Materi PAI (Al-Qur'an Hadits) Kelas XI Bab 6

BAB VI
BETAPA BESAR TANGGUNG JAWAB KU TERHADAP KELUARGA DAN MASYARAKAT

A.            QS. At-Tahrim ayat 6



Mufrodat / Kosa Kata

Keras
ِش َداٌ 
Peliharalah
قُ ْوا
Tidak durhaka
الَ إَ  ْع ُصْو َإ ا ََّّللَ
Bahan bakarnya
َوقُ ْوُ  َ  
Diperintahkan
إ ُْؤَمُرْو َإ
Kasar
ِغالَ ٌ



B.            QS. Toha ayat 132

Mufrodat / Kosa Kata



Kami tdk memintamu
الَ نَ ْسبَ لُ َك
Dan Perintahkanlah
َوأُْمْر
Kamilah yg member I
rizki kepadamu
نَ ْرُزقُ َك
Dan sabar
َو ْصِِْب

C.           QS. Al-AN’am ayat 70



Pelindung
َوِ 
Tinggalkanlah
َوَإ ِر
Pemberi syafaat
َشِ ْي ٌع
Menjadikan
اََّّتَ ُذْوا
Orang-orang yg
dijerumuskan ke dalam neraka
أُبْ ِسلُْوا
Permainan
لَعِبً 
Karena perbuatan
mereka sendiri
َك َسبُ ْوا
Sendagurau
َوََلًْوا
Minuman
َشَرا ٌب
Mereka           telah
tertipu
َوَغّرتْ  ُه ْم
Dari air yang mendidih
ََِحْي ٌم
Agar setiap orang
tdk terjerumus
أَ ْإ تُ ْب َس َل

D.           QS. AN-Nisa ayat 36




Teman sejawat
اَل َّص حش ِ 
Dan jangan lah kamu
mempersekutukan
َوالَ تُ ْشِرُكْوا
Hamba sahaya
َم َملَ َك ْت اَْ َ نُ ُك ْم
Tetangga dekat
َوا ْْلَ  ِرِإ الُْقْرَِب
Sombong & bangga diri
ُُمْتَ الً فَ ُخْوًرا
Kerabat dekat
بِ ِذ الُْقْرَِب


E.            QS. Hud ayat 117-119



Mufrodat / Kosa Kata



Orang-orang yg diberi
rahmat
َم ْن َرِح َم
Membinasakan
لِيُ  ْهلِ َك
Telah tetap
َوَءَّ ْت
Selama mereka
َوالَ إَ َ الُْو َإ
Aku pasti akan
memenuhi
َاَْمَ َ َّإ
Berselisih pendapat
ُُمْتَلِِ ْ َْي


F.            Hadits

َص َّل هللا َعلَْيِه َو  َسلَّ َم إ َُقْوُا ُكلُّ ُك ْم َرٍع َوُكلُّ ُك ْم َة ْسْب ْوٌا َع ْن َرَِّعيتِِه          اَْ اَم  ُ  َراٍع  َوُ َوَم ُْسب ْوٌا َع ْن َرَِّعيتِِه َوالَّر ُج ُل ِِف اَْ لِِه َراٍع   َوُ َو

َعن  َعْي ِد ا ََِّّلل ا بْ ِن عُ ِمَر َر ِض َي هللا َعْنهُ أ َّإ َر ُسْوُا هللا

َراٍع َوَة ْسبُ ْوٌا َع ْن َرِعيَّتِِه َوُكلُّ ُك ْم َراٍع َوَم ْسبُ ْوٌا َع ْن َرِعيَّتِِه ( رواا البخ رى )
Mufrodat / Kosa Kata

َم ْسبُ ْوٌا َع ْن َرِعيَّتِِه َوالْ َمْرأَةُ  ِ ِْف ب َْي ِت َزْوِج َه  َرا ِعيَ ٌ َوَم ْسبُ ْولَ ٌ َع ْن َرِعيَّتَِه  َوا ْْلَ  ِ  ُ  ِ ِْف َم ِا  َسيِّ ِداِ


Suami/Ayah
َوالَّر ُج ُل
Pemimpin
َراٍع
Istri/ Ibu
َوأملْرَع ُ
Yang dipimpinnya
َرأ ِعيَّتِِه
Pembantu
َوا ْْلَ ِ ُ 
Imam/pemimpin
formal
اْاَم ُ 

