalah kamu sekalian kepada ampunan tuhan kamu.”(pangkal ayat 133) Tidak pandang kaya, tidak pandang miskin. Tidak pandang kedudukan tinggi ataupun derajat rendah, semuanya insyaf akan kekurangan diri. Perintah tuhan belum terlaksana semuanya, lalu semuanya berlomba memohon ampunan, dengan mulut dan dengan perbuatan, semuanya mencari rezeki yang halal. “Dan Syurga yang(luasnya)seluas langit dan bumi yang di sediakan untuk orang-orang yang bertakwa.”(ujung ayat 133).
Berlomba – lomba memohon ampunan kepada allah, kaya dan miskin. Berlomba pula mengejar syurga dengan berbuat amal, tolong-menolong bantu membantu sesama manusia dan taat menuruti perinta Allah dan Rasul. Maka bahagialah hidup di dunia diliputi rahmat dan tersedialah kelak syurga yang luas seluas langit dan bumi, untuk orang yang bertakwa.
Tafsir al- maraghi
Bersegeralah melakukan amala yang dapat menyampaikan kepada ampunan tuhan atas dosa-dosa kalian, yang dapat memasukan kalian ke surga yang luasnya di sediakan oleh Allah untuk orang yang mau bertakwa, melaksanakan perintah- perintahnya-Nya serta menjauhi larangan-laranganya. Untuk itu beramal baiklah dan bertaubatlah dari perbuatan dosa, seperti melakukan riba dan sebagianya, dan bersedakalah kepada yang sengsara yang membutuhkan pertolongan.
Diriwayatkan bahwa Heraclius, raja romawi mengirim utusan kepada Nabi saw. Dengan membawa sepucuk surat dari beliau yang di dalamnya tertera.” Engkau melalui surat mengajak kami ke surga yang luasnya bagai langit dan bumi, lalu dimana neraka ? maka Rasulullah saw. Bersabda, subhnallah(Maha Suci Allah), dimanakah malam hari bila siang hari datang?.
Yang telah disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. Dalam ayat ini terdapat bukti yang menunjukkan bahwa surga itu, sekarang telah diciptakan dan tempatnya berdada di luar jagad raya ini. Sebab ayat ini telah membuktikan bhwa surga lebih besar di banding jagad raya.
Ibnu katsir
Al – Bazar meriwayatkan dari abu huairah, dia berkata, seseorang datang kepada Rasulullah saw. Kemudian bertanya, bagaimana pendapat engkau mengenai firman allah, ‘ surga yang luasnya seluas langit dan bumi,? Lalu dimanakah neraka? Nabi saw bersabda,’ bagaimana menurutmu apabila malam datang dan merambahi segala perkara , maka dimanakah siang, orang itu menjawab, ‘ di tempat yang di kehendaki oleh Allah. Nabi bersabda demikian pula neraka. Ia berada di tempat yang di kehendaki Allah ta’ala. Ini terlihat jelas dalam hadist Abu Hurairah dari Al- Bazar.
C .Aplikasi kehidupan
Meraih ampunan Allah, meraih syurganya yang lebarnya selebar langit dan bumi, apalagi panjangnya !!! surga Allah di sediakan bagi orang – orang yang bertakwa. Semoga Allah memudahkan kita untuk masuk di dalamnya. Syaikhul islam ibnu Taimiyah mengatakan dalam majmu fatawa (xx/132)bahwa takwa bukanlah meninggalkan maksiat namun takwa sebagaiman di tafsirkan oleh ulam-ulama dahulu dan belakangan adalah melakukan apa yang Allah larang. Di anatara bentuk ketakwaan adalah dimana menjaga shalat lima waktu di mana Allah memerintahkan pada hal ini kepada kita semua.
BAB III
Penutup
Kesimpulan
Metode itu harus diwujudkan dalam proses pendidikan, dalam rangka mengembangkan sikap mental dan kepribadian agar peserta didik dapat menerima pelajaran dengan mudah, efektif, dan dapat dicerna dengan baik. Metode mengajar dapat diartikan sebagi cara yang dipergunakan oleh guru dalam membelajrkan peserta didik saat berlangsungnya proses pembelajaran.
Pada ayat ini menganjurkan kepada berlomba-lomba dalam kebaikan semuanya berlomba memohon ampunan, dengan mulut dan dengan perbuatan, semuanya mencari rezeki yang halal.
