Materi PAI (Al-Qur'an Hadits) Kelas XI Bab 7

BAB VII
BETAPA SEMANGATNYA AKU BERKOMPETISI DALAM KEBAIKAN
A.          
          QS. AL-Baqarah ayat 148






Mufrodat / Kosa Kata

Maka berlomba-
lombalah
فَ  ْستَبُِقوا
Kiblat
ِو ْج َه ٌ
Datang/tiba
إَأْ ِت
Menghadap kepadanya
ُمَولِّْي  َه 


B.         QS. Fathir ayat 32








Mufrodat / Kosa Kata





Yang pertengahan
ُمْقتَ ِص ْد
Kami wariskan
أَْوَرثْ نَ 
Yang lebih dahulu
َس بِ ٌ 
Kami pilih
ا ْص ََ ْي نَ 
Karunia
الَْ  ْض ٌل
Orang dzalim
ٌ ِ َ 

C.        QS. AN-Nahl ayat 97






Mufrodat / Kosa Kata

Maka kami berikan
kepadanya kehidupan
فَ لَنُ ْحيِيَ نَّهُ
ALki-laki
إََكٍر
Dan akan kami beri
balasan
َولَنَ ْ ِ إَ نَّ  ُه ْم
Perempuan
أُنْ  َى


D.        Hadits
َصلَّى ا َّّللُ َعلَْيِه َو َسلَّ َم فَ َق  َا إ َ أَإُّ  َه  النَّ  ُس ت ُْوب ُْو  َِ  ا ََِّّلل قَ ْب َل أ ْإ َءُتُ ْوا َوبَ ِ ُرْوا بِ ْالَ ْع َم ِا

َخ َبَ نَ  َر ُسْوِا ا ََّّللِ

َعْب ِد ا ََّّللِ قَ  َا

َج بِِرابْ ِن


ع ْنن


ال َّص  ِ َ  ِ َِ  قَ ْب َل أَ ْإ تُ ْشغَلُْوا َو ِصلُْوا الّ ِذ ْي ب َْي نَ ُك ْم َوبَ ْ َْي َربِّ ُك ْم بِ َك ْ َرةِ ِإ ْكِرُك ْم لَهُ َوَك ْ َرِة ال َّص َدقَِ  ِِف ال ِّسِّر َوالَْعالَنِيَِ  تُ ْرَزقُ ْوا َوت ُْن َصُرْوا َوَُْتبَ ُرْوا َوا ْعلَ ُمْوا
أ َّإ ا ََّّللَ قَ ْد افْ تَ َر  َض َعلَْي ُك ْم ا ْْلُ ْمَع َ ِِف َمَق َِم ْي ّ  َذا ِِف إ َْوِم ِى َ  َذ ِِف  َش ْهِرى َ  َذا ِِف َع ِمى َ  َذ   َ  إ َْوِ  الِْقَي َمِ  فَ َم ْن تَ َرَك َه   ِ  ْ ى  َحيَ تِى أْو
ب َ ْع ِدى َولَهُ  َم  ٌ  َع ِ ٌا أْو  َج بٌِر ا ْستِ ْخَ  ًف  أْو  ُح ُ ْوً ا ََلَ  فَالَ ََجَ َع ا ََّّللُ لَهُ  ََشْلَهُ َوالَ َب َرَك لَهُ ِِف أْمِراِ أالَ َوالَ  َصالَ َة لَهُ َوالَ َزَك َة لَهُ َوالَ  َح َّج لَهُ
َوالَ  َصْوَ  لَهُ َوالَ بَِّر لَهُ  َحََّّت إَ تُ ْو َب فَ َم ْن تَ  َب تَ  َب ا ََّّللُ َعلَْيِه أالَ الَ تَ ُؤَّم َّن اْمَرأَةٌ َر ُجالً َوالَ إَ ُؤَّ  أ ْعِراِ ٌِّب ُم َه  ِجًرا َوالَ إَ ُؤَّ  فَ  ِجٌر ُمْؤِمنً   الَّ أَ ْإ




Mufrodat / Kosa Kata

(رواا ابن م جه )

َسْي ُ هُ َو َسْوطَهُ

إَ ْق َهُر بِ ُسْل َأ ٍإ ََيَ   ُ 



Kalian ditolong
َوتُ ْن َصُرْوا
Bertaubatlah
تُ ْوب ُْوا
Dan dicukupi
َوَُْتبَ ُرْوا
Bersegeralah
َوبَ ِ ُرْوا
Meremehkan
اِ ْستِ ْخَ  فً 
Sibuk
أَنْ تَ ْشغُلُْوا
Orang badui
أَ ْعَراِ ٌِّب
Dan sambunglah
َو ِصلُْوا