Kandungan Ayat & Hadits

Dalam ayat 6 ini Allah memerintahkan kepada umat manusia yang percaya kepada Allah dan RasulNya agar mereka menjaga dirinya dan keluarganya dari siksaan api neraka yang bahan bakarnya terdiri dari manusia dan batu, yaitu dengan taat dan patuh melaksanakan perintah dan meninggalkan laranganNya dan mengajarkan kepada keluarganya supaya mereka melaksanakan perintah agama dan meninggalkan apa yang dilarangnya sehingga mereka selamat dari kobaran api neraka.
Dalam suatu riwayat, dinyatakan bahwa pada saat ayat ini turun, Umar bin Khotob berkata : Wahai Rasululloh, kami sudah menjaga diri kami, tetapi bagaimana menjaga keluarga kami? Rasulullah bersabda : “Laranglah mereka mengerjAKAN SESUATU yang kamu dilarang melakukannya, dan serulah mereka melakukan sesuatu yang kamu diperintahkan oleh Allah untuk melakukannya.”


Ibnu Abbas menafsirkan kata kata “quu anfusakum wa ahliikum naaro dengan “ beramallah kamu dengan ketaatan kepada Allah dan takutlah kamu akan maksiat kepadanya dan perintahkanlah keluargamu dengan mengingat Allah niscaya Allah akan melepaskan kamu dari api neraka. Menurut Sayyidina Ali : ajarkanlah dirimu dan keluargamu kebaikan dan didiklah mereka”. Begitulah cara menghindarkan mereka dari siksaan api neraka.
Berdasarkan ayat di atas, terdapat dua teori perubahan sosial sesuai kaca mata ilmu sosial (SOsiologi). Pertama ; proses perubahan yang dimulai dari diri manusia secara individual (perorangan) kemudian dilanjutkan dengan perubahan sosial level masyarakat dan kemudian diakhiri pada proses perubahan pada level sistem sains dan teknologi. Kedua; proses perubahan sosial yang dimulai dari perubahan sistem sain dan teknologi, kemudian merambat pada perubahan level masyarakat, dan diakhiri pada perubahan level individual.
Surah at-tahrim ayat 6 di atas menganut sistem perubahan level pertama, yang dapat dipahami bahwa perubahan pada diri manusia (secara individual) mencakup keilmuan, akhlak, pengetahuan dan perilaku (merupakan faktor-faktor yang bisa menyelamatkan manusia dari api neraka).
Dalam sebuah riwayat yang bersumber dari Rafi’I, telah datang seseorang tamu mengunjungi Nabi Muhammad SAW, dan kebetulan saat itu di rumah Nabi tidak tersedia bahan makan yang akan disuguhkan kepadanya, lalu menyuruhnya untuk meminjam gandum kepada orang Yahudi dan akan digantikan Rasul pada bulan Rajab nanti. Tetapi apa yang terjadi, orang Yahudi itu tidak mau meminjamkannya kecuali dengan jaminan, maka dia kembali menghadap Rasulullah dan beliau bersabda : demi Allah aku ini orang yang paling dipercaya di langit dan di bumi. Kalau orang Yahudi itu mau meminjamkan atau manjual sesuatu kepadaku pasti aku membayarnya. Bawahlah baju besiku ini sebagai jaminannya, belum lagi aku keluar dari rumah Nabi turunlah ayat 132 ini seakan-akan sebagai hiburan bagi diri Nabi atas kemiskinan itu.
Dalam ayat 132 tersebut, Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad SAW, agar menyeru kepada keluarganya untuk melaksanakan sholat, sebagaimana perintah mendirikan shalat kepada diri sendiri. Dan perintah untuk tidak tergiur dengan dengan kekayaan dan kenikmatan yang dimiliki orang-orang kafir.
Dalam ayat 70 ini Allah memerintahkan epada Nabi Muhammad SAW dan orang-orang yang beriman agar meninggalkan dan memutuskan hubungan dengan orang-orang yang menjadikan agama islam sebagai main-main dan senda gurau dengan memperolok-olokan agama itu, mengerjakan perintah-perintahnya dan menghentikan larangan-laranganNya atas dasar main-main tidak dengan sungguh-sungguh. Mereka tidak membersihkan diri mereka dan tidak memperbaiki budi pekerti mereka sebagaimana yang telah dicotohkan oleh Nabi Muhammad SAW, mereka lua akan pertemuan dengan Allah untuk mempertanggung jawabkan semua perbuatan semasa hidupnya di akhirat nanti, mereka menyia-nyiakan waktu mereka dengan perbuatan yang merugikan diri mereka sendiri.
Secara umum ayat ini menjelaskan tentang kewajiban manusia kepada Allah SWT, dan kepada sesamanya. Perintah ibadah itu bukan saja ibadah mahdhah atau ritual yaitu ibadah yang cara, kadar dan waktunya telah ditentukan oleh Allah, seperti shalat, zakat, puasa, haji. Tetapi ibadah juga mecakup ibadah ghairu mahdhah yaitu semua pekerjaan baik yang dikerjakan dalam rangka patuh kepada Allah SWT semata bukan karena yang lain seperti membantu fakir miskin, memelihara anak yatim, dan mengajar orang yang pelaksanaan dan tata caranya tidak diatur secara rinci dan di lapangan diserahkan kepada individu yang bersangkutan untuk melaksanakannya.
Selanjutnya Dalam ayat 36 ini, Allah mengatur kewajiban manusia untuk berbuat baik kepada kedua orang tua, berbuat baik kepada karib kerabat, setelah itu berlanjut berbuat baik kepada anak-anak yatim dan orang-orang miskin, semua perbuatan baik itu didasarkan kepada tuntunan agama dan rasa kemanusiaan yang tinggi sebagai realisasi dari ketaqwaan

