BAB I
HIDUP BERKAH DENGAN MENGHORMATI DAN MEMATUI ORANG TUA DAN GURU
A.
Hadits :
َع ْن أَِ ِْب ُ َرْإ َرَة َع ِن الَّنِ ِّب َصلَّي ا ََّّللُ َعلَْيِه َو َسلَّ َم َق َا َرِغ َم أَنْ ُ ُُثَّ َرِغ َم أَنْ ُ ُُثّ َرِغ َم أَنْ ُ قِْي َل : َم ْن إَ َر ُسْوَا
ا ََّّللِ ؟ َق َا َم ْن أَْ َرَك أَب ََوإِْه ِعْن َد الْ ِكَِِب أَ َح ُد ُُهَ أَْو كِلَْي ِه َم فَ لَ ْم إَْد ُخ ِل ا ْْلَنَّ َ < رواا املسلم >
ََِس ْع ُت َعْب َد ا ََّّللِ ابْ َن َع ْمٍر َر ِض َي ا ََّّللُ َعْن ُه َم إ َُقْوُا :
َج ءَ َر ُج ٌل ََِل الَّنِِِّب َص َّل ا ََّّللُ َعلَْيِه َو َسلَّ َم فَ ْستَأْ َإنَهُ ِِف
ا ْْلَِه ِ َف َق َا : أَ َح ٌّي َوِالداََك ؟ َق َا
: ن ََع ْم. فَِ ْي ِه َم فَ َ ِ ْد. < رواا البخ ري ومسلم>
|
Seorang
laki-laki
datang
|
َج ءَ َر ُج ٌل
|
Dia celaka
|
َرِغ َم أَنْ ُ
|
|
Meminta
izin kpdnya
|
فَ ْستَأْ َإنَهُ
|
Mendapati
kedua
orangtuanya
|
أَْ َرَك أَب ََوإِْه
|
|
Untuk
ikut berjihad
|
ِِف ا ْْلَِه ِ
|
Dalam usia
lanjut
|
ِعْن َد الْ ِكَِِب
|
|
Apakah dia msih
hidup
|
أَ َح ٌّي
|
Maka dia tidak
akan masuk surga
|
فَ لَ ْم إَْد ُخ ِل ا
ْْلَنَّ َ
|
Kandungan ayat
dan Hadits
Surat al-Isra’ ayat 23-24
memiliki kandungan mengenai
pendidikan berkarakter, yang didefinisikan sebagai
satu kesatuan yang membedakan satu dengan yang lain atau dengan
kata lain karakter
adalah kekuatan moral
yang memiliki sinonim
berupa moral, budi
pekerti, adab, sopan santun dan
aklak. Akhlak dan adab sumbernya adalah wahyu yakni
Al-Qur’an dan Sunah. Sedangkan budi pekerti, moral
dan sopan santun
sumbernya adalah filsafat.
Dalam ayat ini, Allah memerintahkan kepada
hamba-hamba Nya untuk menembah Allah semata, tidak ada sekutu
bagi-Nya. Kandungan ayat ini juga menunjukan betapa kaum
muslimin memeiliki kedudukan yang sangat tinggidibanding dengan kaum yang memersekutukan Allah SWT. Ayat ini juga menjelaskan tentang ihsan (bakti)
kepada kedua orang tua yang diperintahkan agama Islam adalah bersikap sopan kepada keduanya
dalam ucapan dan peruatan sesuai
dengan adat dan kebiasaan masyarakat, sehingga mereka merasa senang terhadap kita, serta mencukupi
kebutuhan-kebutuhan mereka yang sah dan wajar sesuai kemampuan
kita sebagai anak.
Dalam Tafsir Ibnu Katsir
dijelaskan bahwa Allah
memerintahkan kepada Hamba-Nya untuk menyembah Dia semata,
tidak ada sekutu
bagi-Nya. Selanjutnya perintah berbakti kepada kedua orang
tua. Yakni memerintahkan kepada kita untuk
berbuat baik kepada
ibu bapak, dan jangan kita mengleuarkan kata-kata yang buruk kepada
keduanya, sehingga kata- kata “Ah” pun merupakan kata-kata buruk yang
paling ringan tidak
diperbolehkan. Jangan pula bersikap buruk
kepada mereka, seperti
yang dikatakan oleh Ata Ibnu
Rabah sehubungan dengan arti surah tersebut”
Dan janganlah kamu membentak mereka”
maksudnya janganlah kamu menolakkan tangan kepada kedunya.
Setelah itu, Allah memerintahkan kita untuk
berbuat baik, bertutur
sapa baik, dan berlaku sopan santun kepada
kedua orang tua dengan
rasa penuh hormat
dan memuliakannya.