Saran
Dengan menyusun makalah ini penulis masih jauh dari kata sempurna kedepanya penulis akan lebih fokus dan details dalam menjelaskan makalah. Untuk itu kepada para pembaca untuk memberikan sumbangan saran.
TT. 44 Metode “Umum” Pendidikan dalam QS. An-Nahl: 125
BAB II
PEMBAHASAN
Hakikat Metode Dakwah
Dari segi bahasa metode berasal dari dua kata yaitu meta (melalui) dan hodos (jalan, cara). Dalam bahasa Yunani metode berasal dari kata methodos artinya jalan, dalam bahasa Arab disebut dengan thariqat dan manhaj yang mengandung arti tata cara.
Sementara itu dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia metode artinya cara teratur yang digunakan untuk melaksanakan suatu pekerjaan agar tercapai sesuai dengan yang dikehendaku; cara kerja yang bersistem untuk memuudahkan pelaksanaan suatu kegiatan guna mencapai tujuan yang ditentukan. Dan dakwah adalah penyiaran; propaganda, penyiaran agama dan pengembangannya di kalangan masyarakat; seruan untuk memeluk, mempelajari, dan mengamalkan ajaran masyarakat.
Dari beberapa pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa yang disebut dengan metode adalah suatu cara yang sudah diatur dangan petimbangan yang matang untuk mencapai tujuan tertentu. Jadi metode dakwah adalah cara-cara tertentu yang dilakukan oleh seorang da’i (komunikator) kepada mad’u untuk mencapai suatu tujuan atas dasar hikmah dan kasih sayang.
Dalil Metode Dakwah
Q.S. An-Nahl, 16: 125
ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ
Artinya: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.”
Dalam tafsir Ibnu Katsir, dikatakan bahwa Allah SWT berfirman, memerintahkan Rasul-Nya Muhammad saw untuk menyeru makhluk ke jalan Allah dengan cara hikmah (perkataan yang tegas dan benar). Ibnu Jarir berkata, “dan demikianlah apa yang diturunkan Allah kepada Muhammad dari kitab, sunnah dan pelajaran yang baik, yaitu tentang sesuatu yang di dalamnya terdapat larangan dan ketetapan bagi manusia. Mengingatkan mereka dengan itu semua (al-Kitab, sunnah dan mauizhoh) agar mereka takut akan siksa Allah SWT.
Dan dalam Tafsir Depag RI, disebutkan bahwa Allah SWT memberikan pedoman-pedoman kepada Rasul-Nya tentang cara mengajak manusia (dakwah) ke jalan Allah. Yang dimaksud jalan Allah disini ialah agama Allah yang syari'at Islam yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. Allah SWT dalam ayat ini meletakan dasar-dasar dakwah untuk pegangan bagi umatnya dikemudian hari mengemban tugas dakwah.
Pertama, Allah SWT menjelaskan kepada Rasul-Nya bahwa sesungguhnya dakwah ini ialah dakwah untuk agama Allah sebagai jalan yang menuju ridho ilahi. Bukanlah dakwah untuk pribadi da'i (yang berdakwah) ataupun untuk golongan dan kaumnya. Rasul saw diperintahkan untuk membawa manusia ke jalan Allah dan untuk agama Allah semata-mata.
Kedua, Allah SWT menjelaskan kepada Rasul saw agar dakwah itu dengan hikmah. Hikmah disini berarti pengetahuan tentang rahasia dari faedah segala sesuatu. Dengan pengetahuan itu sesuatu dapat diyakini keadaannya. Berarti perkataan yang tepat dan benar yang menjadi dalil (argumen) untuk menjelaskan mana yang hak dan mana yang batil atau syubhat (meragukan). Arti yang lain ialah kenabian mengetahui hukum-hukum Al-Qur'an, paham Al-Qur'an, paham agama, takut kepada Allah, benar perkataan dan perbuatan. Artinya yang paling tepat dan dekat kepada kebenaran ialah arti yang pertama yaitu pengetahuan tentang rahasia dan faedah sesuatu, yang mana pengetahuan itu memberi manfaat.