kepada Allah SWT. Selanjutnya Allah memerintahkan berbuat baik kepada tetanga baik yang dekat maupun jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahaya. Diakhir ayat tersebut, Allah menegaskan bahwa DIa tidak suka kepada sifat sombong da membanggakan diri, keduanya mengandung makna kesombongan, kata mukhtal memiliki makna kesombongan yang terlihat dalam tingkah laku dan kata kesmbongan yang terlihat dalam ucapan-ucapannya.
Pada ayat 117 Allah menjelaskan kepada kita bahwa Dia tidak akan membianasakan suatu negeri selama penduduk negeri itu masih suka berbuat kebaikan, tidak berbuat zalim, tidak suka mengurangi timbangan seperti umat Nabi Syu’aib, tidak melakukan perbuatan liwat (homo seksual) seperti umat Nabi Lut, tidak patuh kejam dan bengis seperti Raja Fir’aun, yang demikian itu adalah suatu kezaliman.
Pada ayat 118, Allah menjelaskan bahwa apabila Dia menghendaki sebagian umat yang satu dalam beragama sesuai dengan asal fitrah kejadiannya, tidak mempunyai usaha (ikhtiar), mereka itu sama seperti semutdan lemah didalam hidup bermasyarakat, dan malaikat dalam hidup kerohanian, yang diciptakan hanya untuk taat kepada Allah, berakidah benar dan tidak pernah curang, tetapi Allah menciptakan manusia itu dilengkapi dengan akal, sehingga mereka itu mempunyai usaha berbuat dengan ikhtiar tanpa ada paksaan dan dijadikan berbeda-beda tentang kemampuan dan pengetahuannya.
Pada ayat 119, Allah menjelaskan bahwa tidak saja berselisih tentang agama yang dianut oleh masing-masing kaum, seperti agama Yahudi, Nashrani, Majusi dan Islam, tetapi penganut satu agama sering berselisih, kecuali orang-orang yang mendapatkan rahmat , taufik dan hidayahnya, mereka itu bersatu dan selalu mengupayakan persatuan agar manusia tetap pada ketentuan Allah SWT, mengerjakan yang diperintahkan dan menjauhi yang dilarang. Diakhir ayat ini ditegaskan bahwa; telah menjadi ketentuan –Nya akan memenuhi neraka jahannam itu dengan manusia dan jin, yaitu mereka yang selalu berbuat keonaran dan jahat di muka bumi ini.
Hadits di atas menjelaskan kepada kita semua bahwa setiap manusia itu diberi tugas memimpin atau menjaga. Baik kaitannya dengan diri sendiri. Pemuka atau Imam diberi tugas untuk mempimpin rakyatnya. Suami bertugas memimpin dan menjaga isterinya. Seorang isteri diberi amanat memimpin anak-anak suaminya. Pembantu diberi tugas menjaga harta atau kekayaan tuannya dan anak diberi tugas menjaga kekayaan orang tuanya. Tugas adalah amanat, apapun jabatan yang ada pada diri seseorang, dia harus mempertanggungjawabkan tugas yang dibebankan pada dirinya dihadapan Allah kelak.
Perilaku orang yang bertanggung jawab terhadap keluarga dan masyarakat
Sikap dan perilaku yang dapat dilakukan sebagai penghayatan dan pengamalan QS. At- Tahrim ayat 6 sebagai berikut :
1.         Selalu taat dan patuh melaksanakan perintah Allah dan meningalkan larangan-Nya serta mendidik keluarga agar selamat dari api neraka.
2.         Berperilaku taat dan patuh kepada perintah Allah dimulai dari diri sendiri terlebih dahulu baru menyuruh orang lain.