Dalam
Tafsir al-Misbah, dijelaskan bahwa ayat-ayat di atas memberi tuntunan kepada anak agar berbakti
kepada kedua orang tua secara
bertahap. Dimulai dengan
janganlah engkau mengatakan kepada kedunya dengan perkataan “Ah”, lalu
dilanjutkan dengan mengucapkan kata-kata yang mulia. Ini lebih tinggi tingkatannya dari tuntunan pertama karena
mengandung pesan penghormatan dan pengagungan melalui ucapan. Selanjutnya meningkat lagi dengan perintah
untuk berperilaku yang menggambarkan kasih sayang,
sekaligus
kerendahan di hadapan
kedua orang tua. Perilaku yang
lahir dari kasih
sayang yang menjadikan mata sang anak
tidak lepas dari
orang tua. Sang anak selalu
memperhatikan dan memenuhi keinginan
orang tuanya. Akirnya
sang anak dituntut
untuk mendoakan orang tua
sambil mengingat jasa-jasa mereka terleih saat kita kecil.
AYat 13 QS.Lukman menjelaskan bahwa syarat untuk
mendidik anak hendaknya dilandasi dengan lemah
lembut dn kasih
sayang. Kata ‘Izuhu
diambl dari kata wa’az yang
bermakna nasihat yang menyangkut berbagai
kebajikan dengan cara
menyentuh hati, penyampaiannya yakni dengan cara lemh lembut, tidak membentak, dan panggilan sayang
kepada anak. Kata bunayya mengisyaratkan kasih sayang.
Hal ini tentunya juga berlaku
pada para guru dalam
mendidik peserta didiknya.
Dalam ayat 14, Allah menggambarkan kesusahan
seorang ibu dalam merawat anaknya, mengapa hanya jasa ibu yang digambarkan dengan sedemikian lemahnya ? karena perasaan ibu
lebih berat dari pada Ayah, mulai dari proses mengandung, hingga melahirkan dan
menyapihnya.
Kata Wahnan berarti,
kelemahan atau kerapuhan. Yang dimaksud di sini adalah ibu dalam kondisi sangat
lemah saaat mengandung anaknya.
Ayat 15, menjelaskan tentang
larangan taat kepada
orang tua dalam mendurhakai Allah SWT, dan nasehat Luqman
kepada anaknya tentang
menolak segala bentuk
kemusyrikan di manapun berada.
Ayat ini sekaligus memberitahu bahwa mempergauli keduanya dengan baik hanya dalam
urusan dunia, bukan
kegamaan. Seperti Nabi Ibrahim AS, dia tetap
berlaku santun kepada bapaknya sekalipun pembuat berhala, namun Nabi Ibrahim
tidak sependapat dalam
hal akidah.
Pada ayat 16, terdapat kata ‘Latiif” yang
berarti lembut, haus,
atau kecil. Dari
makna ini muncullah makna ketersembunian dan ketelitian. Imam
al-Ghozali, menjelaskan bahwa
yang berhak menyandang sifat
ini hanyalah Allah.
Dialah yang mengetahui perincian kemaslahatan
dan seluk beluk rahasianya. Karena Dia selalu menghendaki kemaslahatan untuk makhluk- Nya, ayat ini menggambarkan kekuasaan Allah SWT, dalam menghitung amal manusia betapapun sedikitnya.
Ayat 1 menjelaskan tentang
amr ma’ruf nahi mungkar, yang merupakan puncak
dan pangkal adalah sholat,
serta amal kebaikan
yang tercermin adalah
buah dari sholat
yang dilaksanakan dengan benar.
Kata ‘Azm dari
segi bahasa berrti
kekuatan hati atau
tekad.
Hadits
Dari abi Hurairah dari Nabi SAW, beliau bersabda
: “Dia celaka! Dia celaka!
Dia celaka!” lalu beliau
ditanya; “siapakah yang celaka ya Rasulullah ? Jawab Nabi; “Barang siapa yang mendapati kedua orang tuanya
(dalam usia lanjut),
atau salah satu
dari keduanya (namun
dia tidak berbakti kepada
keduanya dengan sebaik-baiknya), maka dia tidak
akan masuk surga.” (HR. MUSLIM).
AKu mendengar ‘Abdullah bin ‘Amr
Ra berkata; “Seorang
laki-laki dating kepada
Nabi, lalu meminta izin untuk
ikut berjihad. Maka Beliau bertanya; apakah kedua orang
tuamu masih hidup? Laki-laki itu
menjawab; “Iya” Maka beliau berkata;
kembali kepada keduanya lah kamu berjihad (berbakti)” (HR. AL-Bukhori dan Muslim)
Hadits yang diriwayatkan oleh Muslim tersebut
menjelaskan bahwa seseorang akan
celaka ketika
tidak berbakti kepada
kedua orang tua.