KANDUNGAN AYAT DAN HADITS

Secara umum dapat di pahami bahwa ayat 148 di atas merupakan dorongan kepada umat Islam untuk selalu berlomba-lomba dalam melaksanakan kebaikan. Untuk melihat suatu perbuatan dikatakan baik atau tidak, harus merujuk aturan Allah yaitu Al-QUr’an dan sesuai dengan hadits yang shahih. Pada ayat ini ALla menerangkan bahwa setiap pemeluk agama mempunyai kiblatnya masing-masing, dan kaum muslimin mempunyai kiblat yang telah ditetapkan Allah yaitu ka’bah.
Dalam Tafsir al-Misbaah, dijelaskan bahwa Allah memerintahkan umat Yahudi berkiblat ke Baitul Maqdis, dan umat yang lain melalui Nabi dan RasulNYa untuk menghadap ke arah tertentu. Namun daam ayat ini, Allah memerintahkan untuk mengarah ke ka’bah dan berlaku untuk semua. Dan hal yang terpenting dalam pengarahan kblat ini adalah menghadapkan hati langsung kepada Allah SWT. Dalam ayat ini, Allah memerintahkan umat Islam untuk berlomba-lomba dalam kebaikan (fastabiqul khoiroot). Menghadap ke kiblat bukanlah tujuan tetapi harus dipahami bahwa umat Islam adalah satu. Dan makna yang dapat kita ambil dalam ayat ini adalah hendaknya kita giat bekerja, serta berlomba=lomba dalam segala bentukkebaikan, baik shalat, shadaqah, menuntut ilmu, dan amalan-amalan positif lainnya. Dampak positif yang dihasilkan dari berkompetisi dalam kebaikan yaitu terciptanya kondisi kehidupan yang dinami, maju dan senantiasa bersemangat untuk berkreasi dan berinovasi.
Ayat ini ditutup dengan pernyataan Allah bahwa kelak kita semua akan dikumpulkan, dimana dan dari arah manapun kita berada. Tidak seorangpun yang luput dari pengawasan Allah, yaitu pada saat manusia menjalani kehidupan di alam akhirat. Mereka diperlihatkan semua amal baik dan buruk yang telah dikerjakan dan akan mendapatkan balasan sesuai dengan amalnya masing-masing.
Secara global ayat 32 ini menerangkan bahwa Allah SWT telah menurunkan AL-QUr’an kepada Rasulullah SAW untuk digunakan sebagai pedoman hidup bagi umatnya. Namun, dalam realita kehidupan di antara umat Islam, terdapat beberapa macam sikap dalam mengambil AL-QUr’an sebagai pedoman hidup. Sikap-sikap mereka itu disebutkan dalam ayat 32 ini :


1.      Kelompok pertama ;

 ِل  

 ْف َظ ا

 ٌم ِلا   

(zholimun linafsihi) ; mereka yang menzalimi dirinya sendiri.


Orang-orang yang leih banyak kesalahannya daripada kebaikannya. Orang-orang ini suka
meninggalkan     perintah-perintah  Allah  dan   mengerjakan     berbagai  perkara   yang diharamkan.


2.      Kelompok kedua ; ٌم  

َظ  ْف  

(muqtashidun) ; mereka bersikap pertengahan. Orang-orang yang


kebaikan sebanding dengan kesalahannya. Yaitu orang-orang yang disamping melaksanakan kebaikan-kebaikan, dan menjauhi larangan-larangannya. Namun, terkadang mereka ini suka meninggalkan perkara-perkara yang disunnahkan dan melakukan perkara-
perkara yang dimakruhkan.
3.      Kelompok  ketiga  ِعا   َفَأ ْناَأْن  ِعب     ِلا    (saabiqun  bil  khoiroot)  ;  yaitu  mereka  yang  segera
melakukan kebaikan-kebaikan karena izin Allah. Golongan ini senantiasa mengerjakan perbuatan yang diwajibkan dan disunnahkan serta menjauhi perkara yang diharamkan dan dimakruhkan. Mereka yang kebaikannya amat banyak dan amat jarang berbuat kesalahan.
Ar-Razi menafsirkan bahwa zhalimun linafsih adalah orang-orang yang lebih banyak kesalahannya, sedangkan muqtashid adalah orang-orang yang seimbang antara kesalahan dan kebaikannya, adapun sabiqun bil khoiroot adalah orang-orang yang lebih banyak kebaikannya. Pada ayat ini Allah menjelaskan akan memberikan kehidupan yang sejahtera kepada siapapun. Baik laki-laki maupun perempuan, apabila mereka mau beriman dan beramal
shaleh. Dan balasan Allah bernilai tinggi dari apa yang dikerjakan.