Sikap dan perilaku yang dapat dilakukan sebagai penghayatan dan pengamalan QS. Toha ayat 132 sebagai berikut :
1.         Selalu  mendidik   keluarga   untuk   melaksanakan      shalat   dan    bersabar   dalam pelaksanaannya.
2.         Sebelum mendidik, menyuruh keluarga untuk melaksanakan shalat, terlebih dahulu seseorang melaksanakannya.

Sikap dan perilaku yang dapat dilakukan sebagai penghayatan dan pengamalan QS. Al- an’am ayat 70 sebagai berikut :
1.         Senantiasa bergaul dengan orang-orang yang tidak menjadikan agama sebagai permainan dan senda gurau.
2.         Selalu mengisi waktu dengan perbuatan yang bermanfaat.

Sikap dan perilaku yang dapat dilakukan sebagai penghayatan dan pengamalan QS. An- Nisa ayat 36 sebagai berikut :
1.         Selalu melaksanakan ibadah baik dalam artian sempit (ibadah mahdhah) dan dalam artian luas (ghairu mahdhah).
2.         Selalu berbakti kepada kedua orang tua.
3.         Selalu berbuat baik kepada karib kerabat.
4.         Selalu berbuat baik kepada anak yatim, orang-orang miskin, tetangga baik yg dekat atau yg jauh, teman sejawat, ibnu sabiil dan hamba sahaya.
5.         Selalu menjauhkan diri dari sifat dan sikap sombong.

Sikap dan perilaku yang dapat dilakukan sebagai penghayatan dan pengamalan QS. Hud ayat 117-119 sebagai berikut :
1.         Menghindarkan diri dari perbuatan zalim yang menyebabkan kemurkaan Allah.
2.         Selalu mengoptimalkan akal dan pikiran kita dalam menjalani kehidupan.
3.         Senantiasa menjaga persatuan dan kesatuan.

Rangkuman :
Kandungan QS. At-Tahrim ayat 6 :
·         Perintah kepada orang-orang mukmin terutama orang tua untuk menjaga dirinya sendiri keluarga dan anak-anaknya dari siksaan api neraka.
·         Peritah menjaga diri dan keluarga tersebut dilakukan dengan cara mengerjakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.
·         Perintah untuk mendidik keluarga dan anak-anak yang baik, berbudi luhur dan berilmu yang bermanfaat.
·         Sikap memanjakan anak berarti membunuh anak itu sendiri.
·         Penjaga neraka adalah malaikat yang kuat, keras dan kasar, taat dan patuh terhadap perintah Allah dan selalu mengerjakan apa-apa yang diperintahkan kepadanya. Umat islam diperintahkan oleh Allah untuk mempunyai keturunan yang shaleh dan sejahtera serta bahagia dunia dan akhirat.
·         Allah tidak menyukai bila hambaNya meninggalkan keturunan dalam keadaan lemah yang hanya akan menjadi beban masyarakat.
·         Mendidik anak dengan didikan yang baik dan mensejahterakan mereka menjadi beban dan tanggung jawab orang tua.
Kandungan QS. Toha ayat 132 :
·         Perintah kepada keluarga untuk mendirikan shalat dan bersabar dalam mengerjakannya.
·         Yang berhak memberikan rizki kepada manusia adalah ALlah.
·         Perintah untuk selalu memohon dibukakan pintu rizki kepada ALlah. Kandungan QS. Al-an’am ayat 70 :
·         Perintah untuk menjauhi orang-orang yang menjadikan agama sebaga permainan dan senda gurau.
·         Perintah untuk selalu mengisi waktu dengan kegiatan yang positif

Kandungan QS. An-Nisa ayat 36 :
·         Perintah untuk beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya.
·         Perintah untuk berbakti kepada kedua orang tua.
·         Perintah untuk berbuat baik kepada karib kerabat, anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahaya.
·         Perintah agar menjauhkan diri dari sifat dan sikap sombong.


Kandungan QS. Hud ayat 117-119 :
·         Perintah untuk menghindarkan diri dari perbuatan zalim.
·         Perintah untuk mengoptimalkan akal dan fikiran dalam dalam menjalani kehidupan.
·         Perintah untuk selalu menjaga persatuan dan kesatuan.

Kandungan     Hadits   :     Setiap   manusia  adalah   pemimpin   yang   akan   diminta pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya kelak.

No comments:

Post a Comment