Ketiga, Allah SWT menjelaskan kepada rasul agar da'wah ini dengan pendidikan yang baik, yang diterima dengan lembut oleh hati manusia tapi berkesan didalam hati mereka. Tidaklah patut jika pendidikan dan pengajian itu selalu menimbulkan pada jiwa manusia rasa gelisah, cemas dan ketakutan. Orang yang jatuh karena dosa karena jahilnya atau tanpa kesadaran, tidaklah wajar kesalahan-kesalahannya itu dipaparkan secara terbuka sehingga menyakiti hatinya.
Keempat, Allah menjelaskan bahwa bila terjadi perbantahan atau perdebatan dengan kaum musyrikin ataupun ahli kitab, maka hendaklah rasul membantah mereka dengan bantahan yang baik. Suatu contoh perdebatan yang baik adalah perdebatan Nabi Ibrahim dengan kaumnya (Nabi Ibrohim) yang membawa mereka berfikir untuk memperbaiki kesalahan mereka sendiri, sehingga mereka menemukan kebenaran. Tidaklah baik memancing lawan dalam berdebat dengan kata yang tajam. Karena hal demikian menimbulkan suasana yang puas. Sebaliknya hendaklah diciptakan suasana nyaman dan santai sehingga tujuan dalam perdebatan untuk mencari kebenaran itu dapat tercapai dengan hati yang puas. Suatu perdebatan yang baik ialah perdebatan yang dapat menghambat timbulnya sifat jiwa manusia yang negatif seperti sombong, tinggi hati, tahan harga diri, sifat-sifat tersebut sangat peka. Lawan berdebat supaya dihadapi demikian rupa sehingga dia merasa bahwa harga dirinya dihormati dan da'i menunjukan bahwa tujuan yang utama ialah menemukan kebenaran kepada agama Allah SWT.
Kelima, Allah SWT menjelaskan kepada rasul saw bahwa ketentuan akhir dari segala usaha dan perjuangan itu pada Allah SWT. Hanya Allah SWT sendiri yang menganugerahkan iman kepada jiwa manusia, bukanlah orang lain ataupun da'i itu sendiri. Dialah Tuhan Yang maha mengetahui siapa diantara hamba-Nya yang tidak dapat mempertahankan fitrah insaniyahnya (iman kepada Allah) dari pengaruh-pengaruh yang menyesatkan, sehingga dia jadi sesat, dan siapa pula diantara hamba yang fitrah insaniyahnya tetap terpelihara sehingga dia terbuka menerima petunjuk (hidayah) Allah SWT.
Implementasi Metode Dakwah dalam Dunia Pendidikan
Metode dakwah meliputi tiga cakupan dalam pendidikan yang biasa diterapkan oleh para pendidik, diantaranya:
Al-Hikmah
Hikmah adalah ungkapan dan argument yang menarik jiwa peserta didik sehingga mereka terdorong untuk menerima dan mengamalkan pesan yang terkandung dalam ungkapan tersebut.
Untuk menggunakan metode hikmah ini, seorang pendidik dituntut dapat menyusun kata-kata yang lebih menarik dan menyentuh jiwa.
Maw’izah al-hasanah
Maw’izah al-hasanah merupakan metode penyampaian materi yang lebih menekankan pada dampak atau konsekuensi dari memahami dan mnengamalkan materi yang di sampaikan itu. Pendidik perlu menyampaikan manfaat atau keuntungan yang akan di terima siswa jika menguasai dan mengamalkan materi yang di sampaikan manfaat atau keuntungan yang akan di terima siswa jika menguasai dan mengamalkan materi yang disampaikan itu. Allah dalam mengajar manusia melalui al-Qur’an selalu menyampaikan konsekuensi dari penerimaan ajaran atau penolakan terhadap ajaran-Nya.
Dalam metode pembelajaran konvensional, hikmah dan maw’izah al-hasanah sama dengan metode ceramah. Tetapi, dalam penyampaiannya guru di tuntut dapat merajut kalimat dan ungkapan yang menarik dan menyenangkan jiwa serta menggambarkan kepada peserta didik dampak dari penguasaan terhadap materi yang disampaikan kepada mereka.
Mujadalah
Metode mujadalah sama dengan mudhakarah (debat) atau diskusi. Dalam tradisi pesantren metode ini sering di gunakan, dimana seorang atau sekelompok santri, bahkan bisa juga ustadz mengemukakan pendapat sebagai hasil pengkajiannya. Kemudian santri yang lain menantang atau menolak pendapat itu dengan alasan atau argumentasi yang mereka miliki. Penggunaan metode mujadalah dalam pembelajaran mestilah berhati-hati tidak boleh melanggar etika, menghujat, dan menghina atau merendahkan lawan berdebat. Al-Qur’an menggambarkan agar bermujadalah dengan billati hiya ahsan (dengan yang lebih baik).