Kata “Dia celaka”
(
ُف َر أ ْن َمِغ
) diulang-ulang
oleh Rasulullah SAW sebanyak tiga kali menunjukan bahwa betapa pentingnya berbakti kepada kedua orang
tua terlebih lagi ketika kedua
orang tua atau salah satu dari mereka masih hidup.
Adapun Hadits riwayat Bukhari
dan Muslim, menjelaskan bahwa, berbakti kepada kedua
orang tua memiliki nilai pahala
yang sangat besar.
Bahkan nilai pahala
berbakti kepada kedua orang tau oleh Rasulullah disamakan dengan nilai
pahala jihad, berperang, dan melawan kaum kafir.
Sikap dan perilaku yang
dapat diterapkan sebagai
penghayatan dan pengamalan QS.al- Isro :23-24 adalah sebagai
berikut :
1.
Selalu berbakti kepada Allah SWT,
dan tidak menyekutukanNya.
2.
Membiasakan berbuat
baik (ihsan) kepada
kedua orang tua.
3.
Membiasakan untuk
tidak berkata-kata buruk
kepada kedua orang
tua.
4.
Selalu bersikap baik dan berlaku
sopan santun kepada
kedua orang tua dengan rasa penuh
hormat dan memuliakannya.
5.
Selalu mendoakan orang tua sebagai
ungkapan terima kasih
seorang anak.
Adapun sikap dan perilaku yang dapat diterapkan sebagai penghayan dan pengamalan
QS.Luqman ayat 13-17 adalah sebagai
berikut :
1.
Selalu mengesakan Allah SWT, dan tidak menyekutukanNya dengan sesuatupun.
2.
Selalu
berbuat baik baik kepada kedua orang tua, terutama ibu, karena ia telah mengandung kita dalam kepayahan,
melahirkan, merawat dan mendidik kita. Perbuatan baik kepadanya sebagai
ungkapan rasa syukur
kita kepada mereka.
3.
Membiasakan diri
untuk berbuat baik
dan menaati orang
tua sepanjang tidak
untuk perbuatan maksiat kepada
Allah dan menyekutukanNya.
4.
Selalu berbuat
baik, karena sekecil
appun perbuatan kita,
baik maupun jelek,
pasti akan mendapat balasan
dari Allah SWT.
5.
Senantiasa menjalankan shalat, amar ma’ruf
nahi mungkar dan
bersabar.
Sikap dan perilaku yang dapat diterapkan sebagai penghaatan dan pengamalan dari hadits
Nabi adalah sebagai
berikut :
1.
Selalu berbakti
kepada kedua orang
tua terutama ketika
mereka asih hidup, jika
sudah tiadapun kita
harus senantiasa mendoakan mereka.
2.
Senantiasa berbakti kepada
kedua orang tua karena nilai
kebaikanya di sisi
Allah SWT, sejajar
dengan jihad.
Selain berbakti kepada
kedua orang tua,
kita juga berkewajiban untuk berbakti dan hormat
kepada guru. Jasa guru sangatlah besar bagi murid
dan masyarakat, bahkan
bagi kemajuan bangsa dan negara. Guru merupakan orang
tua kedua karena
merekalah yang mendidik murid-muridnya untuk menjadi lebih baik. Sebagaimana wajib hukumnya
mematuhi kedua orang tua, maka wajib pula mematuhi perintah
para guru, selama
perintah tersebut tidak bertentangan dengan syari’at agama.
KESIMPULAN :
1. Kandungan QS.al-Isro :23-24 :
·
Perintah untuk
menyembah Allah dan tidak menyekutukanNya dengan sesuatu.
·
Perintah berbuat
baik kepada kedua
orang tua.
·
Perintah untuk
bertutur kata, bersikap baik, & berperilaku sopan santun, kpd orang tua.
·
Perintah untuk
selalu mendoakan orang tua.
2. Kandungan QS.Luqman :13-17 :
·
Perintah untuk
mengesakan Allah dan
tidak menyekutukan Nya.
·
Perintah berbuat
baik kepada kedua
orang tua terutama
ibu.
·
Perintah
menaati orang tua sepanjang tidak untuk berbuat maksiat dan menyekutukan Allah.
·
Perintah untuk berbuat baik.
·
Perintah menjalankan shalat, aar ma’ruf
nahi mungkar dan bersabar.
3.
Kandungan hadits meliputi perintah untuk senantiasa berbuat baik kepada
orang tua, karena nilai
kebaikannya sejajar dengan
jihad.
4.
Selalu menghormati dan menaati guru sebgaimana menghormati danmentaati orang tua. Karena
jasa guru sangat
besar bagi murid, masyarakat bangsa
dan negara.
No comments:
Post a Comment