Habib Lutfi Pekalongan NKRI Harga Mati
Oleh Habib Lutfi Bin Yahya
Selalu kita buka kemana saja NKRI harga mati bukan basa-basi, pada akhir-akhir ini kelihatan walaupun tidak sempurna penglihatan itu mulai melentur dengan tumbuhnya nasionalisme yang non politis, artinya nasionalisme yang agamis yang tumbuh per individu bangsa ini khususnya, yang akhirnya merasa handar beni melentur juga, kalau memilki banyak, tetapi handar beni ini yang lebih sulit. Jika “memiliki” contohnya itu kebun saya ya sudah mau ilalangnya tumbuh yang ada disana dibiarin, tetapi bila “handar beni” berbeda jika tumbuh ilalang dibersihkan, yang kurang manfaat dimanfaatkan dan ditanami, ini luasnya dalam balaghah al jawiyin yang sangat luas sekali dalam perbedaan antara memilki dengan handar beni, jauh sekali.
Sesuai dengan lagu Indonesia Raya yang selalu kita dengung-dengungkan, terkadang saya bertanya kepada diri sendiri ketika menyanyikan lagu Indonesia Raya apakah ini hanya ceremonial belaka, apakah memang dalam lagu, atau hanya karena ada acara lagu Indonesia Raya kita sisipkan untuk menjadi pembukaan. Perbandingan yang kedua ketika kita menghormati sangsaka Merah Putih "hormat grak" ya peraturan, kita akan berbicara yang kedua artinya kita bisa membawa lagu Indonesia Raya padahal didalam lagu itu ada kalimatul Ikrar, jadi kalimat ini bukan hanya sekedar ceremonial dan lagu saja tapi ikrar ini disalurkan dalam lagu-lagu sehingga menjadi lagu kebangsaan kalimat irarnya dimana "Indonesia Tanah Airku" yang menjadi pertanyaannya apakah itu basa-basi, tentu yang bisa menjawab individu masing-masing bukan orang lain apalagi bangsa lain. Yang pasti saya/kami bangsa Indonesia, nyatakan dahulu kami bangsa Indonesia jangan "kami sebagai bangsa Indonesia" jika menggunakan kata "sebagai" itu artinya pilihan, jadi kita harus tegas menyatakan Indonesia Tanah Airku dimanapun kita berada, sekalipun kita sedang sekolah di Amerika, Eropa atau TImur Tengah. Tapi ingat ini Indonesia bukan Timur Tengah, Eropa atau Amerika jadi ketika kita pulang dari negara tersebut sekalipun makannya dengan keju,roti dan berdasi tapi tetap saya orang Indonesia kira-kira seperti itu.
Ketika kita menyatakan "Indonesia" dengan keras nuklir sekalipun bisa kalah, dizaman Pak Soekarno senjata TNI dan POLRI belum ada apa-apanya dibandingkan dengan negara-negara eropa, tapi mengapa negara ini bisa kuat dan tidak dapat disentuh, tentu karena fanatisme yang ada pada bangsa ini sendiri dan kepada pemimpinannya, jika ada orang yang menyebut "Soekarno" tanpa "Pak atau Bung" tentu kita sebagai bangsa Indonesia marah, karena dengan panggilan Bung Karno sebagai pemimpin bangsa akan mengangkat harkat bangsa ini, coba kita panggil Rasulullah hanya dengan "Muhammad" tentu kita sebagai ummat Islam kurang berwibawa, tapi coba kita panggil dengan Sayyidina Muhammad SAW., Baginda Nabi Muhammad SAW., tentu nama umat Islam akan terangkat karena memanggil nama rasulnya dengan panggilan yang terhormat. Dari panggilan saja sudah luar biasa dapat mengangkat.
Lurah akan berwibawa dilingkungannya, begitu juga dengan keaamanan akan terjamin karena lurahnya berwibawa walaupun umurnya masih muda dari sini kita beri kesimpulan bahwa panggilan dapat menjunjung seseorang, apalagi menyatakan ketegasan sebagai "bangsa Indonesia", ini yang akan menggetarkan orang yang akan menghancurkan Indonesia, tapi terkadang orang kita dari jawa bekerja di jakarta ketika ditanya dengan bahasa jawa udah pura-pura lupa dengan bahasa jawanya, jika orang bisa membawa "Indonesia Tanah Airku" dan tertanam dimana saja hasilnya Masya Allah.
Saya teringat ketika di Abu Dhabi orang Turki yang kumpul disana sudah hidup lama di Abu Dhabi ketika membeli tomat untuk nasi dia tidak mau membeli tomat selain Tomat Turki, sehingga tiap pagi ada pesawat khusus yang membawa daging, sayuran dan lain -lain dari Turki. Ketika kita mengenakan batik dan ditanya dari mana kita dapat menyebutkan ini batik jawa jawanya mana jogja, pekalongan, solo sehingga tidak diambil orang lain.
Kita hormat kepada Sangsaka Merah Putih karena di dalamnya mempunyai kandungan harga diri bangsa, jati diri bangsa, kehormatan bangsa dan lain sebagainya memang tidak ada tulisannya tapi ada kandungannya, Indonesia Merdeka bukan hadiah, maaf bukan seperti sebagian negara tetangga kita, saya kagum dengan Indonesia, contoh di Malaysia naik taksi ditanya supir Where are you come from ? saya jawab "Indonesian", disini saya mengambil kesimpulan dia lebih kental bahasa Inggrisnya dibandingkan bahasa Melayunya padahal di jajah Inggris tidak lama, jika dibandingkan dengan Indonesia di jajah Belanda 350 tahun, tetapi luar biasa orang jawa tetap kental dengan bahasa aslinya.
Kita ketahui bersama berdarah-darah perjuangan untuk mengganti bendera, dan untuk membangunkan rasa kebangsaan diadakan sedekah bumi dan sedekah laut, kenapa sih ada sedekah bumi dan laut? karena itu merupakan strategi bagaimana mempertahankan NKRI ketika zaman sunan Kalijogo tujuannya tidak lain untuk membangkitkan kecintaan bangsa kita terhadap Tanah Air Indonesia dengan modal sedekah bumi karena ketika itu masih berhadapan dengan Belanda dan Portugis dan sedekah laut bertujuan membangkitakan kembali handar beni terdahadap laut yang luas ini karena ketika itu bendera penjajah dimana-mana.

No comments:
Post a Comment