TT. 43 Metode “Umum” Pendidikan dalam QS. Al-Maidah: 67
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, puji syukur atas ke hadirat Allah Swt. Atas izinnya makalah yang berjudul “Metode Pendidikan Universal dengan Metode Tabligh” ini dapat diselesaikan. Sholawat serta salam semoga tercurahkan kepada baginda Nabi Muhaammad Saw, sahabatnya, keluarganya dan umatnya hingga akhir zaman.
Maklah ini dibuaat untuk memenuhi tugas mata kuliah Tafsir Tarbaawi. Makalah ini menjelaskan tentang metode pendidikan uniersal dengan metode tabligh, kami berharap maakalah ini dapat berguna dalam menambah wawasan serta pengetahuan kita. Makalah ini kami buat berdasarkan referensi yang kami temukan dari berbagai sumber yang ada.
Penulis sudah berusaha untuk menyusun makalah ini selengkap mungkin. Penulis juga menggucapkan terimakasih kepada bapak Muhammad Ghufron, M.S.I yang telah membimbing kami dalam pembuatan makalah ini. Penulis juga menerima saran daan kritik dari pembaca guna penyempurnaan penulisan makalah mendatang.
Pekalongan, 17 November 2018
BAB I
PENDAHULUAN
Latar belakang Masalah
Allah Swt telah memerintahkaan kepada hambanya yang beriman agar berpegang teguh pada tali Allah, dan mengingatkan mereka akan kenikmatan yang telah dilimpahkan kepada mereka untuk merukunkan hati mereka pada ukhuwah islamiyah. Dengan tetap mengikuti apa yang telah diwahyukan Allah melalui nabi Muhammad Saw beserta pengikutnya dan umatnya. Meskipun penyampaiannya berupa satu ayat, tetapi jangan sampaai kita menyembunyikan sekecil apapun ayat karena sama sajaa kita tidak menjaga amanatnya.
Dan Allah mengancam mereka bila tidak mengamalkannya dengan dibiarkannya dia tersesat dalam dunia ini. Tetapi mereka tidak marasakan karena mereka ditipu daya oleh setan. Dalam penyampin Rasulullah juga memiliki makna yang sangat dalam memiliki bermacam-macam metode seperti ceramah, keteladannya.
Rumusan Masalah
Apa Pengertian Metode Tabligh ?
Bagaimaana Dalil Para Rasul dengan Metode Tabligh?
Bagaimana Implementsi Metode Tabligh dalam Pendidikan?
Tujuan Penulisan Makalah
Mengetahui Pengertian Metode Tabligh
Mengetaahui Dalil Para Rasul dengan Metode Tabligh
Mengetahui Implementsi Metode Tabligh dalam Pendidikan
BAB II
PEMBAHAASAN
Hakikat Metode Tabligh
Tabligh secara bahasa, berasal dari kata balagha, yuballighu ,teblighan yang berarti menyampaikan. Tabligh adalah kata kerja tanstif, yang berarti membuat seseorang sampai menyampaikan atau melaporkan dalam arti menyampaikan sesuatu kepada orang lain. Dalam bahasa Arab, orang yang menyampaikan disebut Mubaligh.
Menurut Dr. Ibrahim, Tabligh adalah memberikan informasi yang benar, pengetahuan factual, dan harkat pasti yang bisa menolong dan membantu manusia untuk membentuk pendapat yang tepat dalam suatu kejadian atau dari berbagai kesulitan. Dalam kosep islam, Tabligh merupakan salah satu perintah yang dibebankan kepada para utusan-Nya. Nabi Muhammad sebagai utusan Allah beliau menerima risalah dan diperintahkan untuk menyampaikannya kepada seluruh umat manusia, yang selanjutnya tugas ini diteruskan oleh pengikut dan umatnya.
Dari segi bahasa metode berasal dari dua kata “meta” (melalui) dan “hodos” (jalan, cara). Dengan demikian kita dapat artikan bahwa metode adalah cara atau jalan yang harus dilalui untuk mencapai suatu tujuan. metode Tabligh adalah cara-cara tertentu yang dilakukan oleh seorang Da’i kepada Mad’u untuk mencapai suatu tujuan atas dasar hikmah dan kasih sayang.