Ada beberapa pendapat ahli tafsir dalam memahami ungkapan kata  ً طَيِّبَ ًة َحيَ
thoyyibatan), diantaranya adalah :
1.      Ibnu Katsir bahwa hayatan thoyyibatan adalah ketentraman jiwa.

(hayatan


2.      Ibnu Abbas bahwa yang dimaksud dengan hayatan thoyyibatan adalah hidup sejahtera dan bahagia dengan rizki ang halal dan baik (bermutu gizinya)
3.      ‘Ali bin Abi Thalib bahwa hayatan thoyyibatan adalah kehidupan yang diertai qona’ah (menerima dengan suka hati) terhadap pemberian Allah.
Ayat yang sejalan dengan penjelasan di atas adalah QS. Ali-‘Imran ayat 92 :





92. Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai. dan apa saja yang kamu nafkahkan Maka Sesungguhnya Allah mengetahuinya.
AYat di atas menjelaskan bahwa perbuatan seseorang dapat dikatakan baik dengan diukur bagaimana tatkala ia menafkahkan harta yang ia miliki. Apabila ia telah mampu mendermakan sebagian harta yang dicintainya atau barang yang ia sendiri masih menyukainya berarti ia akan memperoleh kebaikan yang semprnah di hadapan Allah. Hal ini tentunya semata-mata disertai dengan niat karena Allah.
Hadits di atas memeritahkan kepada orang-orang Islam agar segera bertaubat sebelum meninggal. Taubat yang dimaksud adalah taubatan nasuha, yaitu taubat yang sebenarnya. Kemudian, pada lanjutan hadits, agar setiap muslim segera berusaha beramal shaleh sebelum sibuk juga rajin menyambung silaturrahmi dan memperbanyak sedekah baik secara terang- terangan maupun sembunyi-sembunyi. Apabila demikian dapat dilaksanakan oleh setiap muslim pasti janji Allah akan datang yaitu memperoleh rizki dengan jalan yang mudah dan dapat pertolongannya serta diperbaiki taraf kehidupannya.

Perilaku orang yang berkompetisi dalam kebaikan :

Sikap  dan  perilaku   yang dapat  diterapkan   sebagai  penghatan   dan pengamalan dari QS. Al-Baqarah ayat 148 adalah sebagai berikut :
1.      Senantiasa giat bekerja serta berlomba dalam segala bentuk kebaikan baik shalat, bersedekah, menuntut ilmu, dan amalan-amalan posirtif yang lain.
2.      Selalu meyakini bahwa semua yang kita lakukan selalu dalam pengawasan Allah SWT dan kelak akan diminta pertanggungawaban.

Sikap  dan  perilaku   yang dapat  diterapkan   sebagai  penghatan   dan pengamalan dari QS. Faathir ayat 32 adalah sebagai berikut :
1.      Bertindak tidak menzalimi diri sendiri.
2.      Selalu melaksanakan kewajiban, perintah-perintah Allah, dan menigalkan larangan-larangan-Nya.
3.      Membiasakan diri untuk selalu berlomba-lomba dalam melaksanakan kewajiban.

Sikap  dan  perilaku   yang dapat  diterapkan   sebagai  penghatan   dan pengamalan dari QS. An-Nahl ayat 97 adalah sebagai berikut :
1.      Berusaha untuk hidup sejahtera dengan rizki yang halal dan baik.
2.      Hidup penuh dengan qona’ah menerima dengan lapang dada segala pemberian Allah.


Sikap  dan  perilaku   yang dapat  diterapkan   sebagai  penghatan   dan pengamalan dari hadits :
1.      Selalu bersegera untuk bertaubat, meminta ampunan Allah SWT setelah melakukan kesalahan.
2.      Senantiasa melakukan amal shaleh seperti manyambung silaturrahmi, bersedekah dan amal kebaikan lainnya.


Rangkuman

Kandungan QS. AL-Baqarah ayat 148 :
·        Perintah untuk selalu giat bekerja dan berlomba-lomba dalam kebaikan.
·        Perintah untuk selalu mempercayai bahwa setiap yang kita lakukan selalu diawasi oleh Allah dan segala perbuatan yang kita lakukan akan mendapatkan balasan.

Kandungan QS. Fathir ayat 32 :
·        Perintah untuk tidak menzalimi diri sendiri.
·        Perintah untuk menjalankan perintah Allah dan meninggalkan larangan- Nya.
·        Perintah untuk berlomba-lomba dalam melaksanakan kewajiban.

Kandungan QS. AN-Nahl ayat 97 :
·        Perintah untuk mencari rizki yang halal dan baik agar hidup sejahtera penuh dengan keberkahan.
·        Perintah untuk qona’ah terhadap segala perintah Allah SWT.
Kandungan Hadits : perintah untuk segera bertaubat dan melakukan amal  shaleh.

No comments:

Post a Comment