BAB VIII
BETAPA GIATNYA AKU BEKERJA
A.
QS. Al-Jumu’ah ayat 9-11
QS. Al-Jumu’ah ayat 9-11
Mufrodat / Kosa
Kata
|
Maka bertebaranlah
kamu
|
فَ نْ تَ ِشُرْوا
|
Telah
diseru
|
ن
ُْوِ َي
|
|
Dimuka
bumi
|
ِِف اَْر ِض
|
Maka
segeralah kamu
|
فَ ْسَعْوا
|
|
Dan carilah
|
َوابْ تَ غُْوا
|
Dan
tinggalkanlah
|
َوَإُرْوا
|
|
Segera
menuju
|
نْ َ ُّضْوا
|
Jual beli
|
الْبَ ْي َع
|
|
Dan mereka
meninggalkan
|
َوتَ َرُكْوَك
|
Lebih
baik bagimu
|
َخْي ٌرلَ ُك ْم
|
|
permainan
|
الَّل ْه
ِو
|
Telah
dilaksanakan
|
قُ ِضيَ ِت
|
B.
QS. Al-Qashahs ayat 77
Mufrodat / Kosa Kata
|
Bagianmu
|
نَ ِصْيبَ َك
|
Dan
carilah
|
َوابْ تَِ
|
|
Dan berbuat baiklah
|
َوأَ ْح ِس ْن
|
Yg telah
dianugerahkan Allah kepadamu
|
تَ َك
|
|
Dan janganlah kamu
berbuat
|
َوالَ تَ ْب ِ
|
Negeri
akhirat
|
ال َّداَر ااَ ِخَرَة
|
|
Kerusakan
|
الَْ َس َ
|
Dan janganlah
kamu
lupakan
|
َوالَ تَ ْن َ
|
C.
Hadits tentang Etos Kerja
َ الَّر ُج ُل َك ْسبً أَطْيَ ُ ِم ْن َع َم ِل إَ ِداِ
َصَّلى ا ََّّللُ َعلَْيِه َو َسلَّ َم قَ َا : َم َك َس
َع ِن الْ ِمْق َداِ بْ ِن َم ْع ِد ْى َكِر َب الُّ بَ ِد ِّي َع ْن َر ُسْوِا ا َّّللِ
Mufrodat / Kosa Kata
َص َدقَ ٌ ( رواا ابن م جه )
َعلَى ن َْ ِسِه َو أَْ لِِه َوَولِ ِداِ َو َخ ِ ِمِه فَ ُهَو
الَّر ُج ُل
َوَمأ
أَنْ َ َ
|
Diinfakan
|
أَنْ َ َ
|
Usaha
|
َك َس َ
|
|
Diri
sendiri
|
نَ ْ ِسِه
|
Seseorang
laki-laki
|
أَلَّر ُج ُل
|
|
Dan keluarganya
|
َوأَْ لِِه
|
Yg lebih baik
|
أَطْيَ ُ
|
|
Dan pembantunya
|
َو َخ ِ َمهُ
|
Dari hasil tangannya
sendiri
|
َع َم ِل إَ ِداِ
|
KANDUNGAN AYAT DAN HADITS
QS.
AL-Jumu’ah ayat 9 berkenaan dengan
seruan Allah SWT kepada orang-orang beriman agar mendirikan shalat
jum’at. Abdullah bin ‘Umar, Anas
bin Malik, Abu Hurairah
Raduyallohu
anhum berpendapat bahwa
dalam suatu kota batas 6 mil wajib bersegera pergi menunaikan shalat jum’at. Menurut
Rabi’ah, batas shalat
jum’at adalah 4 mil. Menurut
Imam Malik dan Laits
adalah 3 mil.
Menurut Imam Syafi’I
ukurannya adalah suara
muadzin yang sangat lantang. Menueur hadits shohih yang
diriwayatkan Bukhori yang berasal dari Aisyah
bahwa penduduk kampung
ketinggian / pegunungan di Madinah, datang
pergi shalat jum’at dari kampung mereka, yang
jaraknya jauh sekitar 3 mil. Imam Abu Hanifah dan murid- muridnya bahwa wajib
hukumnya shoalat jum’at bagi penduduk luar kota, baik yang mendengar adzan maupun
tidak, maka menurut
mereka tidak wajib shalat jum’at.