Dalil Para Rasul dengan Metoode Tabligh
QS.Al-Maidah 5:67
۞ يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ ۖ وَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسَالَتَهُ ۚ وَاللَّهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ
Artinya : Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.
Tafsir Al-Maraghi
Hai rasul sampaikanlah kepada semua orang segala yang telah diturunkan kepadamu dari tuhanmu yang memiliki perkaramu, dan menyampaikan kamu pada kesempurnaan, dan janganlah kamu khawatir dalam menyampaikan itu terhadap seorangpun, dan jangaan takut kamu ditimpa bahaya karenanya.
Dan kalau kamu tidak melaksanakan apa yang telah diturunkan kepadamu, umpamanya kamu sembbunyikan, sekalipun hanya untuk sementara, karena takut disakiti orang,baik dengan perkataan atau perbuatan, maka sudah cukup merupakan dosa bagimu bila tidak menyampaikan risalaah dan tidak melaksanakan apa yang karenanya kamu diutus. Yaitu menyampaikan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dari tuhan mereka, sebagaimana firman Allah Ta’ala :
Kewajibanmu tidak lain adalah menyampaikan ((risalah). (QS.Asy-Syura 42:48)
Adapun hikmah dari ditegaskannya perintah dan penegasan (tabligh) dengan menganggap bahwa menyembunnyikan selurunya, sekalipun sudah maklum bahwa para Rasul adalah terpelihara dari menyembunyikan sesuatu yang diperintahkan Allah untuk menyampaikannya yang kalau tidak maka batalah hikmah risalah karena hilangnya kepercayaan manusia terhadap penyampaian itu. Hikmah dari penegasan itu tadi, bagi rasul sendiri adalah pemberitahuan untuknya bahwa tabligh itu menjadi kewajiban yang tidak bisa ditawar-tawar dan tidak boleh menyembunyikan apa yang wajib disampaikan dalam keadaan apapun. Sedang bagi manusia yang mendengarkan tabligh, hikmahnya supaya mereka mengerti fakta ini dengan adaanya nas tersebut. Manusia yang dimaksuad adalah orang kafir yang dalaam menyamnpaikan wahyu itu memuat keterangaan tentaang kekafiran dan kesesatan mereka.
Tafsir Jalalain
يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّْ ( hai rasul, sampaikanlah) semua مَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ yang diturunkan kepadamu dan tuhanmu) dan janganlah kamu sembunyikan sesuatu pun dari padanya karena takut akan mendapatkan hal-hal yang tidak di inginkan - وَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ (dan jika tidak kamu lakukan) tidak kamu sampaikan semua yang diturunkan padamu itu - فَمَا بَلَّغْتَ رِسَالَتَهُ ( berarti kamu tidak menyampaikan risalah-Nya). “Risalat” dengan tunggal atau jamak, karena menyembunyikan sebagian berarti menyembunyikan semuanya. وَاللَّهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِ ۗ ( Dan Allah memelihara kamu dari manusia ) agar tidak sampai membunuhmu. Pada mulanya Rasulullah saw itu dikawal sampai turun ayat ini lalu sabdanya , “ pergilah karena sesungguhnya Allah memeliharaku” Riwayat hakim. إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ (sesungguhnya Allah tidak memberikan bimbingan kepada kaum yang kafir)
Tafsir al- Mishbah
Thahir Ibn Asyur menilai penempatan ayat ini merupakan sesuatu yang musykil karena surat al-maidah salah satu surat terakhir yang turun, sedangkan saat itu rasul telah menyampaikan seluruh ajaran agama yang turun hingga ketika itu. Seandaainya ayaat ini turun padaa saat masa awal kenabian, maka apa yang diperintahkan disini dapat dimengerti dan dipahami sebagai mengukuhkan Nabi saw dan meringankan beban mental beliau. Tetapi, karena surat ini merupakan surat terakhir yang turundan beliau sudah melaksanakan tugas penyampaian risalah, agamapun telah disempurnakan. Oleh karena itu ada kemungkinan yang dapat dikemukakan menyangkut penempatan ayat ini dalam surat ini dan sesudah uraian ayat-ayat sebelumnya.