Pendapat ini ditafsirkan bahwa setiap kota wajib mendirikan shalat jum’at.
Lafadz kata
fas’au ilaa dzikrillahi pada ayat di atas yag berarti maka segerah mengingat Allah. Maksud kalimat tersebut
adalah gabungan dari sejak adzan,
khutbatain, iqaamah dan shalat jum’at. Bahkan Said bin Zubair
berpendapat bahwa khutbah
adalah wajib semuanya. Kemudian kata
wadzarul bai’ yang artinya tinggalkanlah jual beli, memiliki
makna bahwa kalau sudah waktunya shalat jum’at hendaknya segala
macam kesibukan, seperti jual beli, perniagaan
dan lain-lain segera
ditinggalkan. Ini menunjukan kerasnya perintah sholat
jum’at bagi orang-orang yang
berima.
Pada ayat
10, Allah melanjutkan seruannya, yaitu apabila
telah selesai melakukan shalat, segerahlah mencari
karunia Allah, boleh
bertebaran kembali di muka bumi,
mengerjakan urusan duniawi, dan berusaha mencari
rizki yang baik
dan halal. Di akhr ayat
tersebut, Allah menganjurkan agar banyak melakukan dzikir, supaya
manusia peroleh keuntungan. Dzikir artinya ingat atau menyebut dzikrullah adalah bagian terpenting dalam keidupan umat Islam,
baik dalam kaitannya dengan masalah
akidah, ‘ubudiyah dan akhlak baik
dalam hubungannya dengan Allah maupun dengan
sesama manusia.
AYat 11 diawali dengan
pernyataan Allah tentang
sikap sebagian orang-orang mukmin yang masih silau
dengan perniagaan, dengan
duniawi padahal mereka
sedang mendengarkan khutnah Nabi Muhammad SAW.
Diceriterakan
pada waktu Nabi sedang khutbah jum’at datang rombongan unta. Yaitu kafilah dagang
dan diadakan penyambutan secara ramai, termasuk orang-orang mukmin yang sedang mendengar khutbah. Mereka keluar
dari masjid untuk
menyambut kafilah dagang tersebut. Asbabun
Nuzul ayat berkenaan dengan peristiwa tersebut,
waktu rombngan dagang yang dipimpin oleh Dihyah AL-Kalby tiba di Syam (Suriah)
dengan membawa dagangannya seperti tepung,
gandum, minyak dan lain-lain, sebagai kebiasaan ketika tiba rombongan
dagang mereka sambut dengan menabuh gendang sebagai sebagai pemberitahuan atas kedaangan
rombongan itusupaya orang-orang datang belanja membeli dagangan yang dibawanya.
Diakhir ayat Allah mengingatkan bahwa apa yang ada di sisi Allah adalah lebih baik dari pada permainan dan perdagangan. Keridhoan dari pahala
Allah itu jauh lebih baik dari pada yang
diusahakan manusia.
Diawal ayat 77 ini Allah memerintahkan
agar orang-orang yang beriman dapat menciptakan keseimbangan antara usaha untuk
memperoleh keperluan duniawi dan keperluan ukhrawi. Tidak mengejar salah
satunya dengan cara
meninggalkan yang lain.
Nabi Muhammad mencela orang-orang yang hanya mengejar
akhirat dengan meninggalkan urusan duniawi. Apalagi menjadi beban bagi orang lain
dalam nafkah. Pernah Rasulullah mendapatkan seorang
anak muda yang
selalu berada di masjid, maka
Beliau bertanya kepada para sahabat; siapakah yang
memberi nafkahnya ? jawab sahabat; ayahnya ! Beliau melanjutkan perkataannya : ayahnya lebih
baik dari ada
anak itu. Dia semestinya mencari nafkah sehingga tidak menjadi
beban bagi orang
lain.
Selanjutnya
ayat ini juga memerintahkan kepada manusia untuk berbuat baik kepada Allah dan kepada sesama
manusia. Kewajiban berbuat
baik ini sebagai
perwujudan sifat-sifat Allah yang Maha Rahman
dan Rahiim kepada
seluruh makhlukNya. Bentuk
perbuatan baik itu dapat dikategorikan menjadi empat hal, yaitu :
1.