Implementasi Metode Tabligh dalam Pendidikan
Dalam hubungannya dengan profesi guru, sifat tabligh dapat diartikan komunikaatif dan argumentatif. Seorang guru yaang tabligh akaan menyampaaikan informasi (ilmu pengetahuan) dengan benar daan dengan tutur kata yang yang tepat. Jadi intinya sifat tabligh adalah sifat yang selalu menyampaikan informasi kepada siapa saja yaang selayaknya harus menerima. Seoraang guru tentunya menyampaikan informasi atau ilmu pengetahuan kepada muridnya. Dalam konteks ini sifat tabligh bisa kita sesuaikan dengan kompentensi profesional guru. Seorang guru ketika menyampaikaan materi perlu menggunakan metode pembelajaran dengan tepat. Sama dengan Nabi Muhammad Saw menggunakan metode yang berbeda dalam dalam menyampaikan setiap wahyu dan perintaah Allah Swt.begitu juga guru, ia dituntut memiliki kemampuan dalam perencanaan dan pelaksanaan proses pembelaajaaran. Ia mempunyai tugas mengarahkan kegiatan belajar siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran. Sehingga guru dituntut mampu menyampaikan bahan pembelajaran. Untuk itu guru harus selalu meng-update dan menguasai materi pelajaraan yang disajikan. Persiapan diri tentang materi diusahakn dengn jalan mencari informasi melalui berbagai sumber.
Dalam mendidik manusia Allah menggunakan perumpamaan. Metode perumpamaan ini juga baik digunakan oleh para guru dalam mengajari peserta didiknya terutama dalam menanamkan budi pekerti dan kisah kepada mereka. Cara menggunakan metode ini hampir sama dengan metode kisah, yaitu dengan ceramah. Hal ini merupakan hal yang lebih efektif dan efisien. Karena peserta didik pada umumnya cenderung meneladani guru atau pendidiknya. Karena secara psikologis, siswa memang senang meniru, tidak saja yang baik, bahkan terkadang yang jeleknya juga.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Berdasarkan pemaparan mengenai surat Al-Maidah ayat 67 diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa pada haakikatnya kita disuruh untuk menyampaikaan sesuatu yang telah allah firmankan kepada nabi muhammad meskipun ayat itu hanya satu ayaat, dan jangaan sekali-kali kita menyembunyikan ayat-nya meskipun sedikit. Itu sama saja dengan kita tidak menjaga amanahnya. Dalam penyampaian suaatu informasi seorang guru juga harus selalu meng-update materi yang akan diajarkaann kepada anak didiknya. Serta menggunakan metode yang berbeda dengaan penyaampaian yang jelas.
DAFTAR PUSTAKA
HYPERLINK "https://dark5ne55.blogspot.com/2017/02/makalah-metode-tabligh.html" https://dark5ne55.blogspot.com/2017/02/makalah-metode-tabligh.html
HYPERLINK "http://ghufron-dimyati.blogspot.com/2018/11/tt-b-k2-metode-pendidikan-universal.html?m=1" http://ghufron-dimyati.blogspot.com/2018/11/tt-b-k2-metode-pendidikan-universal.html?m=1
Imam Jalaluddin Al-Manhalli, Tafsir Jalalain (Bandung:Sinar Baru
Algensido,2004)
M.Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah ( Jakarta: Lentera Hati.2006)
Ahmad Mushtafa al-Maraghi, Terjemah Tafsir Al-Maraghi (Semarang:PT Karya Toha Semarang, 1993)
BIODATA DIRI MAHASISWI PRODI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI) INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI PEKALONGAN
Nama : HAJAH JUBAIDAH
NIM : 2117295
Tempat/tanggal lahir :PEKALONGAN,08 DESEMBER 1998
Jenis Kelamin :PEREMPUAN
Alamat :DS.SUKOREJO DK. KEMARON KEC.KESESI KAB.PKL
RT/RW :08/04
Agama :ISLAM
Pekerjaan :MAHAASISWA
Kewarganegaraan :INDONESIA
Riwayat Pendidikan :
TK PERTIWI SUKOREJO
SDN 02 SUKOREJO
MTs N KESESI
SMA N 1 KESESI
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI PEKALONGAN
Hobi : Memasak, Mendengarkan muratal, bermain musik
Citacita : Pengusaha Rumah makan dan pendidik yang baik
LAMPIRA REFERENSI
Subscribe to:
Posts (Atom)