Berbuat
baik pada nikmat Allah berupa harta. Kemewahan dan harta yang berlimpah tidak
boleh menjadikan dirinya lupa diri dan lupa terhadap kehidupan akhirat. Bentuk
perbuatannya adalah menggunakan harta untuk memberi nafkah keluarga, menyantuni
anak yatim, maupun untuk biaya pendidikan keluarga.
2.
Berbuat baik kepada diri dengan
memelihara kehidupan dirinya
di dunia, namun tidak boleh bertentangan
dengan ajaran Islam. Bentuk perbuatan ini seperti ; makan, minum, berpakaian,
beragama, berkeluarga, bekerja dan bermasyarakat.
3.
Berbuat baik sebagaimana diajarkan Allah sebagai wujud pelaksanaan kewajiban
muslim, yaitu selalu mentaati perintah Allah melalui
ibadah dan menjauhi
larangan-larangan Nya.
4.
Berbuat baik dengan tidak berbuat kerusakan di muka bumi. Manusia sebagai
khalifah di muka bumi
ternyata telah banyak menyia-nyiakan amanh Allah. Dalam QS. Ar-ruum ayat 41
dijelaskan bahwa kerusakan di muka
bumi baik di darat maupun
di laut adalah
akibat dari ulah
tangan manusia.
Hadits di atas merupakan
motivasi dari nabi kepada kamu muslimin untuk memiliki etos kerja yang tinggi. Kita harus giat bekerja untuk
memenuhi kebutuhan hidup
diri dan keluarga. Bahkan dikatakan Nabi bahwa
tidak ada yang lebih baik dari usaha seseorang kecuali hasil kerjanya sendiri. Nilai mulia
bukan hanya dari sisi memperolehnya saja, membelanjakannyapun untuk
anak, istri, dan pembantu dinilai
sedekah oleh Allah.
Dalam hadits yang lain Nabi mengajarkan kepada kita sebuah
doa yang sangat
indah sekaligus
memotivasi kita untuk memiliki etos kerja yang
tinggi, sebagai berikut :
َح َّدث َنَ أنَ بْ ُن َم لِ ٍك قَ َا:
َك َإ َر ُسلُْوا
ُا ا
ََّّللِ َصلَّى ا ََّّللُ َعلَْيِه َو َسلَّ َم أللَُّه َّم ِّا أَ
ُعْوإُ بِ َك ِم َن الَْع
ْ ِ َوالْ
َك َس ِل َوا ْْلُْ ِْب وا ْ
َرِ والْبُ ْخ
ِل َوأَ
ُعْوإُبِ َك ِم ْن
َ َ
َ
ِ ِ ِ ِ ُ ِ
َع
َذاب الَْقِِْب َوم ْن فتْ نَ الْ
َم ْحيَ َوالْ
َم َم ت (رواا مسلم )
Telah menceriterakan kepada kami Anas bin Malik, dia
berkata: Rasulullah pernah berdoa; Ya
Allah, aku berlindung kepadamu
dari kelemahan, kemalasan, rasa takut, kepikunan dan kekikiran. Dan aku juga berlindung kepadamu dari siksa kubur serta bencadupan
dan kehidupan dan kematian.
Hadits inijelas
menunjukan bahwa Islam sangat menekankan pada pentingnya bekerja keras serta
sangat tidak mengajarkan umatnya menjadi pemalas, lemah, apalagi menjadi peminta-minta. Sebagaimana sabda
Nabi :
َع ْن ِ َش ِ بْ ِن عُْرَوَة َع ْن أَبِْيِه َع ْن َج
ِّداِ قَ َا : قَ َا َر ُسْوُا ا
ََّّللِ َصلَّى ا ََّّللُ َعلَْيِه َو َسلَّ َم : َاَ ْإ إَأَ
ُخ َذ أَ
َح ُدُك ْم أَ
ْحُب لُهُ َف يَأْتََِي ا ْْلَبَ َل
َف يَ ِ ْي َئ ِِبُْ َمِ َح َ ٍ َعلَى
َْهِرِا َف يَبِيْ َع َه َف يَ ْسَت ْغِِْن بِ َ َمنَِه َخْي ٌر لَهُ ِم
ْن أَ ْإ إَ ْسأََا النَّ َس أَ ْع َْواُ أَْو َمنَ ُعْواُ (رواا ابن م جه )
Dari Hasyim bin ‘urwah, dari kakeknya ia berkata ;
Rasulullah SAW bersabda; “sekiranya
salah seorang dari kalian mengambil tali dan membawanya ke gunung, lalu ia datang
dengan membawa satu ikat kayu di atas
punggungnya, kemudian menjualnya sehingga
dapat memenuhi kebutuhannya adalah lebih baik
dari pada meminta-minta manusia, baik mereka memberi
ataupun tidak” (HR. Ibnu Majah)
Perilaku dan
orang-orang yang memiliki etos kerja tinggi
Sikap dan perilaku yang dapat diterapkan sebagai penghayatan dan pengamalan QS. AL-
Jumu’ah ayat 9-11 adalah ;
1.
Segera menunaikan shalat jum’at manakala
telah mendengar seruan adzan di hari jum’at seraya segera
meninggalkan aktifitas keseharian kita.
2.
Pada saat
menunaikan ibadah sholat jum’at, senantiasa memperhatikan khotib dan melupakan sementara aktifitas kerjanya untuk mengingat Allah
SWT.
3.
Ketika shalat
jum’at telah usai
dilaksanakan segera melanjutkan aktivitas semula.
Sikap
dan perilaku yang
dapat diterapkan sebagai
penghayatan dan pengamalan QS. AL- Qhashahs ayat 77 adalah ;
1.
Senantiasa menyeimbangkan kegiatan yang menyangkut urusan akhirat dan dunia..
2.
Manakala sedang mengerjakan ibadah, kita senantiasa bersungguh-sungguh dan penuh kekhusyuan. Demikian juga
sebaliknya, saat bekerja senantiasa serius dan giat penuh tanggungjawab.
3.
Senantiasa berbuat
baik kepada sesama
dan tidak membuat
kerusakan.
Sikap dan perilaku yang dapat diterapkan sebagai penghayatan dan pengamalan Hadits adalah ;
1.
Senantiasa bekerja
mandiri, tidak mengharapkan uluran tangan orang
lain.
2.
Apapun pekerjaannya senantiasa dinikmati dgn ikhlas, yg tentunya dlm
pekerjaan yg halal.
Rangkuman
Kandungan QS. AL-Jumu’ah ayat 9-11 adalah :
1.
Perintah kepada
orang beriman untuk
wajib mengerjakan sholat
jum’at pada setiap
hari jum’at dengan meninggalkan semua kesibukan dunia.
2.
Anjuran kepada orang-orang beriman, apabila telah melaksanakan ibadah
kepada Allah, kembali melanjutkan kegiatan-kegiatannya, baik itu berdagang, bertani,
bekerja di kantor dan lain-lain.
3.
Perintah Allah
kepada orang-orang beriman
agar memperbanyak dzikir
kepada Allah
Kandungan QS. AL-Qhashahs ayat 77 adalah :
1.
Perintah Allah
kpada manusia agar
senantiasa menyeimbanglan urusan
dunia dan akhirat.
2.
Penegasan Allah bahwa apa yang ada di sisi Allah itu lebih baik dari pada apa yang diperoleh manusia.
3.
Senantiasa berbuat baik
kepada Alah, sesama
manusia serta tidak
membuat kerusakan di muka bumi.
Kandungan Hadits :
1.
Perintah
Nabi kepada umatnya untuk selalu bekerja mandiri, tidak bergantung dan menjadi beban kepada orang lain.
2.
Semua pekerjaan harus dilaksanakan dengan ikhlas dan
pekerjaan yang halal.
3.
Sifat lemah,
malas, penakutadalah sifat-sifat negativ yang sering
bersarang dalam diri manusia. Karena itu sifat-sifat itu harus dibuang
dari kehidupan manusia.
4.
Untuk menghilangkan sifat-sifat tersebut, hrs bekerja keras
sambil berdoa kpd Allah SWT.
5.
Nabi menganjurkan agar selalu memohon kepada Allah, agar dihindarkan diri
dari ujian hidup dan mati,
yaitu diluluskan dalam
menghadapi segala macam
ujian Allah SWT.
No comments:
Post a Comment